Jakarta : tipikorinvestigasinews.id – kademisi dan pengamat sosial, Dr. Iswadi, menegaskan bahwa kaum intelektual memiliki tanggung jawab moral untuk tetap menjaga dan menyampaikan kebenaran, sekalipun menghadapi tekanan sosial, politik, maupun arus opini publik yang berkembang di masyarakat. Hal tersebut disampaikannya dalam keterangannya kepada awak media di Jakarta.
Menurut Dr. Iswadi, peran intelektual tidak hanya sebatas menghasilkan gagasan atau kajian akademik, tetapi juga menjaga nilai-nilai moral, keadilan, dan kejujuran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia menilai bahwa keberanian menyuarakan kebenaran merupakan ciri utama seorang intelektual yang memiliki integritas.
Kaum intelektual tidak boleh kehilangan keberanian moral. Tugas mereka bukan hanya mencari pengetahuan, tetapi juga menjaga kebenaran dan menyampaikannya kepada publik, meskipun kadang tidak populer dan berisiko menimbulkan tekanan, ujar Dr. Iswadi.
Ia mengatakan bahwa dalam berbagai fase sejarah, perubahan besar sering lahir dari keberanian para pemikir yang tetap konsisten mempertahankan prinsip-prinsip kebenaran di tengah situasi yang tidak mudah. Menurutnya, keberadaan intelektual sangat penting sebagai penyeimbang dalam kehidupan demokrasi agar masyarakat tidak kehilangan arah akibat dominasi kepentingan tertentu.
Dr. Iswadi menilai bahwa saat ini masyarakat menghadapi tantangan besar di era digital, terutama terkait derasnya arus informasi yang tidak selalu disertai dengan kebenaran. Kemajuan teknologi dan media sosial, kata dia, memang memberikan ruang kebebasan berekspresi yang luas, namun pada saat yang sama juga memunculkan persoalan berupa penyebaran hoaks, propaganda, dan polarisasi sosial.
Di era digital sekarang, informasi bergerak begitu cepat. Banyak orang lebih mudah percaya pada sesuatu yang viral dibandingkan fakta yang sebenarnya. Karena itu, intelektual harus hadir menjadi penjernih keadaan dan menjaga akal sehat publik, katanya.
Ia menambahkan bahwa seorang intelektual harus mampu berdiri di atas kepentingan umum, bukan menjadi bagian dari kelompok yang hanya mengejar keuntungan pragmatis. Menurutnya, independensi menjadi syarat utama agar seorang akademisi atau pemikir dapat menjalankan fungsi kritik secara objektif dan bertanggung jawab.
Dr. Iswadi juga menyoroti kondisi dunia akademik yang menurutnya harus tetap menjadi ruang bebas bagi lahirnya pemikiran kritis. Ia mengingatkan bahwa kampus tidak boleh kehilangan fungsi moralnya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan kebebasan berpikir.
Kampus harus menjadi tempat yang melahirkan keberanian intelektual. Jangan sampai perguruan tinggi hanya menjadi tempat mencari gelar tanpa menghadirkan pemikiran yang mampu memberikan solusi bagi persoalan bangsa, tegasnya.
Menurut Dr. Iswadi, intelektual yang terlalu dekat dengan kekuasaan berpotensi kehilangan independensi dan objektivitas. Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga jarak yang sehat antara dunia akademik dengan kepentingan politik praktis maupun kepentingan ekonomi tertentu.
Ia menilai bahwa ketika intelektual kehilangan kebebasan berpikir, maka masyarakat juga akan kehilangan sumber pencerahan yang objektif. Dalam kondisi tersebut, ruang publik akan lebih mudah dipenuhi oleh opini-opini yang menyesatkan dan jauh dari nilai nilai kebenaran.
Kalau intelektual hanya mengikuti arus kekuasaan atau sekadar mencari popularitas, maka fungsi moral mereka akan hilang. Padahal masyarakat membutuhkan suara-suara yang jujur dan berani menyampaikan kenyataan apa adanya, ujarnya.
Selain membahas peran intelektual, Dr. Iswadi juga mengajak generasi muda untuk membangun budaya berpikir kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan lingkungan maupun tren media sosial. Menurutnya, anak muda harus memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapat berdasarkan pengetahuan, data, dan nilai-nilai etika.
Ia mengatakan bahwa masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Karena itu, generasi muda harus dibiasakan untuk mencintai ilmu pengetahuan, menghargai perbedaan pendapat, dan berani mempertahankan prinsip yang benar.
Anak muda jangan hanya sibuk mengejar popularitas atau pengakuan di media sosial. Bangsa ini membutuhkan generasi yang mampu berpikir jernih, kritis, dan memiliki integritas dalam menyampaikan kebenaran, katanya.
Pernyataan Dr. Iswadi mendapat perhatian dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, mahasiswa, aktivis sosial, hingga praktisi media. Banyak pihak menilai bahwa pesan tersebut relevan dengan kondisi sosial saat ini yang ditandai dengan meningkatnya polarisasi dan menurunnya kualitas dialog publik.
Menurut sejumlah pengamat, keberanian intelektual dalam menjaga nilai-nilai kebenaran memang menjadi kebutuhan penting di tengah situasi masyarakat yang semakin terfragmentasi akibat perbedaan pandangan politik maupun sosial. Dalam konteks tersebut, intelektual dinilai memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran publik yang lebih rasional dan berbasis fakta.
Di akhir keterangannya, Dr. Iswadi kembali menegaskan bahwa ukuran utama seorang intelektual bukanlah popularitas, melainkan integritas dan keberanian moral dalam membela kebenaran serta kepentingan masyarakat luas.
Kebenaran mungkin tidak selalu disukai banyak orang, tetapi sejarah akan selalu menghargai mereka yang tetap konsisten menjaga nilai nilai kejujuran, keadilan, dan kemanusiaan. Intelektual harus menjadi cahaya yang menerangi masyarakat, bukan sekadar mengikuti arus zaman, pungkasnya.
Melalui pandangan tersebut, Dr. Iswadi berharap kaum intelektual Indonesia dapat terus memainkan peran strategis dalam memperkuat demokrasi, meningkatkan literasi publik, serta menjaga moralitas kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah berbagai tantangan zaman modern.
Abdi S







____________________________________________