LOMBOK TIMUR—Tipikorinvestigasinews.id—Warga tumpah ruah untuk berburu cacing laut atau bau nyale di sejumlah pantai di Lombak Tengah,Nusa Tenggara Barat(NTB) .Mereka bahkan mulai turun Ke pantai sejak pukul 04.00 Wita sembari membawa jaring,senter,toples sebagai wadah nyale nya.
Baun nyale merupakan tradisi Tahunan masyarakat Lombok dalam menangkap cacaing laut sebagai bentuk penghormatan terhadap pengorbanan Putri Mandalika.Kata bau nyale berasal dari bahasa Sasak, yakni(bau) menangkap dan( nyale) berarti cacing laut.
Bau nyale dilakukan disetiap tanggal 20 bulan 10 dalam penanggalan tradisional Sasak.Bau nyale berkaitan dengan kisah Putri Mandalika, seseorang putri berparas cantik dan berbudi luhur yang diperbutkan oleh banyak pangeran diberbagai kerajaan.Kemunculan nyale di pesisir Lombok Tengah berbeda dengan predeksi pemerintahan daerah setempat.Berdasarkan hasil Sangkep warga,pemerintahan menetapkan puncak event bau nyale pada tanggal 18-19 Februari 2025.Karna nyale ini muncul selama lima hari berturut-turut maka orang tuanya dulu menyebut (lampa lime).
Konon,Sang Putri tidak menerima berbagai pinangan para pangeran tersebut karna jika ia memilih salah satunya,bencana besar akan datang.Dan dia kemudian membuang dirinya ketengah laut dan menjelma menjadi nyale.
Sebelumnya pemerintahan kabupaten (Penkab)Lombok Tengah menggelar rapat koordinasi dengan seluruh penangkau kepentingan guna mempersiapkan perayaan bau nyale.
Puncak acara Bau Nyale akan berlansung di pante Seger,karna putri nyale dulu menceburkan diri ke Pantai Seger,Desa Kuta,Kecamatan Pujut.Penkab Lombok Tengah juga telah berkoordinasi dengan Injourney Tourism Development Corporation (ITDC)selaku pemilik kawasan untuk memastikan kelancaran acara.(Tim RED Tipikor Investigasi News.id. NTB)






____________________________________________