Indeks Integritas Pendidikan Turun, Dr. Iswadi, M.Pd. Minta Pemerintah Prabowo Fokus Kepada Pendidikan Karakter

Tipikor investigasinews.id-Penurunan Indeks Integritas Pendidikan (IIP) Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menjadi sinyal yang tak bisa diabaikan. IIP adalah indikator penting yang mencerminkan sejauh mana nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan etika diterapkan dalam lingkungan pendidikan, baik oleh peserta didik maupun tenaga pendidik. Sayangnya, berdasarkan laporan terbaru dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, IIP di sejumlah daerah mengalami penurunan signifikan. Fenomena ini menggambarkan bahwa praktik pendidikan di Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam menanamkan nilai-nilai moral dan integritas di tengah masyarakat yang semakin kompleks.

Melihat kondisi ini, salah satu pakar pendidikan nasional, Dr. Iswadi, M.Pd., angkat bicara. Ia menyampaikan keprihatinannya terhadap arah pendidikan di Indonesia yang, menurutnya, semakin menjauh dari nilai-nilai karakter yang seharusnya menjadi fondasi utama pembentukan generasi bangsa. Dalam wawancara khusus dengan awak media melalui telepon seluler” , Dr. Iswadi secara tegas meminta kepada pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto agar memberikan perhatian serius terhadap pendidikan karakter.

Menurut Dr. Iswadi, pendidikan karakter bukan sekadar pelengkap, tetapi merupakan inti dari proses pendidikan itu sendiri. “Kita tidak bisa hanya fokus pada capaian kognitif atau akademik semata. Jika kita abaikan pembentukan karakter, maka kita sedang menyiapkan generasi yang cerdas secara intelektual, namun miskin integritas dan empati,” ujar Dr. Iswadi.

Ia menambahkan bahwa gejala-gejala krisis karakter sudah tampak jelas dalam berbagai aspek kehidupan sosial. Mulai dari maraknya kasus perundungan di sekolah, ketidakjujuran dalam ujian, hingga menurunnya rasa hormat terhadap guru dan orang tua. Semua ini, kata Dr. Iswadi, merupakan refleksi dari sistem pendidikan yang terlalu menekankan pada hasil, bukan pada proses pembentukan kepribadian.

Lebih lanjut, Dr. Iswadi juga menyoroti sistem evaluasi dan penilaian yang cenderung menekan peserta didik untuk mengejar nilai tinggi dengan segala cara. “Kita perlu meninjau ulang bagaimana kita mengukur keberhasilan dalam pendidikan. Selama ini, nilai akademik menjadi segalanya. Padahal, nilai kejujuran, kerja sama, dan tanggung jawab tak kalah penting,” tegasnya.

Sebagai solusi, Dr. Iswadi mendorong pemerintahan Prabowo untuk mengintegrasikan pendidikan karakter secara holistik ke dalam kurikulum nasional. Ia juga menyarankan agar program-program ekstrakurikuler, pembinaan mental dan spiritual, serta kegiatan sosial kemasyarakatan lebih diberi ruang dan dukungan di sekolah-sekolah. “Kita perlu menyentuh hati anak-anak, bukan hanya pikirannya,” katanya.

Selain itu, menurut Dr. Iswadi, peningkatan kapasitas guru dalam mendidik karakter juga sangat krusial. Guru tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pembimbing moral. Oleh karena itu, pelatihan dan pendampingan terhadap guru harus difokuskan pada pendekatan humanistik, komunikasi empatik, dan keteladanan. “Guru adalah role model. Jika guru tidak menunjukkan integritas, maka siswa pun tidak akan belajar tentang integritas,” ungkapnya.

Di sisi lain, Dr. Iswadi juga mengapresiasi sejumlah sekolah yang mulai mengembangkan model pendidikan karakter berbasis budaya lokal. Menurutnya, pendekatan yang mengangkat nilai-nilai lokal seperti gotong royong, sopan santun, dan musyawarah dapat menjadi kekuatan tersendiri dalam memperkuat integritas siswa.

Dalam menghadapi era digital, Dr. Iswadi juga mengingatkan pentingnya literasi digital dan etika bermedia sosial sebagai bagian dari pendidikan karakter. Ia menilai, saat ini banyak siswa terpapar konten negatif dan mengalami krisis identitas karena kurangnya pendampingan dalam menggunakan teknologi. Pemerintah, menurutnya, harus berperan aktif dengan membuat kebijakan yang mendukung pendidikan karakter berbasis digital yang positif.

Mengakhiri pernyataannya, Dr. Iswadi menyampaikan harapan besar kepada Presiden Prabowo dan jajaran kabinetnya untuk menjadikan pendidikan karakter sebagai prioritas utama dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. “Jika kita ingin Indonesia maju dan berdaya saing, maka kita harus membangun bangsa ini dari hati, dari karakter anak-anak kita. Tanpa itu, pembangunan hanya akan menghasilkan manusia-manusia yang rapuh di tengah kemajuan zaman,ujarnya menegaskan.

Penurunan Indeks Integritas Pendidikan memang menjadi tantangan besar, namun sekaligus menjadi peluang untuk melakukan pembenahan yang mendalam dan berkelanjutan. Pendidikan karakter adalah investasi jangka panjang yang tak boleh ditawar. Pemerintah Prabowo diharapkan hadir tidak hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai penggerak perubahan menuju pendidikan yang berintegritas, humanis, dan berkeadilan.demikian Pungkas

Pendiri Organisasi Pejuang Pendidikan Indonesia tersebut.

(Ada)

TIPIKOR INVESTIGASI NEWS.ID
⚖️ Tegakkan Keadilan, Perjuangkan Kebenaran
PERINGATAN: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial dan dikomersilkan tanpa seizin redaksi.

Pos terkait

banner 468x60 ____________________________________________banner 728x250
T I P I K O R
INVESTIGASI NEWS.ID
BREAKING NEWS
BERITA TERUPDATE • INFORMASI LINTAS DAERAH • MEDIA. NASIONAL TIPIKOR INVESTIGASI NEWS.ID • Menyajikan BERITA TERKINI • UNGKAP FAKTA • SOROT • KASUS • Investigasi Tajam, Informasi Terpercaya • Tegas, Jujur, dan Berintegritas • Sorot Fakta Tanpa Kompromi • Mengungkap Fakta Demi Kebenaran • Fakta Bicara, Kami Menyuarakan • Suara Fakta untuk Keadilan
─────────────────────────────────────────

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *