Bukit Kemuning,tipikorinvestigasinews.id– Di balik kokohnya Pondok Pesantren Darul Huda yang kini menjadi salah satu pusat pendidikan Islam berpengaruh di wilayah Lampung Utara, tersimpan jejak perjuangan panjang seorang ulama visioner, K.H. Ahmad Syafi’ie.
Pesantren ini bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan warisan dakwah yang tumbuh dari keterbatasan, keteguhan, dan keikhlasan.
Pondok Pesantren Darul Huda diperkirakan berdiri sekitar tahun 1971, sebagaimana dituturkan oleh Zainal Asikin, cucu dari K.H. Ahmad Syafi’ie. Pada masa itu, mendirikan lembaga pendidikan Islam di wilayah Bukit Kemuning bukanlah perkara mudah. Infrastruktur yang minim, sarana terbatas, serta kondisi sosial yang belum sepenuhnya mendukung menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi.
Namun keterbatasan tersebut tidak menyurutkan langkah sang pendiri. Dengan semangat dakwah yang kuat, K.H. Ahmad Syafi’ie memulai perjuangannya dari nol—membangun pesantren sebagai pusat pengkaderan generasi muslim yang berilmu dan berakhlak.

Dakwah Inklusif dan Pendidikan Berbasis Zaman
Dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas, K.H. Ahmad Syafi’ie mengusung nilai-nilai Islam yang inklusif, memadukan sistem pendidikan salaf (tradisional) dengan tuntutan perkembangan zaman. Pendekatan ini menjadikan Pondok Pesantren Darul Huda mampu bertahan dan relevan hingga kini, tanpa kehilangan akar tradisi keilmuannya.
Metode pengajaran kitab kuning berpadu dengan penanaman karakter, disiplin, dan semangat pengabdian kepada masyarakat. Dari sinilah lahir ribuan alumni yang kini tersebar di berbagai wilayah Lampung dan sekitarnya, melanjutkan syiar Islam yang telah dirintis sang pendiri.
Peran Nyai Hajah Alawiyah:
Pendamping Setia Perjuangan Dalam perjalanan dakwahnya, K.H. Ahmad Syafi’ie tidak berjalan sendiri. Di sisinya, hadir sosok Nyai Hajah Alawiyah, istri sekaligus pendamping setia yang turut mengabdikan hidupnya bagi pesantren. Hingga usia senja, beliau tetap mendampingi perjuangan dakwah, menjadi penopang moral dan spiritual keluarga besar pesantren.
Dalam dokumentasi foto yang tersimpan, sisi kiri menampilkan K.H. Ahmad Syafi’ie di masa muda—berbalut sorban dan jas, memancarkan wibawa seorang ulama pejuang. Sementara sisi kanan menampilkan Nyai Hajah Alawiyah, simbol keteguhan dan kesetiaan dalam perjuangan panjang dakwah Islam.
Warisan yang Terus Hidup
Hari ini, Pondok Pesantren Darul Huda berdiri sebagai saksi bisu perjuangan dua insan yang mendedikasikan hidupnya untuk umat. Lebih dari lima dekade berlalu, nilai-nilai yang ditanamkan K.H. Ahmad Syafi’ie terus hidup dalam denyut aktivitas pesantren dan kiprah para alumninya.
Jejak perjuangan beliau bukan hanya tercatat dalam sejarah, tetapi juga terpatri dalam amal jariyah yang terus mengalir—melalui ilmu yang diajarkan, dakwah yang diteruskan, dan generasi yang dibina.
Penulis: Ahmat (Red)
Sumber: Zainal Asikin
Catatan Redaksi
Artikel ini disusun berdasarkan keterangan keluarga dan sumber lokal, termasuk penuturan Zainal Asikin, cucu K.H. Ahmad Syafi’ie. Tahun pendirian Pondok Pesantren Darul Huda diperkirakan sekitar 1971 dan masih bersifat estimatif.
Pemberitaan ini bertujuan mendokumentasikan jejak sejarah dan perjuangan dakwah secara faktual dan berimbang. Redaksi terbuka terhadap klarifikasi dan koreksi guna menjaga akurasi sesuai Kode Etik Jurnalistik.


____________________________________________
M E D I A - N A S I O N A L