Boyolali, Jawa Tengah,tipikorinvestigasinews.id –Peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus Guru Besar Universitas Bhayangkara Jaya (UBJ), Prof Hermawan Sulistyo menilai penurunan tingkat literasi generasi muda Indonesia terjadi, karena minimnya perhatian pemerintah dalam membangun budaya membaca.
“Karena pemerintah 90% pejabatnya kayak saya. Dokternya lupa ngembalikan otak. Dia tanya kenapa otak saya nggak dikembalikan. Dia bilang tenang aja Prof, pejabat juga nggak ada yang punya otak,” sindir Prof Hermawan .
Selasa (26/8/2025)
Membaca Buku dapat Menumbuhkan Imajinasi
Menurutnya, sebab yang kedua, karena masih minimnya upaya dari pihak pemerintah untuk mendorong literasi masyarakat. “Semua larinya ke sosmed, kehitungnya instan,” tambahnya.
Hermawan lalu menyinggung sikap penulis Jepang, Tetsuko Kuroyanagi, yang menolak karyanya difilmkan karena khawatir merusak daya imajinasi.
Film, kata dia, tidaklah imajinatif. Namun ia menilai dengan membaca buku, aktivitas itu dapat menumbuhkan imajinasi dan hal itu yang bisa membuat bangsa semakin maju.
Kebijakan Pendidikan harus Fokus, Agar Dapat Tingkatkan Literasi
Selain itu, ihwal solusi untuk meningkatkan literasi di kalangan Gen Z dan Milenial, Hermawan menekankan pentingnya fokus kebijakan pendidikan.
“Menteri pendidikannya suruh fokus. Nggak bisa seminggu ganti. Banyak orang yang mampu,” ujarnya.
Ia juga menekankan perlunya pejabat pendidikan memiliki kebiasaan membaca buku fundamental.
“Saya mau tanya mendikdasmen. Dia baca bukunya Michio Kaku nggak? Menristeknya, dia baca Michio Kaku nggak? Dia baca bukunya Tetsuko Kurayanagi nggak? Kalau nggak, jangan duduk di situ. Nanti korupsi aja.
Suruh baca Totto-chan (buku Tetsuko Kurayanagi). Kalau dia udah baca, bolehlah duduk di situ,” pungkas Hermawan.
Penulis Agus chaerudin







____________________________________________
