Pekalongan – Jateng, tipikorinvestigasinews.id – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan, Sukirman, memperkuat komitmennya dalam pemberdayaan ekonomi kreatif di sektor perkebunan dengan membuka secara resmi sekolah lapang iklim kopi serta menjalin kolaborasi strategis bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Tegal dan Mercy Corps Indonesia.
Kegiatan ini dilaksanakan di La Ranch Glamping, Jalan Karanganyar – Lolong, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Rabu (29/04/2026).
Dalam sambutannya, Plt. Bupati menyampaikan bahwa petani saat ini menghadapi tantangan serius akibat perubahan iklim yang ekstrem, di mana potensi gagal panen diperkirakan mencapai 45-50%. Selain faktor alam, kata Sukirman, keterbatasan infrastruktur pengolahan pasca panen seperti alat roasting dan grinder yang representatif menjadi kendala utama dalam meningkatkan nilai jual kopi.
Sukirman menegaskan bahwa sinergi lintas sektoral ini merupakan jawaban atas arahan pusat untuk mengembangkan ekonomi lokal yang berkelanjutan. Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan akademisi dari perguruan tinggi untuk memberikan data objektif guna mendukung kebijakan pembangunan yang tepat sasaran.
“Kami tidak ingin pembangunan hanya berdasarkan imajinasi, tapi harus berlandaskan data. Melalui kolaborasi dengan Bank Indonesia dan Mercy Corps, kita akan mendorong sekolah lapangan dan pelatihan teknis bagi petani. Tujuannya jelas agar petani kita tidak hanya menjual biji mentah, tapi mampu mengolahnya sendiri dengan standar internasional,” ujarnya.
Sementara itu Plt. Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Naker, Siti Masruroh dalam laporannya menyampaikan bahwa Sekolah Lapang ini diinisiasi akibat adanya penurunan produktivitas kopi di Desa Sengare dan Desa Jolotigo Kecamatan Talun.
Penurunan ini, kata Masruroh, dipicu oleh dua faktor utama yaitu anomali cuaca yang mengganggu masa tanam/panen, serta teknis budidaya yang masih rendah, seperti kebiasaan “petik pelangi” (memanen buah yang belum matang sempurna).
“Potensi pasar kopi kita sebenarnya sangat terbuka lebar. Saat ini ada permintaan ekspor besar ke pasar Eropa, termasuk kebutuhan kopi olahan sebanyak 250.000 sachet per bulan,” ungkapnya.
Masih menurut Masruroh, Kabupaten Pekalongan telah konsisten melakukan ekspor sejak 2025, dengan pengiriman kontainer keempat yang baru saja dilaksanakan pada Maret 2026 lalu.
Program manager Zurich Climate Resilience Alliance (ZCRA) Mewakili Branch Head Zurich, Kantor Semarang, Fausan Rahman, menyampaikan bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Pekalongan dan Bank Indonesia meluncurkan Sekolah Lapang Iklim Kopi’ di Lumbung Kopi dirancang untuk menjawab tantangan perubahan iklim yang mulai mengganggu kalender tanam tradisional (Pranoto Mongso) dan kualitas hasil panen petani kopi di Kabupaten Pekalongan.
Dijelaskannya, Sekolah Lapang Iklim hadir bukan sebagai sekolah konvensional, melainkan pusat pembelajaran langsung di kebun di mana para petani akan diajarkan cara membaca data cuaca BMKG, memilih bibit unggul tahan cuaca ekstrem, hingga teknik pemupukan dan pengeringan berbasis teknologi.
Diharapkan, dengan adanya monitoring yang konsisten dan kolaborasi dengan lembaga kurasi serta perguruan tinggi, kelompok tani dan UMKM di Kabupaten Pekalongan dapat bertransformasi menjadi unit usaha yang mandiri dan kompetitif di kancah global.
Kegiatan dihadiri oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra sekaligus Plt. Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Naker, Siti Masruroh, Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Anis Rosidi beserta para Kepala Perangkat Daerah terkait.
Kemudian Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tegal Bimala, Rektor ITSNU Pekalongan Ali Imron, Ketua IWAPI Dewi Kartika Yuniana, Petani Kopi Lumbung Kopi, dan tamu undangan yang hadir.
( LELES )







____________________________________________