Benarkah PT ESR Buka Hutan Bernilai Konservasi Tinggi? Fakta Satelit dan Laporan Mighty Earth Bicara

Putussibau, tipikorinvestigasinews.id – Kab,Kapuas Hulu kalimantan barat 28 oktober 2025

Pantauan terbaru dari citra satelit mengungkap bahwa area konsesi PT Equator Sumber Rezeki (ESR) berbatasan langsung dengan kawasan penyangga Taman Nasional Danau Sentarum, Kalimantan Barat — salah satu ekosistem rawa gambut dan danau terbesar yang menjadi habitat penting berbagai satwa endemik.
Fakta ini memperkuat kekhawatiran sejumlah lembaga lingkungan atas dugaan pembukaan hutan bernilai konservasi tinggi (HCVF) yang dilakukan oleh perusahaan tersebut.

Menurut laporan investigatif Mongabay yang ditulis oleh Hans Nicholas Jong, serta hasil pemantauan Mighty Earth melalui Laporan Rapid Response 49/2025, PT ESR — bagian dari First Borneo Group — tercatat telah membuka lebih dari 200 hektare hutan antara Agustus 2024 hingga Februari 2025.
Aktivitas ini berlangsung di dalam area konsesi perusahaan seluas 15.000 hektare, yang secara ekologis berfungsi sebagai penyangga habitat orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) — spesies berstatus Kritis Terancam Punah (Critically Endangered) menurut daftar merah IUCN.

Para pemerhati lingkungan menilai aktivitas tersebut berpotensi mengancam integritas kawasan konservasi Danau Sentarum serta mempercepat hilangnya keanekaragaman hayati di wilayah tersebut.

“Jika ekspansi terus berlanjut, sekitar 10.000 hektare hutan tropis berpotensi hilang. Itu berarti salah satu benteng terakhir habitat alami orangutan Kalimantan bisa lenyap,” ujar seorang peneliti dari Mighty Earth.

Induk perusahaan First Borneo Group, yang berkantor pusat di Jakarta, juga diketahui memiliki rekam jejak deforestasi di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera melalui anak perusahaannya.
Bahkan, beberapa perusahaan besar dunia seperti Nestlé dan Musim Mas dilaporkan telah memutus hubungan dagang dengan grup tersebut karena isu keberlanjutan lingkungan.

Berbagai lembaga lingkungan dan jaringan advokasi internasional kini mendesak pemerintah Indonesia untuk menghentikan segera aktivitas pembukaan hutan oleh PT ESR serta melakukan audit ekologis menyeluruh terhadap seluruh konsesi perusahaan.
Langkah tegas dinilai sangat penting untuk mencegah bencana ekologis dan kerusakan permanen ekosistem hutan tropis Borneo.

“Ini bukan sekadar soal bisnis sawit, tetapi tentang tanggung jawab global menjaga keberlangsungan spesies langka dan keutuhan ekosistem hutan tropis terakhir di Borneo,” tegas salah satu peneliti lingkungan dalam laporan Mighty Earth.

penulis:Adi ztc

Sumber:Mongabay – Hans Nicholas Jong, “Orangutan Habitat Under Siege as Palm Oil Company Clears Forest in Borneo”, 29 April 2025.

Laporan Mighty Earth Rapid Response 49/2025.

TIPIKOR INVESTIGASI NEWS.ID
⚖️ Tegakkan Keadilan, Perjuangkan Kebenaran
PERINGATAN: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial dan dikomersilkan tanpa seizin redaksi.

Pos terkait

banner 468x60 ____________________________________________banner 728x250
T I P I K O R
INVESTIGASI NEWS.ID
BREAKING NEWS
BERITA TERUPDATE • INFORMASI LINTAS DAERAH • MEDIA. NASIONAL TIPIKOR INVESTIGASI NEWS.ID • Menyajikan BERITA TERKINI • UNGKAP FAKTA • SOROT • KASUS • Investigasi Tajam, Informasi Terpercaya • Tegas, Jujur, dan Berintegritas • Sorot Fakta Tanpa Kompromi • Mengungkap Fakta Demi Kebenaran • Fakta Bicara, Kami Menyuarakan • Suara Fakta untuk Keadilan
─────────────────────────────────────────

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *