SEKADAU, http://tipikorinvestigasinews.id-Selasa 16 Juni 2026-Provinsi Kalimantan Barat,Kinerja keuangan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Bersih Sirin Meragun Kabupaten Sekadau tahun buku 2023–2024 menunjukkan lonjakan signifikan di atas kertas.
Namun, di balik performa impresif tersebut, potret infrastruktur di lapangan dan skema tarif progresif memicu pertanyaan dari elemen masyarakat.
Berdasarkan dokumen laporan keuangan resmi yang diperoleh redaksi, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemkab Sekadau ini membukukan laba bersih sebesar Rp861.772.226 pada tahun anggaran 2024.
Angka ini meroket tajam 224% dibandingkan laba bersih tahun 2023 yang tercatat sebesar Rp265.461.854.
Pertumbuhan laba yang signifikan ini ditopang oleh Pendapatan Usaha yang mencapai Rp13,57 miliar, dibarengi dengan langkah efisiensi yang menekan beban usaha turun menjadi Rp12,60 milar pada 2024.
Beban Penyusutan Rp5,8 Miliar Jadi Sorotan
Meskipun mencatatkan tren keuangan positif, rincian beban usaha Perumda Sirin Meragun memantik perhatian publik.
Salah satu komponen biaya yang dinilai mencolok adalah Beban Penyusutan aset yang mencapai Rp5.813.348.551 pada tahun 2024.
Nilai penyusutan ini menjadi porsi terbesar dalam struktur beban usaha perusahaan, bahkan melampaui beban operasional (Rp2,54 miliar) dan beban pegawai (Rp2,88 miliar).
Besarnya angka tersebut dinilai kontras oleh sebagian warga dengan realita fasilitas di lapangan.
Berdasarkan pantauan visual di beberapa titik, terdapat indikasi jaringan pipa dan komponen instalasi penting yang kondisinya kurang terawat, seperti ditumbuhi semak belukar, berkarat, dan mengalami sedimentasi.
Hal inilah yang kemudian memunculkan spekulasi dan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai efektivitas pengelolaan aset negara.
Untuk pos pemeliharaan fisik langsung, seperti penggantian jaringan pipa atau perbaikan kerusakan paralon, manajemen mengalokasikannya pada pos Beban Pemeliharaan sebesar Rp204.167.111 pada tahun 2024.
Memahami Regulasi Akuntansi Korporasi
Guna menjaga keberimbangan informasi, jika ditinjau dari standar regulasi akuntansi korporasi, besarnya angka beban penyusutan (depresiasi) sebenarnya tidak merepresentasikan realisasi anggaran perbaikan fisik secara langsung di lapangan setiap tahunnya.
Nilai tersebut merupakan kalkulasi matematis atas nilai total kapitalisasi aset tetap yang dimiliki, seperti Instalasi Pengolahan Air (IPA), jaringan pipa induk, mesin pompa, serta bangunan operasional yang nilainya menyusut seiring berjalannya waktu sesuai umur ekonomis aset.
Dokumen laporan laba rugi tersebut telah ditandatangani secara resmi oleh Direktur Perumda Sirin Meragun, Yok Kelak, S.T., sebagai bentuk pertanggungjawaban manajemen atas kinerja keuangan perusahaan kepada publik dan Pemerintah Daerah selaku pemilik modal.
Keluhan Pelaku Usaha Terkait Tarif Progresif
Selain persoalan pengelolaan aset, penerapan tarif air progresif juga mendapat keluhan dari pelanggan, khususnya dari kalangan pelaku usaha skala besar yang merasa terbebani.
Sistem akumulasi tarif yang menetapkan biaya per kubik lebih tinggi seiring meningkatnya volume pemakaian dinilai kurang ramah terhadap efisiensi dunia usaha.
Dampaknya, muncul tren di mana sebagian pelaku usaha menyiasatinya dengan memasang beberapa titik meteran air (paralel) di satu lokasi guna menghindari akumulasi biaya tinggi.
Upaya Konfirmasi dan Transparansi
Hingga berita ini diturunkan, redaksi terus berupaya melakukan konfirmasi langsung dan memberikan ruang hak jawab kepada pihak manajemen Perumda Sirin Meragun serta Dewan Pengawas.
Langkah ini krusial dilakukan guna mendapatkan rincian Catatan atas Laporan Keuangan (CALK) terkait detail aset yang menyerap angka penyusutan tersebut, sekaligus memberikan kesempatan bagi manajemen untuk mengklarifikasi keluhan pelanggan terkait struktur tarif demi asas transparansi informasi publik.
Pewarta : Humas Rekdaksi Media Tipikor Investigasi News ID Kalbar:Rabudin Muhammad.
Sumber: Dokumen Resmi & Informasi Masyarakat Setempat.
Catatan: Ilustrasi visual infografis berita ini menggunakan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI).







____________________________________________
