Aceh Singkil , tipikorinvestigasinews.id ,- Program bantuan seragam sekolah senilai Rp1,7 miliar yang digulirkan Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menuai sorotan tajam. Program yang seharusnya menjadi angin segar bagi siswa terdampak bencana dan keluarga kurang mampu itu justru menyisakan tanda tanya besar di tengah masyarakat., senin {09/02/2026}
Pasalnya, hingga kini masih ditemukan sejumlah siswa yang disebut-sebut masuk kategori terdampak dan layak menerima bantuan, namun belum juga memperoleh seragam sebagaimana dijanjikan. Kondisi ini menimbulkan kecurigaan publik, apakah pendistribusian bantuan telah dilakukan secara merata, objektif, dan sesuai dengan data penerima yang valid, atau justru sarat dengan kepentingan tertentu.
“Bantuan ini menggunakan uang rakyat. Jika masih ada siswa yang belum menerima, maka wajar masyarakat bertanya: ke mana seragam itu disalurkan? Siapa yang sebenarnya diprioritaskan?” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Sorotan semakin menguat karena Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Singkil, Amran Ramli, diketahui juga merangkap jabatan sebagai sekretaris di dinas yang sama. Rangkap jabatan tersebut dinilai menambah keruh situasi, sekaligus memunculkan persepsi buruk terkait tata kelola dan pengawasan internal.
Di mata publik, kondisi ini ibarat membuka ruang abu-abu yang berpotensi melahirkan praktik pilih kasih, ketidakterbukaan, bahkan penyimpangan. Masyarakat pun mempertanyakan, apakah pendistribusian bantuan seragam dilakukan berdasarkan kebutuhan riil di lapangan, atau sekadar mengikuti kedekatan dan kepentingan tertentu.
Program dengan nilai fantastis tersebut seharusnya dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel. Setiap rupiah mesti bisa dipertanggungjawabkan, dan setiap seragam harus benar-benar sampai ke tangan siswa yang berhak.
Jika persoalan ini terus dibiarkan tanpa klarifikasi yang jelas, maka kepercayaan publik terhadap Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Singkil dikhawatirkan akan semakin tergerus. Pemerintah daerah pun didesak untuk segera turun tangan, melakukan evaluasi menyeluruh, serta membuka data pendistribusian bantuan kepada publik.
Pada akhirnya, masyarakat hanya menuntut satu hal sederhana: keadilan dan kejujuran. Apakah bantuan seragam sekolah ini benar-benar untuk anak-anak Aceh Singkil yang membutuhkan, atau ada kepentingan lain di baliknya? Jawabannya kini menunggu keberanian pemerintah untuk bicara terbuka., {syah}







____________________________________________