Boyolali’ Jawa Tengah, tipikorinvestigasinews.id-Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Boyolali mencatat selama triwulan III, atau Januari-September 2025, investasi Boyolali terealisasi senilai Rp2,7 triliun. Angka tersebut sudah 143,48% dari target setahun 2025 yang ditetapkan senilai Rp1,89 triliun.
Kepala DPMPTSP Boyolali, Dwi Sundarto, menyampaikan realisasi investasi pada triwulan I 2025 mencapai Rp1.005.493.708.708. Lalu, pada triwulan II Rp628.982.767.198, dan triwulan III mencapai Rp1.077.723.439.395.
Total realisasi investasi di Boyolali hingga triwulan III Rp2.712.199.915.501 dari target Rp1.890.304.600.000 atau 143,48%,” kata dia, Senin 01 Desember 2025.
Ia optimistis angka tersebut masih naik mengingat masih ada satu triwulan lagi di 2025. Target angka investasi di Boyolali pada 2026, lanjut dia, berkisah Rp2 triliun.
Lebih lanjut, Dwi mengatakan angka tersebut berasal 15.521 proyek dan telah menyerap 58.324 pekerja.
Ia menjelaskan data tersebut berasal dari rilis laporan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Online Single Submission (OSS).
Dwi mengatakan industri yang mendominasi investasi 2025 masih manufaktur. Kemudian, ia melanjutkan daerah favorit para investor seperti di Kecamatan Boyolali, Mojosongo, Teras, Cepogo, Ampel, dan lokasi yang dekat dengan tol.
“Kebetulan ada enam kecamatan yang sudah masuk dalam RDTR [Rencana Detail Tata Ruang untuk Kawasan Peruntukan Industri] ada Sawit, Ngemplak, Banyudono, Cepogo, Mojosongo, dan Boyolali,” kata dia.
Ia mengatakan sebenarnya Kawasan Peruntukkan Industri (KPI) itu tersebar hampir di seluruh kecamatan akan tetapi datanya masih berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
Ia menjelaskan KPI di suatu kecamatan tidak mesti berada dalam satu blok luas akan tetapi bisa terpisah-pisah sesuai dengan data Boyolali Satu Peta.
Total daerah KPI di Boyolali sebesar 2.034,42 hektare dengan rincian yang telah terbangun 588,447 hektare dan belum terbangun 1.445,973 hektare.
Dwi mengatakan DPMPTSP Boyolali juga selalu melakukan promosi investasi ke investor.
Akan tetapi, investor sendiri akan menjajaki soal akses, konektivitas, ketersediaan bahan baku, air, energi, dan hal penting lainnya.
“Sebenarnya untuk harga tanah di daerah utara lebih murah. Tapi soal jumlah daya air akan kami sediakan, kami akan bekerja sama dengan PDAM agar air tersedia merata di seluruh Boyolali,” kata dia.
Dwi sendiri mengungkap di wilayah Boyolali utara sebenarnya telah terdapat investasi seperti tempat ternak ayam dari perusahaan besar di Wonosamodro hingga pabrik tekstil di Klego dan Sambi.
Dwi mengatakan faktor penunjang investasi yaitu jalur transportasi serta ketersediaan pasokan listrik dan air.
Selain itu, ia beranggapan yang membuat investor berminat berinvestasi di Boyolali karena Pemkab memberikan kemudahan fasilitas pelayanan perizinan.
Tak hanya itu, DWI mengatakan faktor Upah Minimum Kabupaten (UMK) yang berdaya saing menjadi daya tarik bagi investor.
Dwi menjelaskan jika ada investor mau investasi atau sekadar konsultasi, maka investor akan diundang ke Mal Pelayanan Publik (MPP) Boyolali untuk bertanya dan akan disiapkan stakeholder terkait agar investasi dan konsultasi bisa berlangsung di satu tempat tanpa harus berpindah ke beberapa instansi.
Akan tetapi, tak jarang investor maju duluan dengan mencari tanah sendiri padahal belum berkonsultasi. Padahal kadang tanah yang dibeli bukan KPI.
Sehingga, ia menyarankan investor terlebih dulu berkonsultasi ke DPMPTSP Boyolali sebelum melangkah.
“Kami juga sudah melakukan pembentukan SK tim percepatan investasi dan melibatkan seluruh dinas terkait.
Tugas kami di DPMPTSP mempromosikan kalau di Boyolali ramah dan layak investasi, Kami juga menggodok insentif bagi investor cuma belum bisa matur lebih banyak karena baru digodok, baru tahap awal,” kata dia.
Penulis: Agus Chaerudin







____________________________________________
