Boyolali, Jawa Tengah,tipikorinvestigasinews.id –Demi mendapatkan sinar matahari maksimal untuk mengeringkan daun tembakau hasil rajangan, para petani Boyolali rela turun gunung hingga ke wilayah Klaten. Perjuangan ini dilakukan untuk menjaga kualitas tembakau sekaligus mendapatkan harga jual terbaik.
Petani Boyolali Turun Gunung Cari Sinar Matahari
Seperti terlihat di lapangan bersama Janti dan Wangen, Kecamatan Polanharjo, di tepi Jl. Tegalgondo-Janti, Klaten, jumat(12/09/2025)
ratusan rigen atau alat jemur tembakau ditata rapi. Sebagian petani beristirahat di tempat teduh atau di bayangan pikap yang digunakan untuk mengangkut tembakau, sementara beberapa lainnya sibuk membalikkan rigen berisi tembakau.
Belasan petani hadir siang itu, dengan enam pikap digunakan untuk mengangkut rigen berisi tembakau panen rajangan. Meski terik matahari tak sepenuhnya maksimal, mereka tetap memantau cuaca. Beberapa duduk sambil bermain ponsel, sementara yang lain tertidur di tepian lapangan.
BISNIS EKONOMI SOLOPOS DATA NEWS REGIONAL ECO DUNIA SPORT UKSW UT SURAKARTA LIFESTYLE TEKNO HITS OTOMOTIF KOLOM RADIO FOTO VIDEO SEKOLAH INDEX
Berburu Panas Matahari, Petani Tembakau Boyolali Rela Turun Gunung ke Klaten
by Taufiq Sidik Prakoso – Espos.id
SOLOPOS – Jumat, 12 September 2025 – 06:45 WIB
ESPOS.ID – Petani menjemur tembakau di Lapangan Bersama Wangen-Janti di Kecamatan Polanharjo, Kamis (11/9/2025). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
Esposin, KLATEN – Demi mendapatkan sinar matahari maksimal untuk mengeringkan daun tembakau hasil rajangan, para petani Boyolali rela turun gunung hingga ke wilayah Klaten. Perjuangan ini dilakukan untuk menjaga kualitas tembakau sekaligus mendapatkan harga jual terbaik.
Petani Boyolali Turun Gunung Cari Sinar Matahari
Seperti terlihat di lapangan bersama Janti dan Wangen, Kecamatan Polanharjo, di tepi Jl. Tegalgondo-Janti, Klaten, Kamis (11/9/2025) siang, ratusan rigen atau alat jemur tembakau ditata rapi. Sebagian petani beristirahat di tempat teduh atau di bayangan pikap yang digunakan untuk mengangkut tembakau, sementara beberapa lainnya sibuk membalikkan rigen berisi tembakau.
Belasan petani hadir siang itu, dengan enam pikap digunakan untuk mengangkut rigen berisi tembakau panen rajangan. Meski terik matahari tak sepenuhnya maksimal, mereka tetap memantau cuaca. Beberapa duduk sambil bermain ponsel, sementara yang lain tertidur di tepian lapangan.
Dampak Cuaca dan Penjemuran Terhadap Kualitas Tembakau
Kebanyakan petani datang sendiri tanpa janjian. Mereka umumnya berasal dari Kecamatan Cepogo dan Selo, Boyolali, sentra utama tembakau. Harno, 47, warga Desa Jombong, Kecamatan Cepogo, mengaku baru hari itu mendatangi lokasi di Polanharjo karena wilayahnya sebelumnya diselimuti kabut.
“Pagi tadi informasinya hujan,” kata Harno. Demi mendapatkan sinar matahari yang cukup untuk mengeringkan daun tembakau dalam sehari, Harno rela menempuh perjalanan jauh. Banyak petani dari lereng Gunung Merapi dan Merbabu turun gunung mencari panas maksimal di dataran rendah, dengan ratusan kendaraan tersebar di berbagai wilayah.
Penjemuran tembakau hasil rajangan penting untuk menjaga kualitas. Jika bisa kering dalam satu hari, harga jualnya lebih tinggi dibanding kering dalam dua hari. “Kalau di sini bisa kering dalam sehari. Kalau di rumah butuh waktu dua hari,” jelas Harno.
Harga Tembakau dan Harapan Petani
Harga tembakau saat ini berkisar Rp50.000–Rp55.000 per kg, dengan kualitas terbaik mencapai Rp73.000 per kg. Harno juga menekankan pengaruh cuaca pada kualitas tembakau. Menurutnya, metode pengeringan daun tembakau hanya bisa mengandalkan sinar matahari, karena belum ada alat efektif yang menjaga kualitas daun.
“Sebenarnya kalau harapan kami itu cukai diturunkan agar petani bisa makmur. Karena cukai itu berpengaruh besar. Sejak 2012 sampai sekarang cukai naik terus. Otomatis produsen mengurangi produksi [hingga berpengaruh pada pembelian tembakau dari petani]. Akhirnya petani juga yang kena,” kata Harno
Petani lainnya, Joko, 43, dari Kecamatan Selo, Boyolali, rela menempuh perjalanan 1,5 jam dan mengeluarkan ongkos bensin demi menjemur tembakau rajangan agar cepat kering. “Sudah dua hari terakhir ini datang ke sini. Memang cari panasnya. Karena panasnya banyak,” ungkap Joko. Ia membawa 220 rigen dari rumahnya ke Polanharjo. “Dampaknya kalau musim kemarau basah seperti ini keringnya tidak bagus. Berpengaruh ke penjualan,” tambah Joko.
Penulis Agus chaerudin







____________________________________________
