SBD, tipikorinvestigasinews.id, Ketika dikonfirmasi oleh awak media, selasa 29/07/25, Sekira pukul 12 wita, diruang kerjanya! Kepala Ispektorat Kabupaten Sumba Barat Daya, Theofilus Natars, ST.
Di pusat pemerintah Kadulla, Kecamatan Kota Tambolaka SBD, mengatakan bahwa ia mengapresiasi kinerja Badan Musyarawah Desa (BPD) pogotena yang melakukan tugas Pengawasannya dengan baik didalam Desa. Banyak item2 yang dilaporkan oleh BPD yang menurut Pengurus BPD tidak tepat sasaran.
Sebagai pengawas anggaran dalam waktu satu atau dua hari kedepan, Kami akan memanggil kepala desa Pogotena bersama aparatnya untuk diaudit berdasarkan laporan BPD, apakah betul ada penyelewengan dana desa dalam desa Pogotena, Jika ada Penyelewengan untuk di kembalikan kepada Negara,Ucap Theofilus Natara, ST.

Ketika ditanya soal 13 Kepala Keluarga yang tidak mendapat bantuan meteran dari pemerintah desa Pogotena, kecamatan, Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya, berdasarkan musyawarah dan mufakat dan ada SK bahwa 13 KK itu layak untuk dibantu bukan PNS dan pensiunan PNS!.
Jawaban Kepala Ispektorat kepada awak media akan pertanyakan kepada Kades dan aparatnya bahwa memang yang layak dibantu adalah masyarakat desa yang tidak mampu.
Dan perlu diketahui terkait Tegangan Listrik, sehingga 13 KK tidak mendapat pelayanan pemasangan Meteran listrik, itu soal teknis dan wewenangnya ada di PLN. Silakan bertanya kepada PLN, ujar Theofilus Natara, ST.
Ketua BPD, Aloysius Dimu Dede bersama Anggota BPD, saat ditanya oleh awak media di kantor Ispektorat kabupaten SBD, 29/07/25 sekira pukul 11: 45 wita mengatakan Kepala Ispektorat Pak Theofilus menerima Kami dengan baik dan mengapreasi laporan kami terkait temuan BPD di desa Pogotena.
Kami menyampaikan ada begitu banyak dana yang digunakan oleh Kades dan sekdesnya yang tidak transparan. Contoh kongkrit.
Meteran listrik harga 2.700.000 ribu naik menjadi 3.200.000 ribu per unit dikalikan dengan 20 unit meteran listrik.
Handsprayer bagi 20 kelompok dalam desa, desa anggarkan 1.32.000. 000. Rupiah. Pengadaan 110 unit, Harga di toko harga 600.000. Mol kopi 5 unit dirab Desa 3.750.000 rupaih harga toko, 1.200.000 rupiah, diadakan khusus untuk, Kades 1 unit, Sekretaris desa 1 unit.
Bendahara 1 unit, Kaur 1 unit dan 1unit untuk kelompok tani didesa Pogototena padahal dalam aturan tidak dibenarkan pengadaan mol kopi.
Dan juga kami laporkan CV Welaingo yang mana setahu kami dalam desa Pogotena dan juga pemilik CV ini berada dalam desa yang sama dan tidak punya toko namun pertanyaan Kami koq bisa pengadaan barang rp 20 juta, ujar Aloysius Dimu Dede.
Adrianus Bawa Tako sebagai wakil Ketua BPD menyebutkan bahwa ada kejanggalan dalam pemberian benih bibit holtikultura kepada 20 kelompok tani di desa Pogotena, kecamatan Loura, Kabupaten SBD.
Dimana setiap kelompok dibagikan per bungkus benih bibit dengan beberapa jenis, seperti, Cabe, terung ungu, pepaya, kangkung, tomat besar, cabe besar.
Padahal dalam 1 kelompok ada yang berjumlah 30 orang dan 19 orang dengan dana yang keluarkan untuk pegadaan benih bibit holtikultura rp 32. Juta rupiah.
Terkait sumur bor juga kami sampaikan kepada Ispektorat, menurut Kepala desa Masyarakat desa tidak ada yang memberikan lahannya untuk sumur bor padahal masyarakat siap memberikan lahannya.
Jadi kuat dugaan kami kerjasama kades dan sekretaris untuk memilki secara pribadi sumur bor tersebut. Mengapa pertama mereka bor air di rumahnya kades air yang keluar kecil tidak bisa melayani warga.
Lalu bor lagi dilokasinya Sekretaris desa dan sekarang banyak warga yang tidak menikamti air bersih, seperti minum, cuci dan kakus ujar Adrianus Bawa Tako. Lanjut Bawa Tako, Harapan Kami bahwa pemerintah Kabupaten Harus membantu kami.
Sebab masih banyak masyarakat desa Pogotena yang hidup di bawah pra sejahtera. Perlu diketahui Masyarakat umum.
ADD desa Pogotena dalam satu tahun adalah 1.3.78.000,81133300, hampir 100 persen masyarakat Pogotena adalah Petani miskin dan sialnya lagi curah hujan untuk wilayah loura tidak normal mengakibatkan para petani memanen jagung dan Padi tidak sesuai dengan pengeluarannya, tegas Adrianus Bawa Tako.
Sumber: Gunter Guru Ladu Meha
Penulis: Joseph kalumbang







____________________________________________
