TAMBOLAKA–NTT-Tipikorinvestigasinews id- Desa Mere Kehe merupakan salah satu desa di Wilayah Kecamatan Kodi Bangedo, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.
Pelayanan yang tangguh dan berkualitas dari Pemerintah Desa sebagai lapisan tingkat bawah pembangunan suatu wilayah, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat kecil merupakan harapan bagi semua orang.

Apa lagi, sebagai masyarakat kecil yang hidup dan tinggal di pelosok. Selain akses jalan yang kurang memadai, kadang – kadang dalam sehari makan makanan empat sehat, lima sekarat. Kadar makanan diluar kadar gizi.
Ada pun, Desa Mere Kehe dibawa kendali Ibu Pj. Yuliana Depa Ngara, S.Sos yang mayoritas warganya adalah bermata pencaharian sebagai petani.
Sebagai petani yang baik pastinya membutuhkan akses jalan yang aman dan nyaman. Akses jalan yang memadai sangat berfungsi sebagai sarana untuk memfasilitasi aktivitas ekonomi, seperti transportasi barang, jasa dan orang.
Terbalik! Akses jalan usaha tani yang kurang memadai apalagi disaat musim hujan digenangi air kotor, dipenuhi lumpur yang dalam merupakan peristiwa sedih yang nyata. Hal memilukan ini dialami oleh warga Desa Mere Kehe, tepatnya di Dusun 1.
Perasaan mengeluh oleh Vinsensius P. Andelo, warga Dusun 1, Desa Mere Kehe. Saya mengeluh dengan kondisi ruas jalan yang biasa dilalui mulai dari jalan masuk kampung Kapopok menuju Tambollu. Ya, jauhnya sekitar tiga ribu meter. Ini merupakan hal yang menyedihkan dan mengecewakan.
Bahkan pergantian pemimpin di Desa Mere Kehe sudah sebanyak enam kali. Namun, apalah daya. Kondisi badan jalan tetap memprihatikan. Padahal, kami sebagai petani sangat membutuhkan jalan yang bagus.
Oleh karena itu, kami mohon kepada Pemerintah Desa Mere Kehe agar melakukan rehabilitasi ruas jalan tersebut sebagai sarana transportasi bagi kami sebagai petani. Selain itu, jalan yang baik dapat meningkatkan keselamatan pengguna jalan. Tutur, Vidy.
“Tanggapan Pj. Yuliana Depa Ngara, S.Sos mengenai kondisi jalan yang dimaksud. Ibu Pj. Yuliana Depa Ngara, S.Sos menjelaskan bahwa Kepala Dusun 1 tidak menyampaikan kondisi badan jalan pada saat Musyawarah Rencana Pembangunan ( Musrembang ) desa. Sebagai pemimpin yang baru ditempatkan disini, saya belum begitu tahu tentang kondisi dan kesulitan yang dialami warga”. Ungkapnya.
Menurut Ibu Pj. Yuliana Depa Ngara, S.Sos, diawal Tahun 2025, prioritas pembangunan adalah melanjutkan program hasil musrembang sejak Tahun 2024 dari penjabat lama, Lukas Loghe Jappa. Ucap, Ibu Yuliana, saat dikonfirmasi Awak Media Tipikor Investigasi News. Id di kediamannya pada Sabtu, 1 Februari 2025. Tepatnya, Pukul 09.24 Wita.
Kehadiran Ibu Pj. Yuliana Depa Ngara, S. Sos di Desa Mere Kehe memang menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Desa Mere Kehe menuju peningkatan kualitas hidup.
Ibu Pj. Yuliana Depa Ngara, S.Sos menegaskan bahwa hasil Musrembang desa yang dimaksud adalah pengadaan jamban. Pengadaan bak air minum. Termasuk pengadaan kabel listrik bagi keluarga tidak mampu yang tersebar di 4 Dusun, Desa Mere Kehe.
Akan tetapi, tentang rincian anggaran yang dibutuhkan untuk pelaksanaan pembangunan desa tersebut masih dalam tahap pengusulan dan penetapan anggaran serta asistensi dari kecamatan.
Ibu Pj. Yuliana juga menyampaikan bahwa akan mengaktifkan kembali Badan Usaha Milik Desa ( Bumdes ). Langkah ini dimulai dengan rapat untuk penentuan badan pengurus Bumdes sebagai bentuk cinta masyarakat dan membangun desa.
Lebih lanjut, Ibu Pj. Yuliana Depa Ngara, S.Sos, menyatakan akan mendukung setiap orang muda untuk membentuk kelompok tani sebagai bentuk kreativitas untuk penguatan ketahanan pangan di desa ini.
Menyadari dengan adanya berita minta jatah reman terhadap kepala desa yang diduga dilakukan oleh Simon Lende, Kadis PMD Kabupaten Sumba Barat Daya. Ibu Pj. Kepala Desa Mere Kehe, Yuliana Depa Ngara, S. Sos menegaskan sama sekali tidak ada permintaan jatah reman dari Kadis PMD SBD. Selama ini, kami menjalankan tugas sesuai regulasi yang berlaku. Ungkap, Ibu Yuliana. ***
Liputan: John Mone






____________________________________________
