Penulis : Ketua Forum Guru NTT, Jusup KoeHoea
WAIKABUBAK, Sumba Barat NTT, 20/11/2025 – Tipikorinvestigasinews.id
“Ketika nama Budi sebagai simbol budi pekerti menghilang dari ruang kelas, pada saat yang sama kita di NTT sedang mengalami penurunan kualitas moral dan kedisiplinan peserta didik. Ini bukan kebetulan. Ini adalah tanda bahwa pendidikan nasional, termasuk di NTT, sedang kehilangan fondasi etiknya,” tegas Ketua Forum Guru NTT, Jusup KoeHoea.
Ia menjelaskan bahwa dalam konteks Nusa Tenggara Timur saat ini, berbagai fenomena menguat:
- Meningkatnya kasus kekerasan siswa, baik perundungan, tawuran kecil antarsekolah, hingga tindakan pelanggaran norma di lingkungan pendidikan.
- Lemahnya disiplin belajar, terlihat dari ketidakteraturan kehadiran, rendahnya motivasi, dan kurangnya budaya menghormati guru.
- Merosotnya literasi moral keluarga, di mana sebagian orang tua menyerahkan seluruh tanggung jawab pembentukan karakter kepada sekolah.
- Krisis keteladanan di lingkungan sosial, termasuk pengaruh gadget, media sosial, dan budaya viral yang sering bertentangan dengan nilai-nilai lokal NTT seperti hormat, taat, dan rendah hati.
- Tekanan ekonomi keluarga, yang menyebabkan sebagian siswa tidak mendapat pendampingan moral memadai di rumah.
“Dalam situasi seperti ini, simbol-simbol moral dalam pembelajaran justru makin dibutuhkan, bukan dihapus,” tegasnya.
Budi Bukan Sekadar Nama, Ia Representasi Identitas Moral Bangsa
KoeHoea menekankan bahwa generasi Indonesia, termasuk guru-guru di NTT, tumbuh dengan tokoh Budi—seorang anak yang sederhana, jujur, dan sopan, yang menjadi gambaran ideal budi pekerti.
“Nama Budi melekat dalam memori moral kita. Ia adalah simbol pedagogis yang sudah teruji selama puluhan tahun. Ketika simbol itu hilang tanpa pengganti yang setara, ruang kosong dalam imajinasi moral anak-anak kita semakin lebar,” ujarnya.
Menurutnya, NTT membutuhkan karakter pendidikan yang kontekstual, berakar pada budaya lokal, tetapi tetap merawat nilai nasional tentang budi pekerti.
NTT Menghadapi Krisis Moral yang Memerlukan Pendekatan Pendidikan Karakter yang Lebih Berani
Di banyak sekolah di NTT, guru menghadapi realitas yang kian rumit: siswa yang semakin sulit diarahkan, kurang hormat pada aturan, hilangnya rasa tanggung jawab, dan meningkatnya perilaku yang tidak mencerminkan nilai-nilai lokal seperti malu, tahu diri, dan menghargai orang tua.
“Ketika figur moral seperti Budi tidak lagi hadir dalam buku-buku pelajaran, kita kehilangan salah satu alat bantu pedagogis untuk menanamkan nilai dasar kepada siswa. Padahal guru-guru di NTT sangat membutuhkan perangkat pembelajaran yang bisa menguatkan karakter,” tegasnya.
Ia juga menilai bahwa kurikulum baru sangat teknokratis dan terlalu fokus pada kompetensi akademik, sementara pembentukan karakter malah dipinggirkan.
“Inilah yang membuat ruang kelas kehilangan arah moralnya,” katanya.
Memulihkan Pendidikan Moral di NTT
KoeHoea menegaskan bahwa perbaikan moral di NTT tidak bisa hanya mengandalkan sekolah. Diperlukan:
- Kurikulum yang menempatkan karakter sebagai inti, bukan dikurangi menjadi jargon administratif.
- Keteladanan guru dan kepala sekolah dalam praktik nyata, bukan sekadar aturan.
- Pelibatan keluarga dan gereja, karena pendidikan karakter di NTT tidak bisa dilepaskan dari nilai sosial dan spiritual masyarakat.
- Penguatan budaya lokal, seperti nilai hormat, malu, gotong royong, dan solidaritas, ke dalam pembelajaran sebagai pengganti dan penguat makna “budi pekerti”.
- Sosok atau tokoh moral baru yang relevan dengan konteks NTT, namun tetap menyandang esensi “budi”.
“Jika simbol-simbol moral terus dihilangkan, jika kurikulum semakin jauh dari nilai-nilai karakter, dan jika sekolah hanya menjadi tempat administrasi pembelajaran, maka kita sedang membiarkan generasi muda NTT tumbuh tanpa kompas etik,” tutup KoeHoea.
“Mengembalikan ruh budi pekerti adalah kebutuhan mendesak. Tanpa moral, pendidikan kehilangan jiwanya.”
Pewarta : Gunter Guru Ladu Meha
Disclaimer Redaksi
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis. Seluruh pandangan, analisis, dan pernyataan yang disampaikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili sikap resmi Redaksi Tipikorinvestigasinews.id. Redaksi memberikan ruang bagi beragam pemikiran, namun tidak bertanggung jawab atas dampak yang mungkin timbul dari penafsiran atau penggunaan informasi di dalam artikel ini.







____________________________________________