Jakarta : tipikorinvestigasinews.id – Di antara ribuan anak muda Aceh yang tumbuh dengan mimpi besar di tengah keterbatasan, nama Dr. Iswadi, M.Pd. mencuat sebagai simbol bahwa harapan tidak pernah sia sia jika dibarengi dengan kerja keras, konsistensi, dan keyakinan. Kisahnya bermula dari tanah kelahirannya di Muara Tiga, Kabupaten Pidie daerah yang dikenal dengan nilai-nilai keislaman yang kuat dan semangat gotong royong yang kental.
Iswadi kecil tumbuh dalam lingkungan yang sederhana, di mana akses pendidikan tak semudah kota besar, namun semangat belajar menjadi budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sejak duduk di bangku sekolah menengah, Iswadi sudah menunjukkan ketertarikan pada dunia organisasi dan kepemimpinan. Baginya, pendidikan bukan hanya soal nilai rapor, tetapi soal membentuk karakter dan kontribusi untuk masyarakat.
Perjalanan pentingnya dimulai ketika ia bergabung dengan Pelajar Islam Indonesia (PII), sebuah organisasi pelajar yang memiliki akar sejarah panjang dalam mencetak pemimpin muda berbasis nilai keislaman dan kebangsaan. Dari sinilah mimpi besar Iswadi menemukan bentuknya. PII tidak hanya menjadi wadah pengembangan diri, tetapi juga kawah candradimuka tempat ia mengenal arti tanggung jawab, disiplin, dan keberpihakan pada kaum tertindas.
Sebagai anggota aktif, ia mengikuti berbagai pelatihan, diskusi, dan kegiatan sosial. Namun lebih dari itu, PII memberi ruang untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan keberanian untuk bermimpi lebih tinggi. Ia tak hanya menjadi peserta, tetapi berkembang menjadi penggerak. Tak heran, dalam waktu singkat, ia dipercaya memimpin sebagai Ketua Komisariat PII Kecamatan Muara Tiga.
Di bawah kepemimpinannya, komisariat tersebut menjadi salah satu yang paling aktif di wilayah Pidie. Ia memimpin dengan hati, mendengarkan suara sesama pelajar, dan menjadikan PII sebagai ruang aman bagi anak muda untuk belajar dan berekspresi. Program-program seperti literasi pelajar, pembinaan keislaman, hingga kegiatan sosial berbasis masyarakat ia gagas dengan semangat gotong royong. Dr. Iswadi muda tak hanya bicara visi, tapi juga turun langsung menggerakkan aksi.
Pengalaman di PII menjadi fondasi penting dalam perjalanan akademiknya. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, hingga akhirnya meraih gelar Doktor Pendidikan sebuah pencapaian gemilang yang tak semua orang dari latar belakangnya bisa raih. Namun bagi Iswadi, gelar itu bukanlah puncak, melainkan anak tangga berikutnya dalam pengabdian.
Jakarta, kota dengan segala dinamika dan tantangan, menjadi saksi perjalanan lanjutan Dr. Iswadi. Berbekal pengalaman organisasi dan pendidikan yang kuat, ia menembus batas ruang akademik hingga menjadi bagian penting dari berbagai forum kebijakan pendidikan nasional. Ia aktif dalam advokasi kebijakan, menjadi narasumber dalam seminar-seminar strategis, serta menulis dan berbicara tentang pentingnya pemerataan akses pendidikan di Indonesia terutama bagi daerah-daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
Namun yang paling mengagumkan dari sosok Dr. Iswadi adalah kemampuannya menjaga integritas dan akar perjuangan. Di tengah pencapaiannya, ia tak pernah lupa asal-usulnya. Ia rutin berkomunikasi ke Aceh, menjadi mentor bagi pelajar-pelajar muda, serta mendorong lahirnya gerakan literasi dan penguatan pendidikan di tingkat lokal. Ia percaya bahwa kemajuan bangsa harus dimulai dari desa, dari daerah, dan dari pelajar yang sadar akan potensi dirinya.
Nama Dr. Iswadi kini identik dengan intelektual muda yang berintegritas. Sosoknya menjadi inspirasi, bukan hanya karena pencapaiannya, tapi karena nilai-nilai yang ia pegang teguh: kejujuran, kerja keras, pelayanan, dan keberanian bermimpi. Ia adalah bukti bahwa organisasi pelajar seperti PII tidak hanya mencetak aktivis, tapi juga pemimpin masa depan yang siap mengambil peran dalam pembangunan bangsa.
Bagi pelajar-pelajar di Pidie dan daerah-daerah lainnya, kisah Dr. Iswadi adalah pengingat bahwa tak ada mimpi yang terlalu tinggi bagi mereka yang bersungguh-sungguh. Bahwa seorang anak kampung dari Muara Tiga bisa berdiri di panggung nasional dan didengar oleh banyak orang. Bahwa segalanya mungkin asal mau berproses, tetap belajar, dan tidak melupakan nilai-nilai yang membentuk jati diri.
Dr. Iswadi tidak hanya membuktikan bahwa anak Pidie bisa sukses. Ia membuktikan bahwa anak muda Indonesia bisa menjadi pemimpin besar, asalkan tidak berhenti bermimpi, terus belajar, dan tak lelah mengabdi.
(Ads)







____________________________________________
