Mamasa,tipikorinvestigasinews.id — Sebanyak 21 pohon kopi dan satu pohon langsat milik warga bernama Nurdin dicabut secara sepihak hingga mati kering. Kejadian tersebut terjadi di kebun milik Nurdin dan diduga dilakukan oleh seseorang berinisial Mama’ Essa, seorang ASN yang juga diketahui mengajar di SMP Negeri 4 Kecamatan Sumarorong serta memiliki Taman Kanak-Kanak (TK) di Kelurahan Tabone.
Menurut keterangan Nurdin saat dikonfirmasi media, peristiwa ini terjadi setelah adanya kesalahpahaman terkait kepemilikan lahan. Nurdin mengaku bahwa sebelumnya ia memang mengerjakan lahan tersebut, namun dihentikan oleh Mama’ Essa dengan alasan bahwa lahan itu miliknya.
“Waktu itu saya diberitahu oleh Mama’ Essa agar menghentikan pekerjaan karena katanya itu lokasinya. Saya bertanya apa alasannya, dan dia menjelaskan bahwa suaminya pernah membeli lokasi itu dari seseorang bernama Accong pada tahun 2009 dengan harga Rp10 juta. Bahkan uangnya diantar langsung oleh Accong ke rumah mereka di Tabone,” ujar Nurdin.
Nurdin mengaku tidak mengetahui adanya kepemilikan orang lain karena tidak ada tanda-tanda atau penanda di lokasi tersebut. Namun setelah mendengar penjelasan Mama’ Essa, ia menghentikan kegiatan di lahan itu dan menyampaikan permohonan maaf.
“Kami sudah saling memahami. Saya minta maaf karena tidak tahu, dan saya bilang akan memindahkan tanaman kopi saya. Mama’ Essa juga mengatakan tidak apa-apa karena memang saya tidak tahu sebelumnya. Bahkan dia sempat menawarkan untuk membeli tanaman kopi saya, tapi saya tolak karena saya masih membutuhkan pohon kopi itu, apalagi jenisnya adalah kopi robusta Lampung yang langka,” jelas Nurdin.
Namun setelah kembali dari kampung halamannya di Desa Sepakuan, Kecamatan Balla, tempat ia menghadiri acara duka keluarganya, Nurdin mendapati tanaman kopinya telah dicabut dan dibiarkan kering berserakan di kebun.
“Saya kaget, saat sampai di lokasi, tanaman kopi saya sudah mati kering. Saya tidak tahu siapa pelakunya, tapi saya curiga itu perbuatan Mama’ Essa. Padahal sebelumnya kami sudah berdamai secara baik-baik, dan saya sudah berjanji akan memindahkan tanaman itu,” kata Nurdin dengan nada kecewa.
Nurdin menambahkan bahwa sebelum tiba di lokasi, ia sempat bertemu dan menyapa Mama’ Essa yang pulang dari sawah. Namun tidak ada pembicaraan mengenai pencabutan tanaman tersebut.
Kasus ini kini menuai perhatian masyarakat setempat karena dianggap menyangkut hak kepemilikan lahan dan tindakan sepihak yang merugikan pihak lain. Nurdin berharap agar permasalahan ini bisa diselesaikan secara adil dan tidak terulang di kemudian hari.
Pewarta media Tipikor kaperwil sulbar Ansar.







____________________________________________
