Lestarikan Warisan Leluhur, Ribuan Pelayat Hadiri Ritual Rambu Solo Almarhumah Agustina Sambo Ma’dika di Mamasa

MAMASA, http://tipikorinvestigasinews.id – Desa Balla Satanetean, Kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, menjadi saksi digelarnya prosesi adat kedukaan yang agung dan sakral, Rambu Solo, untuk menghormati Almarhumah Agustina Sambo Ma’dika Palele, seorang tokoh bangsawan yang lahir pada 1 Juli 1933 dan wafat pada tahun 2025.

Sesuai tradisi luhur masyarakat Mamasa, jenazah almarhumah disemayamkan selama beberapa bulan sebelum akhirnya dihantarkan melalui ritual Rambu Solo yang berlangsung selama dua hari, yakni pada 26–27 Juni 2026.

Simbol Stratifikasi Sosial dan Tali Persaudaraan

Ketua Panitia Penyelenggara yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Balla Satanetean, Yusuf Rahmat, menjelaskan bahwa Rambu Solo bukan sekadar upacara kedukaan biasa. Di tanah Mamasa, ritual ini merupakan tradisi sakral yang umumnya dilaksanakan oleh keluarga tokoh terpandang atau kaum bangsawan.

“Besarnya antusiasme tamu yang hadir menunjukkan bahwa Rambu Solo bukan hanya sekadar upacara adat kematian, melainkan sebuah ruang sakral untuk mempererat adat budaya masyarakat Mamasa sekaligus memperkokoh tali persaudaraan,” ujar Yusuf Rahmat kepada media.

Berdasarkan catatan panitia penerima tamu, sebanyak 159 kelompok pelayat dengan total sekitar 4.000 orang datang silih berganti dari berbagai wilayah di Kabupaten Mamasa maupun luar daerah. Sebagai bentuk penghormatan dan ikatan adat, para pelayat membawa hewan kurban berupa kerbau dan babi yang nilainya mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Dalam prosesi tersebut, jumlah hewan yang disembelih mencapai puluhan ekor kerbau dan ratusan ekor babi.

Dihadiri Tokoh Penting dan Pejabat Daerah

Besarnya prosesi adat ini turut menarik perhatian sejumlah tokoh penting dan pejabat daerah. Hadir dalam acara tersebut antara lain Bupati Mamasa Welem Sambolangi beserta istri, Kapolres Mamasa, para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kabupaten Mamasa, serta mantan Bupati Polewali Mandar, Andi Ibrahim Masdar.

Kehadiran para tokoh tersebut menegaskan bahwa tradisi Rambu Solo memiliki nilai kultural dan daya tarik sosial yang sangat kuat di Sulawesi Barat.

Yusuf Rahmat menegaskan, Rambu Solo merupakan warisan budaya yang sakral dan sarat nilai luhur. Karena itu, tradisi tersebut sudah sepatutnya terus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi penerus masyarakat Mamasa.

Pewarta: Darman

TIPIKOR INVESTIGASI NEWS.ID
⚖️ Tegakkan Keadilan, Perjuangkan Kebenaran
PERINGATAN: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial dan dikomersilkan tanpa seizin redaksi.

Pos terkait

banner 468x60 ____________________________________________banner 728x250
T I P I K O R
INVESTIGASI NEWS.ID
BREAKING NEWS
BERITA TERUPDATE • INFORMASI LINTAS DAERAH • MEDIA. NASIONAL TIPIKOR INVESTIGASI NEWS.ID • Menyajikan BERITA TERKINI • UNGKAP FAKTA • SOROT • KASUS • Investigasi Tajam, Informasi Terpercaya • Tegas, Jujur, dan Berintegritas • Sorot Fakta Tanpa Kompromi • Mengungkap Fakta Demi Kebenaran • Fakta Bicara, Kami Menyuarakan • Suara Fakta untuk Keadilan
─────────────────────────────────────────

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *