CARINGIN,http://tipikorinvestigasinews.id – Tanggul Irigasi Palayangan yang berada di Desa Ciderum, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, kembali mengalami kerusakan parah. Padahal, saluran irigasi yang menjadi sumber utama pengairan bagi warga dan petani di Desa Ciherang Pondok tersebut diketahui telah mendapatkan penanganan pembangunan pada tahun 2025 dari Dinas Pekerjaan Umum ( DPU) bidang pengairan.
Kerusakan yang kembali terjadi pada awal Juni 2026 itu memicu kekecewaan masyarakat. Sejumlah petani menilai pembangunan tanggul yang dilakukan sebelumnya tidak mampu memberikan solusi jangka panjang dan diduga dikerjakan secara asal-asalan sehingga tidak bertahan menghadapi kondisi alam di lokasi tersebut.
Irigasi Palayangan memiliki peran vital bagi kehidupan masyarakat di wilayah hilir. Selain mengairi ratusan hektare lahan pertanian, saluran tersebut juga menjadi sumber pasokan air bagi kolam perikanan milik warga yang selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat setempat.
Ketua RW 03 Desa Ciherang Pondok, Ujang Suganda, mengatakan bahwa Irigasi Palayangan merupakan satu-satunya jalur pengairan yang selama ini mengalir ke wilayahnya. Akibat jebolnya tanggul tersebut, dampak yang dirasakan masyarakat sangat besar.
”Irigasi ini merupakan urat nadi bagi warga kami. Air yang mengalir dari sini digunakan untuk mengairi sawah dan kolam ikan masyarakat. Ketika tanggul kembali rusak, otomatis pasokan air terputus dan dampaknya langsung dirasakan warga,” ujar Ujang kepada Pakar Senin 8 Juni 2026.
Menurut Ujang, selama bertahun-tahun masyarakat tidak tinggal diam menghadapi persoalan tersebut. Bahkan warga bersama Pemerintah Desa Ciherang Pondok kerap melakukan perbaikan darurat secara swadaya menggunakan karung dan gentong sebagai penahan aliran air agar pasokan ke wilayah mereka tetap berjalan.
”Selama ini warga bersama kepala desa sering patungan untuk memperbaiki tanggul secara darurat menggunakan gentong. Biaya yang sudah dikeluarkan mencapai puluhan juta rupiah. Semua dilakukan agar sawah dan kolam ikan warga tetap mendapatkan air,” ungkapnya.
Meski demikian lanjut dia, upaya swadaya tersebut hanya mampu menjadi solusi sementara. Saat debit air meningkat atau terjadi hujan deras, bangunan darurat yang dibuat warga kerap kembali rusak sehingga persoalan terus berulang dari tahun ke tahun.
Dampak kerusakan tanggul kali ini pun cukup serius. Ribuan ikan milik petani tambak dilaporkan mati akibat berkurangnya debit air. Kondisi tersebut menyebabkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit bagi para pembudidaya ikan yang menggantungkan hidup dari usaha perikanan.
”Selain sektor perikanan, ancaman kekeringan juga mulai menghantui para petani. Ratusan hektare lahan persawahan yang selama ini bergantung pada aliran Irigasi Palayangan terancam tidak mendapatkan pasokan air yang cukup untuk masa tanam mendatang.
Tidak hanya itu, sejumlah sarana umum yang membutuhkan suplai air juga berpotensi terdampak apabila kerusakan tanggul tidak segera ditangani oleh instansi terkait,” ucapnya.
d8a menegaskan, adapun perbaikan oleh Dinas PU, Kabupaten Bogor tahun 2025 lalu, seolah sia sua, hanya bertahan beberapa bulan. Makanya
warga berharap Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas PU. segera turun tangan melakukan penanganan darurat sekaligus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pembangunan yang telah dilakukan sebelumnya.
”karena kembali hancur Akhirnya masyarakat menilai perbaikan yang dilakukan tidak boleh hanya bersifat sementara, melainkan harus dibangun dengan konstruksi yang kuat dan sesuai standar teknis agar mampu bertahan dalam jangka panjang.
Kami meminta pemerintah serius menangani persoalan ini. Jangan sampai setiap tahun diperbaiki, tetapi setiap tahun pula rusak kembali. Yang dirugikan adalah masyarakat, petani, dan pembudidaya ikan yang menggantungkan hidup dari irigasi ini,” tegas Ujang.
Hal senada Juga dikeluhkan Yudi Warga Desa Ciherang Pondok, mengaku warga bersama para petani masih berharap adanya langkah cepat dari Pemerintah Kabupaten Bogor untuk memulihkan fungsi Irigasi Palayangan. Selain mendesak perbaikan permanen, masyarakat juga meminta adanya evaluasi terhadap pekerjaan pembangunan sebelumnya agar penyebab kerusakan berulang dapat diketahui secara jelas.
”bagi warga Ciherang Pondok, keberadaan Irigasi Palayangan bukan sekadar saluran air biasa, melainkan sumber kehidupan yang menopang sektor pertanian, perikanan, dan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Karena itu, mereka berharap pemerintah tidak lagi melakukan penanganan sementara, melainkan membangun tanggul yang kokoh dan mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat,”keluhnya. (UJG)
Warta :Nilam (Kaperwil Jabar)
Irigasi Palayangan Hancur Lagi Ratusan Hektar Sawah Diciherang Pondok Kekeringan







____________________________________________
