TAMBOLAKA,Tipikorinvestigasinews.id–
29 Januari 2026.
Sumba Barat Daya (SBD) dikenal sebagai permata pariwisata internasional berkat kekayaan kulturalnya yang autentik, seperti tradisi Pasola. Namun, akhir-akhir ini, keindahan tersebut terdistorsi oleh serangkaian tragedi pembunuhan yang terjadi, bahkan di tengah momentum latihan adat. Fenomena ini menciptakan paradoks sosiokultural: di satu sisi, SBD berupaya mengeksploitasi potensi wisatanya, namun di sisi lain, stabilitas keamanan domestik berada dalam kondisi yang krusial mengkhawatirkan.
*Dampak Kriminogenik terhadap Sektor Pariwisata*
Eskalasi tindak pidana pembunuhan dengan motif yang kian beragam bukan sekadar persoalan hukum pidana semata, melainkan ancaman serius terhadap reputasi destinasi (destination branding). Dalam studi pariwisata, persepsi keamanan adalah variabel determinan bagi wisatawan mancanegara. Jika kekerasan terus tereskalasi, citra budaya Sumba yang memesona akan tercederai oleh stigma daerah rawan konflik. Hal ini berpotensi memicu penurunan devisa dan kepercayaan investor di sektor pariwisata.
*Keterbatasan Infrastruktur Penegakan Hukum*
Kritik terhadap penurunan kinerja kepolisian di wilayah hukum Polres SBD perlu dilihat secara objektif melalui kacamata manajemen sumber daya organisasi. Saat ini, Kepolisian Resor SBD dihadapkan pada tantangan yang tidak proporsional antara volume kasus dengan ketersediaan fasilitas pendukung:
– Depresiasi Logistik: Fakta bahwa unit kendaraan operasional (seperti mobil Dalmas) telah melampaui usia ekonomisnya (puluhan tahun) adalah hambatan logistik yang fatal. Hal ini menghambat mobilitas personel dan barang bukti secara cepat (quick response).
– Kesenjangan Personel: Keterbatasan jumlah personel dibandingkan luas wilayah dan kompleksitas konflik sosial mengakibatkan penanganan kasus seperti kasus Wae Pengali mengalami stagnasi atau belum terungkap secara tuntas.
– Efek Domino Anggaran: Minimnya dukungan anggaran berbanding lurus dengan rendahnya efektivitas investigasi dan preventivitas di lapangan.
*Sinergitas Multisektoral sebagai Solusi Preventif*
Penyelesaian krisis keamanan di SBD tidak dapat dibebankan sepenuhnya pada pundak kepolisian. Diperlukan pendekatan pentahelix yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan:
– Lembaga Adat dan Tokoh Agama: Melakukan revitalisasi nilai-nilai luhur budaya agar tradisi seperti Pasola tidak lagi ternoda oleh pertumpahan darah.
– Forkopimda dan DPRD: Diperlukan komitmen politik untuk penguatan anggaran keamanan daerah serta perbaikan fasilitas sarana-prasarana bagi Polres SBD.
– Sosialisasi Pencegahan: Melakukan edukasi hukum secara masif di tingkat akar rumput untuk menekan ego sektoral atau kelompok yang memicu konflik.
*Langkah Konkret untuk Mendukung Fasilitas Polres SBD*
Diperlukan langkah konkret dari Kapolri maupun Daerah untuk mendukung fasilitas Polres SBD secara total. Kita tidak boleh membiarkan nyawa melayang menjadi berita bulanan di tanah Sumba Barat Daya yang kita cintai ini.
Redaksi opini : Ketua DPC PWMOI SBD (Persatuan Wartawan Media Online Indonesia) Sumba Barat Daya.
Robertus S Djola
Reporter : Gunter Guru Ladu Meha.







____________________________________________
