TIPIKOR Investigasi News.id
AcehSingkil,tipikorinvestigasinews.id –Singkil,21-april – 2025 ,jalan lintas yang menghubungkan Kota Subulussalam dengan Aceh Singkil kini berubah menjadi jalur berbahaya, bukannya akses vital. Dengan jarak lebih dari 96 kilometer, kerusakan jalan yang terjadi selama 3 hingga 4 tahun terakhir makin menjadi-jadi, tanpa ada tindakan berarti dari pihak berwenang. Lubang besar menganga di berbagai titik jalan menjadikannya medan maut bagi pengendara.
Pantauan langsung di lapangan menunjukkan bahwa dari perbatasan kota hingga ke Kecamatan Gunung Meriah, jalan penuh dengan jebakan maut. “Kadang-kadang kita enggak sempat menghindar, lubangnya terlalu banyak. Bisa mencelakakan kita kalau tidak hati-hati,” ungkap Djamil, warga Desa Suro Baru.
Kondisi ini bukan lagi sekadar keluhan ringan—ini ancaman nyata. Kecelakaan kerap terjadi, terutama saat kendaraan roda dua dan empat saling berusaha menghindari lubang. Di ruas jalur dua Gunung Meriah, situasinya lebih mengenaskan. Sudah banyak korban luka parah, bahkan kehilangan nyawa.
Baru-baru ini, insiden tragis terjadi di jalur Rimo–Singkil. Seorang pengendara sepeda motor tewas setelah menghantam lubang. Korban lain mengalami luka berat dan dirawat di RSUD Aceh Singkil. Sampai kapan warga harus mempertaruhkan nyawa untuk sekadar pulang ke rumah?
Protes warga pun semakin keras. Di beberapa titik, warga menanam pohon kelapa sawit di tengah jalan rusak sebagai simbol kemarahan. “Ini ibarat liang kubur bagi pengendara. Pemerintah seperti tak peduli,” kata Rahman, warga yang kesal dengan lambannya penanganan.
Sorotan tajam kini mengarah ke Bupati Aceh Singkil H. Safriadi Oyon, SH, dan Wakil Bupati H. Hamzah Sulaiman, SH. Janji-janji perbaikan infrastruktur yang disampaikan saat Pilkada dan didukung lebih dari 13.000 suara, kini ditagih masyarakat. Bukan janji manis yang diinginkan rakyat, tapi aksi nyata.
Tak hanya jalan utama, akses ke Kecamatan Singkohor, Kota Baharu, hingga Danau Paris malah lebih memprihatinkan. “Jalan ke tempat kami lebih parah dari jalur utama. Kami mohon perhatian,” kata Kobon Manik dari Singkohor. Suara serupa juga datang dari H. Berutu di Danau Paris yang berharap perbaikan segera dilakukan, meski bertahap.
Jalan rusak ini bukan cuma soal infrastruktur. Ini soal keselamatanoal hak rakyat untuk hidup aman, dan soal kepedulian pemerintah terhadap warganya. Kalau jalan saja tidak bisa dirawat, bagaimana bisa rakyat percaya janji-jani besar lainnya?
Masyarakat sudah bicara, kini saatnya pemerintah mendengar—dan bertindak. Jangan tunggu korban berikutnya jatuh.
(syah)







____________________________________________
