Aceh Singkil, Tipikorinvestigasinews.id ~ Di tengah hiruk pikuk modernisasi pendidikan, sebuah kisah perjuangan mengharukan terungkap dari UPTD SPF Negeri Pea Bumbung, sebuah sekolah dasar yang terletak di pelosok Kemukiman Pemuka, Kecamatan Singkil. Sekolah ini menjadi cerminan nyata ironi pendidikan di daerah, di mana para guru dan murid harus berhadapan dengan krisis air bersih sekaligus tantangan fundamental dalam literasi dasar.
Krisis Air Menguji Ketahanan, Sumur Bor Jadi Harapan Baru
Permasalahan utama yang kini menjadi perhatian adalah terputusnya pasokan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sebuah langkah yang awalnya terkesan mengejutkan, namun Kepala Sekolah UPTD SPF Negeri Pea Bumbung, Nahdiana S.Pd., menjelaskan kepada Tipikorinvestigasinews.id, alasan di balik keputusan dilematis tersebut. “Kami terpaksa memutuskan aliran air bersih/PDAM demi menghemat pengeluaran. Kami memilih yang lebih ringan pembayarannya,” ungkap Nahdiana, Kamis, 2 Oktober 2025.
Lanjutnya, Keputusan ini diambil setelah observasi menunjukkan penggunaan air PDAM yang kurang efisien. “Setelah pulang sekolah, air sering dipakai anak-anak yang bermain di halaman sekolah. Bahkan pernah sampai pagi airnya hidup dan tidak dimatikan,” tambahnya. Untuk menekan beban biaya operasional yang semakin mencekik, pihak sekolah akhirnya berinisiatif mencari solusi mandiri. “Jadi, kami memutuskan untuk lebih meringankan pembayaran, kami sepakat untuk membuat sumur bor,” jelas Nahdiana. Meskipun sumur bor kini menjadi tumpuan utama, kebutuhan air minum bagi para siswa tetap menjadi prioritas utama dengan penyediaan air galon.
Perjuangan Melawan Buta Aksara di Tingkat Lanjut
Tak hanya persoalan infrastruktur, tantangan yang lebih mendalam terkait kualitas pendidikan juga menjadi fokus utama. Nahdiana tidak menampik adanya fakta mengejutkan: “Ada sekitar dua orang murid kelas lima yang belum bisa baca,” ujarnya dengan nada prihatin. Ini adalah alarm serius, mengingat siswa di jenjang kelas lima seharusnya sudah menguasai kemampuan membaca dan literasi dasar sebagai pondasi pembelajaran lebih lanjut.
Dengan total sembilan guru pengajar, pihak sekolah mengaku telah mengerahkan segala upaya. “Kami telah memberikan pelajaran tambahan bukan hanya di kelas lima saja, namun dari kelas satu hingga kelas enam. Kami sudah berupaya mengajar membaca, namun murid yang dimaksud kembali lupa,” tutur Nahdiana, menggambarkan kompleksitas tantangan yang mereka hadapi. Keterbatasan sumber daya dan metode pengajaran yang belum adaptif menjadi salah satu faktor yang menyulitkan.
Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua Kunci Keberhasilan
Di balik segala keterbatasan, semangat pantang menyerah para pendidik UPTD SPF Negeri Pea Bumbung tetap menyala. “Kami sebanyak sembilan orang guru di UPTD SPF Negeri Pea Bumbung akan terus memberikan pelajaran yang terbaik agar anak didik kami bisa pandai seperti yang wali murid inginkan… Kami tetap semangat untuk mengajar supaya mereka bisa semua pandai membaca,” tegas Nahdiana.
Namun, keberhasilan tidak hanya bergantung pada pihak sekolah. Nahdiana turut menghimbau dan berharap adanya peran aktif dari orang tua murid. “Kami dari Guru menghimbau dan berharap kepada Orang tua murid agar anaknya bisa yang kita harapkan pintar sehingga bisa membaca itu tidak cukup hanya belajar di sekolah saja, namun harus ada bantuan dan dukungan orang tua di rumah… supaya anak mau belajar mulai mengenal huruf dan angka, agar bisa membaca dan berhitung. Karena waktu anak lebih banyak di rumah daripada sekolah,” pungkasnya, menekankan pentingnya sinergi antara lingkungan sekolah dan rumah.
Kisah UPTD SPF Negeri Pea Bumbung ini bukan sekadar laporan, melainkan gambaran nyata akan kompleksitas tantangan pendidikan di daerah. Krisis air dan buta aksara hanyalah puncak gunung es dari kebutuhan mendesak akan perhatian serius dari pemerintah dan berbagai pihak terkait. Pemenuhan infrastruktur dasar yang memadai, dukungan anggaran yang berkelanjutan, serta peningkatan kualitas pengajaran yang adaptif dan inovatif adalah kunci untuk membuka gerbang masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak di Kabupaten Aceh Singkil yang kita cintai.{*}
Penulist/Editor Media Aceh Singkil : [Khalikul Sakda]







____________________________________________
