Mamasa, 13 September 2025 Tipikorinvestigasinews.id – Kabupaten Mamasa tidak hanya dikenal dengan keindahan alam dan keragaman budayanya, tetapi juga dengan cerita-cerita legenda yang diwariskan secara turun-temurun dari para leluhur. Salah satu kisah yang masih hidup dalam ingatan masyarakat hingga saat ini adalah legenda tentang Batu SIKOBA yang berada di Desa Balla Satanetean, Kecamatan Balla.
Kisah ini bermula pada zaman dahulu kala, ketika sebuah gerhana bulan terjadi di langit Mamasa. Pada masa itu, gerhana bulan dianggap sebagai fenomena besar yang membawa tanda dan makna khusus. Para tetua kampung lalu memberikan peringatan kepada seluruh warga agar tidak tidur selama gerhana berlangsung. Mereka diminta tetap terjaga, keluar rumah, dan memukul gong serta alat musik tradisional lainnya sebagai tanda kebersamaan dan pengusir bala.

Namun, cerita rakyat mengisahkan bahwa terdapat satu keluarga yang tidak mengindahkan nasihat para tetua. Mereka memilih tetap tidur, seakan tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi di langit malam. Sementara itu, seluruh warga kampung dengan penuh semangat melakukan tradisi, berteriak, dan memukul gong demi membangunkan siapa pun yang masih terlelap.
Pagi harinya, masyarakat digemparkan dengan sebuah kejadian yang tidak masuk akal. Satu keluarga tersebut hilang tanpa jejak. Mereka tidak ditemukan di rumah, di ladang, maupun di penjuru kampung. Sebaliknya, di tempat mereka terakhir terlihat, masyarakat menemukan sebuah batu besar dengan bentuk yang sangat aneh: menyerupai orang-orang yang sedang berbaring bersama dalam satu sarung.
Keanehan tersebut membuat masyarakat percaya bahwa batu itu adalah jelmaan keluarga yang telah dikutuk karena tidak menaati pesan leluhur. Sejak saat itu, batu tersebut dikenal dengan nama Batu SIKOBA.
Meski kebenarannya tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, legenda Batu SIKOBA telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Balla. Kisah ini diwariskan dari mulut ke mulut, diceritakan kembali oleh orang tua kepada anak cucu mereka, sehingga tidak pernah hilang ditelan zaman.
Bagi masyarakat setempat, Batu SIKOBA bukan sekadar batu, melainkan simbol peringatan agar generasi muda tetap menghargai nasihat orang tua, menjaga kebersamaan, serta tidak meremehkan pesan-pesan kearifan lokal. Kisah ini juga menegaskan bahwa setiap fenomena alam memiliki makna tersendiri bagi kehidupan manusia.
“Entah benar atau tidak, hanya Tuhan yang Maha Tahu. Tetapi yang pasti, kisah Batu SIKOBA menyimpan pesan moral yang berharga. Inilah warisan budaya kita yang harus terus dijaga,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat Desa Balla Satanetean.
Kini, legenda Batu SIKOBA mulai dipandang tidak hanya sebagai cerita rakyat, tetapi juga memiliki potensi untuk menjadi objek wisata budaya dan sejarah di Kecamatan Balla. Jika dikelola dengan baik, kisah mistis ini bisa menarik perhatian wisatawan, baik lokal maupun luar daerah, yang ingin mengetahui lebih dalam tentang kekayaan tradisi dan legenda Mamasa.
Dengan adanya legenda Batu SIKOBA, masyarakat berharap generasi muda tetap menjaga dan melestarikan cerita-cerita leluhur sebagai bagian dari identitas Mamasa yang kaya akan nilai budaya dan spiritual.
Pewarta media Tipikor kaperwil sulbar ansar.







____________________________________________
