Limapuluh kota Sumbar , tipikorinvestigasinews.id — 11 Maret 2026, waktu itu 28 Februari 2026 – Klarifikasi dan permohonan maaf Bupati Lima Puluh Kota Safni Sikumbang terkait kasus video call seks (VCS) yang viral selama dua bulan terakhir langsung menusuk perasaan masyarakat. Warga Luak 50 , Zulhefrimen,SH. menilai klarifikasi tersebut sama sekali tidak menyentuh inti pertanyaan dan hanya berfungsi untuk mengelabui publik.
Dalam postingan yang menyebar luas melalui berbagai platform media sosial pada Sabtu (28/2), Safni menyampaikan tiga poin inti: menyatakan dirinya sebagai korban, mengecam keras pihak yang membuat dan menyebarluaskan video, serta memastikan fokus dan kinerjanya sebagai pemimpin tidak akan terganggu. Seluruh proses penanganan hukum telah diserahkan kepada kuasa hukumnya, Advokat Nuril Hidayati, M.H., dengan kasus saat ini dalam pengolahan Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Barat.
Namun respons tersebut justru memicu kecaman karena tidak menjawab pertanyaan pokok yang telah menggemparkan masyarakat luas.
“Kita tidak minta penjelasan panjang lebar. Hanya satu pertanyaan: apakah pelaku dalam VCS 30 detik itu benar-benar Bupati Safni? Jawaban ya atau tidak saja sudah cukup. Mengapa harus diputar-balikan dan tidak menyentuh substansi sama sekali?” tegas Zulhefrimen dalam keterangannya yang penuh kekhawatiran.
Ia menegaskan, meskipun ada kemungkinan klaim video merupakan hasil editan, fakta tak terbantahkan tentang latar belakang dipan berulir yang diduga berada di salah satu kamar Rumah Dinas Bupati membuat argumen tersebut sulit diterima oleh masyarakat.
“Jika benar-benar hasil editan, kenapa latar tempatnya persis dengan ruangan di rumah dinas? Ini bukan hal yang bisa disepelekan dan justru membuat warga semakin meragukan kebenaran apa yang disampaikan,” jelasnya.
Klaim Safni sebagai korban pemerasan juga menjadi titik sorotan tajam. Zulhefrimen,SH. mengajukan pertanyaan mendasar yang belum mendapatkan jawaban apapun: siapa pihak yang diduga melakukan pemerasan, dan apakah pelaku tersebut memang menguasai bukti video yang aktornya benar-benar Safni.
“Belum ada satu pun klarifikasi tentang identitas siapa yang memeras. Jangan-jangan sang pemeras benar-benar memiliki bukti yang sahih, sehingga klaim sebagai korban hanya menjadi alat untuk mengalihkan perhatian dari inti masalah,” tandasnya dengan tegas.
Kritikan lebih lanjut datang dari sisi ketidakkonsistenan Safni dalam membela diri. Zulhefrimen,SH. mengingatkan dua momen penting di masa lalu di mana Safni dengan penuh keyakinan bersumpah untuk membuktikan kebenarannya: saat dihadapkan isu dugaan ijazah Paket C palsu pada Pilkada 2024, serta dalam rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lima Puluh Kota pada tahun 2025.
“Pada kasus sebelumnya, beliau dengan tegas bersumpah demi Allah SWT dan menjunjung tinggi Kitab Suci Al-Qur’an untuk membuktikan dirinya tidak bersalah. Namun saat menghadapi kasus VCS ini, tidak ada tindakan serupa sama sekali. Mengapa sekarang berbeda? Ini yang membuat masyarakat semakin curiga akan kebenaran yang disampaikannya,” tegas Zulhefrimen .
Dia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga ketenangan dan mempercayakan proses hukum kepada aparat penegak hukum. Namun demikian, ia menegaskan bahwa transparansi yang sebenarnya dan jawaban yang jelas serta tegas dari pihak yang bersangkutan adalah hal yang mutlak dibutuhkan untuk mencegah kesalahpahaman dan menjaga keharmonisan di tengah masyarakat Lima Puluh Kota.
( Sukrianto )
⚖️ Tegakkan Keadilan, Perjuangkan Kebenaran







____________________________________________