Polewali Mandar, Tipikorinvestigasinews.id 14 September 2025 – Suasana tegang menyelimuti tepi Sungai Mapi, Kecamatan Tutar, Kabupaten Polewali Mandar, ketika seorang warga Desa Piriang Tapiko dengan berani menceburkan diri ke dalam arus deras sungai yang tengah meluap akibat hujan deras berhari-hari.
Aksi nekat itu sontak menjadi perhatian puluhan warga yang sedang beraktivitas di sekitar bantaran sungai. Mereka terperangah, sebagian panik, dan ada yang berteriak lantang agar wanita tersebut membatalkan niatnya. Namun, dengan tekad kuat, ia justru melangkah semakin mantap ke aliran air yang bergemuruh.
Saksi mata di lokasi menggambarkan suasana menegangkan itu. “Kami semua berteriak-teriak, takut dia terseret arus. Sungai Mapi ini deras sekali, apalagi sekarang musim hujan. Tapi dia tetap melaju, dan akhirnya berhasil sampai di seberang,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Menurut warga lainnya, arus sungai benar-benar tidak bersahabat. Gelombang air kecokelatan dengan suara deras bagai gemuruh membuat semua orang menahan napas. “Jujur, kami hampir tidak percaya dia bisa lolos. Kalau orang biasa pasti sudah hanyut,” tambah warga lain sambil menggelengkan kepala.
Meski aksinya memicu decak kagum, tidak sedikit yang menilai langkah tersebut sangat berisiko. Kepala Desa Piriang Tapiko menegaskan bahwa keselamatan warga jauh lebih penting daripada aksi keberanian semacam itu.
> “Kami tentu bersyukur ia berhasil selamat. Tapi kami sangat mengingatkan agar warga lain tidak meniru hal seperti ini. Sungai Mapi terkenal ganas saat musim hujan. Kita harus utamakan keselamatan, bukan sekadar membuktikan nyali,” tegasnya.
Pernyataan senada juga datang dari pihak pemerintah kecamatan. Mereka mengingatkan bahwa daerah-daerah yang masih bergantung pada jalur sungai sangat membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah daerah. Infrastruktur penyeberangan seperti jembatan gantung atau rakit penghubung dinilai mendesak demi mencegah peristiwa serupa terjadi lagi.
Sungai Mapi bukan hanya aliran air biasa bagi masyarakat Tutar, melainkan nadi kehidupan yang memisahkan sekaligus menghubungkan antarwilayah. Namun, ketika curah hujan meningkat, sungai ini berubah menjadi penghalang besar. Banyak warga terisolasi, anak-anak kesulitan berangkat ke sekolah, hingga akses ekonomi tersendat.
Selama ini, sebagian warga memang terpaksa berenang atau menggunakan rakit sederhana untuk menyeberang. Namun rakit itu seringkali tidak mampu melawan derasnya arus. Kondisi inilah yang memaksa sebagian orang, seperti wanita dari Desa Piriang Tapiko tersebut, mengambil risiko besar hanya untuk bisa melintas.
Peristiwa ini menjadi cermin nyata bahwa masih ada masyarakat yang harus mempertaruhkan nyawa demi akses lintas desa. Pemerintah daerah diharapkan segera memberi perhatian serius dengan menghadirkan solusi infrastruktur yang memadai.
“Ini bukan hanya soal keberanian pribadi. Ini tentang kebutuhan warga akan akses yang aman. Kalau ada jembatan, tidak mungkin orang nekad berenang seperti itu,” kata salah seorang tokoh masyarakat setempat.
Keberanian warga Desa Piriang Tapiko menantang derasnya Sungai Mapi patut diakui, namun tetap menjadi pengingat bahwa keselamatan adalah hal yang paling utama. Semoga peristiwa ini membuka mata semua pihak untuk lebih memperhatikan kondisi masyarakat di wilayah pedalaman, sehingga tidak ada lagi nyawa yang dipertaruhkan hanya untuk menyeberangi sungai.
Pewarta media Tipikor kaperwil sulbar ansar.







____________________________________________
