Jakarta : Tipikorinvestigasinews.id-Pendiri Pejuang Pendidikan Indonesia Dr. Iswadi, M.Pd. mengatakan Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia terus berupaya melakukan pembaruan dalam dunia pendidikan, khususnya terkait dengan keberagaman yang ada di Indonesia. Salah satu langkah besar yang diambil oleh Kemenag adalah penyusunan kurikulum berbasis “Cinta untuk Harmoni Keberagaman”. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat nilai-nilai toleransi, menghargai perbedaan, dan membangun persatuan dalam masyarakat yang sangat majemuk ini.
Dalam rangka menyikapi hal ini, Dr. Iswadi, M.Pd, seorang akademisi dan praktisi pendidikan, memberikan pandangannya terkait dengan inisiatif kurikulum tersebut.
Dr. Iswadi menilai bahwa penyusunan kurikulum berbasis cinta untuk harmoni keberagaman merupakan langkah yang sangat penting dan relevan di tengah tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia, terutama dalam hal pluralisme dan keberagaman agama, suku, budaya, serta pandangan hidup. Indonesia, dengan lebih dari 17.000 pulau dan lebih dari 300 suku bangsa, memang memiliki potensi besar untuk menjadi negara yang inklusif dan harmonis, namun seringkali keberagaman ini menjadi sumber konflik sosial dan ketegangan.Hal tersebut disampaikan , Dr. Iswadi, M. Pd. kepada wartawan, Senin 27 Januari 2025
Menurut Alumni Program Doktoral Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta tersebut , kurikulum berbasis cinta untuk harmoni keberagaman seharusnya mampu menanamkan pemahaman dan kesadaran sejak dini kepada siswa tentang pentingnya menghargai perbedaan yang ada.
“Pendidikan karakter yang berbasis pada prinsip cinta dan toleransi sangat diperlukan agar generasi muda tidak hanya tahu teori tentang keberagaman, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya. Dr. Iswadi menekankan bahwa tujuan utama dari kurikulum ini bukan hanya untuk membangun pemahaman tentang keberagaman, tetapi juga untuk menciptakan iklim yang lebih damai dan toleran di sekolah-sekolah, yang nantinya akan membentuk masyarakat yang lebih harmonis.
Salah satu konsep penting dalam kurikulum ini adalah penekanan pada integrasi nilai-nilai agama yang mengajarkan perdamaian dan toleransi. Dr. Iswadi menjelaskan bahwa setiap agama memiliki ajaran yang menekankan kedamaian dan saling menghormati, dan kurikulum berbasis cinta ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi ajaran tersebut. Dalam konteks ini, siswa diharapkan tidak hanya mengenal dan memahami agama mereka sendiri, tetapi juga menghargai keyakinan orang lain tanpa diskriminasi.
Selain itu, Dr. Iswadi juga menyoroti pentingnya pembelajaran lintas budaya dalam kurikulum ini. Indonesia memiliki keragaman budaya yang sangat kaya, dan penting untuk mengajarkan siswa agar mereka bisa memahami dan merayakan perbedaan budaya sebagai kekayaan bangsa, bukan sebagai hal yang membedakan atau memecah belah. Pembelajaran lintas budaya ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap saling menghargai antara sesama anak bangsa, serta memberi mereka kemampuan untuk hidup berdampingan secara damai dengan siapa pun, meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda.
Namun, Dr. Iswadi juga mengingatkan bahwa implementasi kurikulum berbasis cinta untuk harmoni keberagaman tidak hanya terletak pada materi yang diajarkan di sekolah, tetapi juga pada cara guru dan tenaga pendidik mentransformasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. “Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan bagi siswa. Oleh karena itu, penguatan kompetensi guru dalam hal toleransi, empati, dan pemahaman terhadap keberagaman sangat penting,” ujarnya.
Penguatan kapasitas guru melalui pelatihan-pelatihan yang fokus pada nilai-nilai keberagaman dan toleransi menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan dalam penyelenggaraan kurikulum ini.
Dalam pelaksanaannya, Dr. Iswadi menyarankan agar kurikulum ini tidak bersifat teoritis semata, tetapi harus melibatkan metode pembelajaran yang aktif dan kontekstual. Misalnya, dengan menggunakan studi kasus atau proyek bersama yang melibatkan berbagai kelompok budaya dan agama untuk menciptakan pemahaman yang lebih mendalam mengenai keberagaman. “Proses pembelajaran yang interaktif dan partisipatif akan lebih mudah diingat dan diaplikasikan oleh siswa,” ujar Dr. Iswadi. Metode seperti ini juga dapat memupuk rasa empati dan kerjasama antar siswa, yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat yang plural.
Selain itu, Dr. Iswadi menekankan pentingnya peran keluarga dan masyarakat dalam mendukung kurikulum berbasis cinta ini. Meskipun sekolah memiliki peran yang sangat penting, namun pendidikan nilai-nilai cinta dan harmoni harus dimulai dari rumah. Keluarga sebagai lingkungan pertama bagi anak-anak harus mampu menanamkan sikap toleransi dan saling menghargai, agar nilai-nilai tersebut bisa berkembang dengan baik ketika anak-anak berada di luar rumah, di sekolah atau dalam masyarakat.
Secara keseluruhan, Dr. Iswadi sangat mengapresiasi langkah Kemenag dalam menyusun kurikulum berbasis cinta untuk harmoni keberagaman. Ia berharap inisiatif ini tidak hanya menjadi sebuah wacana, tetapi dapat dilaksanakan dengan serius dan berkesinambungan. “Indonesia harus mampu menjadi contoh dunia dalam membangun masyarakat yang plural, inklusif, dan harmonis. Kurikulum ini adalah salah satu langkah strategis untuk mencapai tujuan tersebut,” kata Dr. Iswadi.
Dengan penguatan kurikulum berbasis cinta untuk harmoni keberagaman, diharapkan generasi penerus bangsa Indonesia akan lebih siap menghadapi tantangan global yang semakin kompleks, sambil tetap mempertahankan identitas bangsa yang kaya akan keberagaman demikian pungkas Dr. Iswadi, M.Pd. (*)
Editor ; ads






____________________________________________