Tambolaka, Sumba Barat Daya, http://tipikorinvestigasinews.id- Tangisan haru dan tuntutan keadilan mewarnai aksi demonstrasi damai jilid III yang digelar Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Sumba Barat Daya bersama keluarga almarhum Gregorius Bessu di halaman Polres Sumba Barat Daya, Senin (15/6/2026).
Dalam aksi tersebut, Elisabeth Veronika Bessu, anak sulung almarhum Gregorius Bessu, menangis histeris dan berlutut di hadapan Wakapolres SBD Kompol Marthinus Ardjon, S.H., serta Kasat Reskrim Iptu Yakobus K. Sanam, S.H. Ia memohon agar kasus pembunuhan ayahnya yang terjadi pada tahun 2024 segera dituntaskan.
Aksi ini dilakukan sebagai bentuk desakan kepada pihak kepolisian untuk memberikan kepastian hukum atas kematian Gregorius Bessu, warga Desa Waipangali, Kecamatan Kota Tambolaka, yang hingga kini belum menemukan titik terang meski telah berjalan hampir dua tahun.
Menurut keterangan keluarga, Gregorius Bessu meninggal dunia akibat luka bacok yang diduga dilakukan oleh pelaku yang sampai saat ini belum berhasil diungkap. Pada awal penyelidikan, keluarga mengaku sempat menerima informasi bahwa penyidik telah menemukan petunjuk penting.
Namun, perkembangan kasus kemudian dinilai berjalan lamban dan tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan.
Di hadapan peserta aksi dan jajaran kepolisian, Elisabeth menyampaikan kesedihan mendalam yang masih ia rasakan sejak kehilangan kedua orang tuanya pada tahun 2024. Ibunya meninggal dunia pada Januari 2024, sementara sang ayah menjadi korban pembunuhan beberapa bulan kemudian.
“Saya kehilangan harapan. Saya tumbuh dengan rasa takut. Saat angkat sumpah profesi apoteker, saya harus berdiri sendiri tanpa didampingi orang tua. Saya hanya ingin kasus ini dituntaskan agar saya bisa hidup dan bekerja tanpa rasa takut,” ungkap Elisabeth dengan mata berkaca-kaca.
Selain keluarga korban, PMKRI Cabang Sumba Barat Daya juga menyoroti lambannya proses penanganan perkara. Mantan Ketua PMKRI SBD periode 2024, Anjelina Bara, menilai pergantian Kapolres, Wakapolres, Kasat Reskrim, maupun penyidik tidak boleh dijadikan alasan terhambatnya penyelesaian kasus.
“Kami tidak ingin setiap pergantian pejabat selalu disertai alasan bahwa mereka masih baru. Negara harus hadir dan memastikan keadilan bagi keluarga korban,” tegas Anjelina dalam orasinya.
Menanggapi tuntutan tersebut, Wakapolres SBD Kompol Marthinus Ardjon, S.H., didampingi Kasat Reskrim Iptu Yakobus K. Sanam, S.H., menyatakan bahwa kasus pembunuhan Gregorius Bessu kini menjadi perhatian serius Polres Sumba Barat Daya.
Pihak kepolisian berkomitmen melakukan percepatan penanganan perkara melalui pembentukan tim khusus, peningkatan transparansi proses penyidikan, penyediaan saluran informasi bagi keluarga korban, serta koordinasi berkala dengan mahasiswa dan masyarakat guna memastikan proses penegakan hukum berjalan secara terbuka dan profesional.
Dengan kembali menguatnya tuntutan dari keluarga korban dan elemen masyarakat, publik kini menanti langkah konkret aparat penegak hukum untuk mengungkap pelaku dan memberikan kepastian hukum atas kasus yang telah menggantung selama hampir dua tahun tersebut.
Reporter: Gunter Guru Ladu Meha







____________________________________________
