Aceh Singkil,Tipikorinvestigasinews.id–
Pascabanjir yang berlalu, penderitaan warga Desa Kuta Simboling, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil justru tak ikut surut. Perairan Desa kini diselimuti eceng gondok yang tumbuh liar dan masif, menutup aliran air hingga tampak jelas dari kejauhan. Hamparan hijau itu bukan keindahan, melainkan penanda masalah yang dibiarkan berlarut-larut. Minggu {04/01/2026}
Bagi masyarakat, eceng gondok bukan sekadar tanaman air. Ia telah berubah menjadi musibah baru. Air yang digunakan untuk mandi dan kebutuhan sehari-hari kerap menimbulkan rasa gatal di kulit, mengancam kesehatan warga. Di sisi lain, akses terhadap air bersih—hak dasar yang seharusnya dijamin negara—hingga kini masih sebatas janji yang tak kunjung menjadi nyata.
Ironisnya, kondisi ini bukan hal baru. Tahun demi tahun, masyarakat Kuta Simboling hidup dalam lingkaran masalah yang sama. Banjir datang, penderitaan bertambah, lalu perhatian menghilang. Seolah desa yang berada di lingkar kota kabupaten ini hanyalah titik kecil di peta pembangunan, mudah terlewat, mudah dilupakan.
“Air bersih selalu kami dengar dalam wacana, tapi tak pernah kami rasakan,” keluh warga. Mereka dipaksa berdamai dengan air yang tak layak, sementara pemerintah pusat dan daerah seakan menutup mata atas kenyataan di lapangan.
Eceng gondok kini menjadi simbol paling nyata dari lambannya penanganan dan minimnya kepedulian. Jika dibiarkan, bukan hanya sungai yang mati, tetapi juga harapan masyarakat yang terus terkikis. Padahal, yang diminta warga bukanlah kemewahan, melainkan perhatian dan solusi nyata atas persoalan yang sudah berlangsung puluhan tahun.
Meski merasa terabaikan, masyarakat Desa Kuta Simboling belum menyerah. Mereka terus berharap, meski harapan itu kerap dipatahkan oleh senyapnya kebijakan. Mereka terus bersuara, agar jeritan kecil dari pinggiran kota ini akhirnya didengar. Bahwa di balik eceng gondok yang menutup air, ada warga yang menanti kehadiran negara.(Syah).







____________________________________________