Aceh Singkil | tipikorinvestigasinews.id ~ Ironi memilukan terjadi di kawasan perkebunan kelapa sawit PT Nafasindo, di kecamatan Singkil Kabupaten Aceh Singkil. Sebuah Mushalla yang seharusnya menjadi tempat suci untuk beribadah, kini beralih fungsi menjadi tempat berteduh kawanan kerbau liar.
Tak hanya mengotori rumah ibadah, gerombolan ternak tersebut juga merusak fasilitas publik hingga berantakan.
Kondisi memprihatinkan ini diungkapkan langsung oleh Asisten Kepala (Askep) PT Nafasindo, Taupiq, melalui keterangannya di grup Berita Terkini Aceh Singkil, Minggu (3/5/2026). Ia menyoroti rendahnya kesadaran pemilik ternak yang membiarkan hewan peliharaannya berkeliaran tanpa pengawasan, terutama pada malam hari.
Menurut laporan Taupiq, kawanan kerbau tersebut kerap menjadikan teras dan area sekitar Mushalla sebagai lokasi parkir tiap malam. Dampaknya sangat nyata: pagar-pagar pelindung di sekeliling Mushalla kini hancur total akibat diseruduk dan dijadikan tempat bergesek oleh hewan bertubuh besar tersebut.
“Beginilah cara beternak yang tidak bertanggung jawab. Ada ternaknya, ada pemiliknya, tapi tidak ada kandangnya,” ujar Taupiq dengan nada kecewa.
Ia menambahkan bahwa Mushalla kini seolah menjadi tempat perlindungan utama bagi ternak-ternak tersebut, baik siang maupun malam. Hal ini tentu mengganggu estetika, kebersihan, dan kenyamanan para karyawan serta masyarakat sekitar yang ingin melaksanakan ibadah.
Fenomena “ternak liar” di Aceh Singkil memang menjadi masalah klasik yang tak kunjung usai. Namun, ketika aset rumah ibadah mulai dirusak, hal ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak.
Melalui pesan yang sarat akan harapan, Taupiq meminta dengan sangat agar para pemilik ternak memiliki hati nurani untuk menertibkan hewan peliharaan mereka.
“Ya Allah, bukakanlah hati para pemilik ternak. Kami meminta dengan sangat agar ternak-ternak tersebut diurus dengan benar, diberikan kandang, dan tidak dibiarkan merusak fasilitas umum, apalagi tempat ibadah,” tegasnya.
Kejadian ini kembali mencuatkan urgensi penegakan aturan terkait penertiban hewan ternak di wilayah Aceh Singkil. Masyarakat berharap pihak terkait, baik pemerintah desa maupun aparat penegak Perda (Satpol PP), dapat mengambil tindakan tegas agar konflik antara pemilik ternak dan pengelola fasilitas umum tidak terus berlarut.
Hingga berita ini diturunkan, kerusakan pagar Mushalla di lingkungan PT Nafasindo tersebut masih terlihat jelas, sementara jejak kotoran ternak di area rumah ibadah menjadi pemandangan yang menyedihkan bagi warga yang melintas.[]
Laporan : Khalikul Sakda.







____________________________________________