TAMBOLAKA. 24/04/2026. Tipikorinvestigasinews.id-Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Kamis (23/4/2026). Selain memantau kesiapan infrastruktur kesehatan, Menkes memberikan perhatian khusus pada isu kesehatan jiwa di wilayah tersebut.
Sentuhan Humanis: Menkes Dialog dengan Pasien ODGJ.
Di sela agenda utamanya, Menkes Budi menyempatkan diri mengunjungi seorang warga dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang masih dalam kondisi terpasung di Desa Kadi Pada, Kecamatan Kota Tambolaka.
Dalam kunjungan yang berlangsung sekitar 15 menit tersebut, Menkes didampingi oleh Penjabat Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, serta Bupati SBD, Ratu Ngadu Bonu Wulla dan Wakil Bupati, Dominikus Alphawan Rangga Kaka, S.P. Menkes sempat berdialog langsung dengan pasien tersebut untuk menanyakan nama, umur, hingga latar belakang penyebab gangguan jiwa yang dialaminya.
Melihat kondisi di lapangan, Menkes memberikan instruksi tegas kepada Kepala Dinas Kesehatan SBD, drg. Yulianus Kaleka, untuk meningkatkan standar kelayakan tempat perawatan pasien.
“Tolong tempat pasien ini dibuat lebih bagus dan layak lagi. Kalau bisa, sedapat mungkin dicarikan dokter spesialis yang khusus menangani ODGJ di Sumba Barat Daya,” tegas Menkes Budi.
Kesiapan RSUD Reda Bolo, Jelang Peresmian.
Agenda utama kunjungan ini adalah meninjau progres pembangunan RSUD Reda Bolo. Rumah sakit yang menelan anggaran sebesar Rp120 Miliar ini merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat pemerataan kualitas pelayanan kesehatan di NTT.
Menkes Budi tampak teliti memeriksa setiap sudut ruangan gedung baru tersebut guna memastikan fasilitas siap dioperasikan sebelum diresmikan pada Mei mendatang.
Tantangan Layanan Spesialis.
Meski infrastruktur gedung telah rampung, Direktur RSUD Reda Bolo, dr. Evi Marpaung, dalam sesi audiensi menyampaikan bahwa tantangan besar masih membayangi operasional rumah sakit.
*Keterbatasan Layanan Spesialistik: Masih minimnya dokter spesialis dan fasilitas penunjang medis tertentu.
*Tingginya Angka Rujukan: Akibat keterbatasan tenaga ahli, banyak pasien yang terpaksa dirujuk ke luar daerah untuk mendapatkan penanganan lanjutan.
Menanggapi hal tersebut, Menkes berkomitmen untuk terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah guna memenuhi kebutuhan tenaga medis dan alat kesehatan, sehingga RSUD Reda Bolo dapat menjadi pusat pelayanan kesehatan yang mandiri bagi masyarakat Sumba Barat Daya. Menkes di dampingi oleh Gubernur NTT, Bupati SBD, Wakil Bupati SBD, Sekda, Asisten 1 dan Pimpinan DPRD SBD.
(Pewarta. Joseph Kalumbang).







____________________________________________