Payakumbuh,Sumbar,Tipikorinvestigasinews.id– 11 Febuari 2026.Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Provinsi Banten menjadi panggung bagi Pemerintah Kota Payakumbuh.Untuk menebar pujian setinggi langit bagi insan pers. Namun, di balik orasi hangat tentang “mitra strategis”, terselip kisah pilu yang dirasakan langsung oleh 43 wartawan asal Kota Payakumbuh yang hadir di lokasi.
Wakil Wali Kota Payakumbuh, Elzadaswarman (Om Zet), yang mewakili Wali Kota Zulmaeta, bersama Ketua DPRD Kota Payakumbuh, Wirman, tampak hadir dalam perhelatan akbar tersebut. Dalam sambutannya, Om Zet menegaskan bahwa pers adalah pilar pembangunan. Namun sayangnya, kedaulatan “silaturahmi” justru tampak luntur saat acara puncak berlangsung.
Alih-alih menjadi ajang mempererat hubungan seperti yang dipidatokan, 43 wartawan yang jauh-jauh datang dari Payakumbuh justru merasa diabaikan oleh pemimpinnya sendiri. Hingga acara berakhir, tak ada momen tatap muka atau tegur sapa antara kedua pucuk pimpinan daerah tersebut dengan awak media dari daerah asalnya.
“Kami merasa iba hati. Di podium kami disebut mitra strategis, tapi di lapangan, jangankan disapa, bertemu pun tidak. Seolah ada dinding pembatas yang tebal antara pejabat dan wartawannya sendiri di tanah rantau,” ungkap salah satu wartawan dengan nada kecewa.
Ironisnya, kekecewaan terhadap pemimpin sendiri ini sedikit terobati oleh keramahan tuan rumah. Berbanding terbalik dengan sikap dingin pejabat Payakumbuh, para kuli tinta ini justru disambut dengan tangan terbuka oleh Gubernur Banten di Rumah Pendopo pada hari pertama.
“Biarin sajalah. Setidaknya di hari pertama kita sudah disambut hangat oleh Gubernur Banten di Pendopo. Itu sudah jadi paubek hati nan luko (obat hati yang luka). Kami sudah merasa senang dalam hati dihargai oleh orang lain,” ujar salah seorang wartawan, menyindir halus ketidakpedulian pimpinan daerahnya.
Kehadiran Ketua DPRD Wirman yang diharapkan bisa menjadi jembatan aspirasi, justru menambah daftar kekecewaan visual. Kehadiran fisik kedua pemimpin ini di Banten seolah hanya menjadi pemenuhan agenda seremonial, tanpa menyentuh esensi kebersamaan dengan insan pers yang mereka puji-puji dalam teks pidato.
Jika pers disebut sebagai “mitra strategis”, publik tentu berharap kemitraan itu bukan sekadar bumbu pemanis di atas kertas. Karena bagi 43 wartawan Payakumbuh, janji kolaborasi itu terasa hambar ketika pemimpin daerah sendiri justru kalah ramah dibandingkan gubernur tetangga.
( Mahwel ).







____________________________________________
