Aceh Singkil,Tipikorinvestigasinews.id– Respons sinis dan bernada merendahkan dari Safriadi Oyon Hamzah terhadap aksi mahasiswa dinilai sebagai bukti nyata ketakutan kekuasaan dalam menghadapi kritik terbuka. Alih-alih menjawab tuntutan substansial rakyat dengan data dan kebijakan, Bupati justru memilih jalan provokatif melalui sindiran yang meremehkan gerakan mahasiswa.
Sikap tersebut menuai kecaman keras dari kalangan mahasiswa dan pemuda. Koordinator Lapangan Solidaritas Mahasiswa Pemuda Aceh Singkil (SOMPAS), M. Yunus, menegaskan bahwa pernyataan Bupati mencerminkan kegagalan moral seorang pemimpin dalam menyikapi kritik publik., jum’at {13/02/2026}
“Sindiran itu bukan cerminan kepemimpinan yang kuat, tapi tanda kepanikan. Ketika kekuasaan tidak mampu menjawab kritik dengan data dan kebijakan, maka yang keluar adalah ejekan. Ini mempermalukan wajah demokrasi di Aceh Singkil,” tegas M. Yunus.
Menurut SOMPAS, aksi unjuk rasa mahasiswa merupakan respons atas akumulasi kekecewaan rakyat terhadap kinerja Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil yang dinilai amburadul dan jauh dari janji perubahan. Berbagai persoalan seperti keterlambatan pengesahan APBK, rusaknya infrastruktur, kegagalan program prioritas, hingga dugaan praktik kepentingan elit dinilai terus dibiarkan tanpa kejelasan dan pertanggungjawaban.
“Kalau pemerintah bekerja benar, tidak perlu takut pada mahasiswa. Tapi jika kritik saja dianggap ancaman, itu berarti ada yang ingin ditutupi,” lanjut Yunus.
SOMPAS menilai sindiran Bupati sebagai upaya sadar untuk mendelegitimasi gerakan mahasiswa sekaligus mengalihkan perhatian publik dari kegagalan kepemimpinan yang semakin nyata dirasakan masyarakat. Namun, mereka memastikan upaya tersebut tidak akan berhasil.
“Kami tegaskan, mahasiswa bukan musuh negara, tapi pengingat bagi penguasa. Jabatan Bupati bukan mahkota raja, melainkan amanah rakyat. Jika amanah itu dikhianati, maka kritik akan berubah menjadi perlawanan,” ujar Yunus dengan nada keras.
SOMPAS menyatakan tidak akan mundur selangkah pun dalam mengawal kepentingan rakyat. Serangan balik, intimidasi moral, maupun pernyataan merendahkan dari pejabat daerah tidak akan menghentikan gelombang kritik mahasiswa.
“Jika hari ini Bupati memilih menertawakan suara rakyat, maka sejarah akan mencatat siapa yang berdiri bersama rakyat dan siapa yang sibuk menyelamatkan kekuasaannya,” tutup Yunus.
Berita ini menegaskan satu pesan penting: kritik adalah napas demokrasi, dan kekuasaan yang alergi terhadap kritik sesungguhnya sedang memperlihatkan kelemahan paling telanjang di hadapan rakyat.{syah}.
⚖️ Tegakkan Keadilan, Perjuangkan Kebenaran







____________________________________________