Penulis: Dr. Iswadi, M.Pd. Dosen Universitas Esa Unggul Jakarta
Opini : Pada akhir abad ke-13, tanah Jawa sedang mengalami gejolak besar. Kerajaan Singhasari yang dulu jaya di bawah pemerintahan Raja Kertanegara, runtuh akibat serangan Jayakatwang dari Kediri. Dalam kekacauan itu, seorang bangsawan muda bernama Raden Wijaya menantu Kertanegara, menjadi tokoh penting dalam membalikkan nasib sejarah. Kisah perjuangannya dalam mendirikan Kerajaan Majapahit bukan hanya tentang kecerdikan strategi militer, tetapi juga menjadi simbol kekuatan gotong royong nilai luhur masyarakat Nusantara.
Raden Wijaya awalnya harus melarikan diri setelah Singhasari jatuh. Dengan dibantu para pengikut setianya seperti Ranggalawe, Lembu Sora, Nambi, dan Arya Wiraraja , ia melintasi hutan dan sungai, mencari tempat yang aman untuk berlindung. Keadaan sangat sulit: mereka diburu oleh pasukan Kediri, tidak memiliki wilayah, apalagi pasukan yang besar. Namun, Raden Wijaya tidak menyerah.
Di masa sulit itulah, gotong royong mulai menjadi kekuatan utama Para pengikutnya tidak hanya bertindak sebagai prajurit, tetapi juga sebagai petani, tukang, dan pembuka jalan. Dengan kebersamaan, mereka membuka sebuah hutan lebat di wilayah Tarik, wilayah yang diberikan oleh Arya Wiraraja, mantan pejabat Singhasari yang kini berpihak kepada Raden Wijaya. Dari tempat inilah cikal bakal Majapahit dimulai.
Pembangunan desa baru itu dilakukan dengan semangat kebersamaan yang tinggi. Tanah dibersihkan bersama, rumah-rumah dibangun gotong royong, dan saluran air dibuat dengan tangan-tangan yang bekerja tanpa pamrih. Tak ada yang merasa lebih tinggi, karena mereka semua tahu: tanpa persatuan, mereka tidak akan bisa bertahan.
Nama Majapahit sendiri berasal dari buah maja yang pahit rasanya dan banyak ditemukan di wilayah tersebut. Meski pahit, nama itu justru menjadi lambang keteguhan hati dan semangat pantang menyerah. Dalam proses pembangunan desa ini, tidak sedikit warga dari desa-desa sekitar yang datang membantu. Mereka merasa simpati pada perjuangan Raden Wijaya yang ingin menegakkan keadilan dan mengusir penjajah.
Pada tahun 1292, bangsa Mongol dari Kekaisaran Yuan di Tiongkok datang ke Jawa untuk menghukum Raja Kertanegara yang dulu menolak tunduk kepada Kubilai Khan. Tanpa mengetahui bahwa Kertanegara sudah tewas, pasukan Mongol mendarat di Jawa dengan armada besar. Di sinilah kecerdikan Raden Wijaya muncul. Ia memanfaatkan situasi ini dengan mengajak Mongol bekerja sama menyerang Jayakatwang musuh bersama mereka.
Dalam peperangan itu, pasukan gabungan Raden Wijaya dan Mongol berhasil menggulingkan Jayakatwang dan menghancurkan Kediri. Setelah kemenangan itu, dengan strategi cerdas, Raden Wijaya justru berbalik menyerang pasukan Mongol Dengan kekuatan rakyat Majapahit dan dukungan para pengikut setianya, mereka berhasil memukul mundur pasukan asing itu dari tanah Jawa.
Kemenangan ini menjadi titik balik besar. Pada tanggal 10 November 1293 Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja pertama Kerajaan Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Kerajaan baru ini dibangun di atas fondasi kuat semangat kebersamaan, solidaritas, dan kerja sama rakyat. Para pengikut yang dulu bekerja bersamanya kini menjadi pejabat kerajaan, bukan karena kedudukan mereka, tetapi karena pengabdian dan loyalitas yang telah mereka tunjukkan sejak awal.
Majapahit berkembang pesat menjadi kerajaan besar yang kelak mencapai puncaknya di bawah pemerintahan Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Namun, fondasi kejayaan itu telah ditanam sejak masa awal oleh Raden Wijaya dan rakyat yang bahu membahu membangun Majapahit dari nol.
Nilai gotong royong yang menjadi ciri khas perjuangan Raden Wijaya terus diwariskan dalam budaya Majapahit. Dalam pembangunan desa, pertanian, irigasi, dan bahkan dalam pertahanan kerajaan, semangat saling membantu tanpa pamrih menjadi dasar kuat. Inilah warisan terbesar Raden Wijaya, bukan hanya dalam bentuk kekuasaan, tetapi dalam bentuk nilai budaya yang menyatukan rakyat dari berbagai daerah
Hingga kini, kisah Raden Wijaya menjadi cerminan betapa pentingnya persatuan dan kerja sama dalam menghadapi tantangan besar. Ia bukan hanya tokoh militer dan politik, tetapi juga seorang pemimpin rakyat yang memahami kekuatan sejati terletak pada kebersamaan
Semangat gotong royong yang dulu digunakan untuk mendirikan Majapahit kini tetap hidup dalam masyarakat Indonesia. Dari desa ke kota, dari pembangunan jembatan hingga penanggulangan bencana, nilai-nilai yang diwariskan oleh pendiri Majapahit itu terus hidup, menjadi identitas bangsa yang tak lekang oleh waktu.
(Ads)







____________________________________________
