Pidie Jaya – Tipikorinvestigasinews.id
Senin, 12 Januari 2026.
Penderitaan korban banjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya hingga kini masih terus dirasakan. Salah satunya dialami oleh Nurhasanah (50), seorang janda miskin dengan empat orang anak, warga Gampong Meunasah Manyang Cut, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Dengan penuh harapan dan linangan air mata, Nurhasanah memohon perhatian serius dari pemerintah serta bantuan dunia internasional agar rumahnya dapat segera dibersihkan sebelum datangnya bulan suci Ramadan.
Sudah lebih satu bulan pascabanjir bandang melanda kawasan tersebut, namun rumah Nurhasanah belum tersentuh bantuan sama sekali. Lumpur tebal masih menggenangi bagian dalam rumah, bercampur dengan sisa-sisa material banjir yang mengeras. Kondisi tersebut membuat rumahnya tidak layak untuk ditempati, sehingga Nurhasanah terpaksa bertahan hidup di bawah tenda darurat bersama anak dan menantunya.
Kondisi tenda yang ditempati pun jauh dari kata layak. Saat hujan turun, air merembes masuk karena tenda bocor, menyebabkan mereka kerap basah, kedinginan, dan sulit beristirahat. Dalam keadaan serba terbatas, Nurhasanah hanya bisa pasrah menahan derita demi keselamatan anak-anaknya.
Rumah saya sampai sekarang belum dibersihkan sedikit pun. Lumpur masih penuh di dalam. Saya mau suruh orang bersihkan, tapi tidak ada uang,” ungkap Nurhasanah dengan suara bergetar.
Nurhasanah mengaku hidup dari penghasilan harian yang sangat tidak menentu. Ia hanya mampu memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Saya ini kerja satu hari, makan satu hari. Tidak ada sisa untuk bayar orang bersihkan rumah,” tambahnya.
Yang membuat hatinya semakin pilu, bulan suci Ramadan sudah semakin dekat. Sebagai seorang ibu dan kepala keluarga, Nurhasanah sangat berharap dapat menjalani ibadah Ramadan dengan layak bersama anak-anaknya di dalam rumah, bukan di tenda darurat yang bocor dan dingin.
Ujarnya,
Liputan syarli aceh







____________________________________________
