Mataram, (NTB)- Tipikorinvestigasinews.id- Suasana religius menyelimuti kawasan pesisir Pantai Loang Baloq, Kota Mataram, saat perayaan Lebaran Topat. Ribuan warga dari berbagai daerah memadati kompleks makam keramat ulama besar, Maulana Syech Gauz Abdurrazak,yang lebih dikenal sebagai Sayyid Tohri. Mereka datang tidak hanya untuk berziarah, tapi juga untuk merayakan tradisi Lebaran Topat dengan makan ketupat bersama keluarga di area sekitar makam.
Lebaran Topat, yang dirayakan sepekan setelah Idulfitri, menjadi momen khas masyarakat Lombok untuk menggabungkan tradisi kuliner dan spiritualitas. Di Makam Loang Baloq, para peziarah tak hanya menabur bunga dan memanjatkan doa di makam ulama, tetapi juga mengikuti zikir bersama dan menyantap ketupat lengkap dengan lauk-pauk yang dibawa dari rumah.
Menurut Mujemal, pengelola makam, sejarah keberadaan makam Loang Baloq tidak bisa dilepaskan dari sosok Sayyid Tohri, seorang ulama besar asal Jazirah Arab yang datang ke Palembang pada tahun 1866, lalu melanjutkan perjalanannya hingga mendarat di pesisir Ampenan, Mataram. Di tanah inilah, ia menyebarkan ajaran Islam yang kemudian sangat dihormati dan diyakini masyarakat Lombok.
“Beliau adalah tokoh yang dihormati karena dakwahnya yang damai dan mendalam. Banyak warga yang merasa mendapat keberkahan dengan berziarah ke sini,” ujar Mujemal Senin (7/4/2025).
Selain makam Sayyid Tohri, di kompleks yang sama juga terdapat makam Datuk Laut dan makam Anak Yatim, yang turut menjadi tujuan peziarah dari dalam maupun luar Lombok. Mereka datang dengan niat mendoakan arwah para wali agar diterima di sisi Allah SWT.
Tradisi spiritual sambung Mujemal tidak hanya hadir saat Lebaran Topat. Di hari-hari biasa, makam ini tetap ramai dikunjungi, terutama oleh warga yang memiliki nazar atau hajat. “Hari hari biasa juga ramai tapi tidak seramai saat lebaran biasanya ada yang menjalankan zikir bersama, bahkan menyembelih kambing sebagai tanda syukur dan membagikan dagingnya kepada warga sekitar.”jelasnya.
Namun kata Mujemal ada aturan yang harus ditaati peziarah, salah satunya adalah larangan masuk bagi perempuan yang sedang menstruasi. Selain itu, mengingat lokasi makam yang cukup sempit, pengunjung diimbau untuk tetap tertib dan menjaga suasana agar tetap khidmat.
“Kalau lagi ramai ya biasanya bergiliran masuk boleh siapa saja hanya perempuan yang sedang halangan tidak boleh masuk,” Pungkasnya.
(Timred Tipikor Investigasi NTB)







____________________________________________