Bekasi : tipikorinvestigasinews.id – Di balik dinamika perkuliahan yang seringkali padat dan penuh tuntutan, hadir sosok dosen yang mampu mengubah ruang kelas menjadi tempat yang tidak hanya mendidik, tetapi juga menginspirasi dan menghidupkan semangat belajar: Dr. Iswadi, M.Pd. Bagi banyak mahasiswa di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Esa Unggul, nama beliau bukan sekadar tertera dalam daftar pengajar. Ia hadir sebagai figur yang membekas, karena bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai yang akan kami bawa jauh melampaui batas ruang kuliah.
Dr. Iswadi dikenal sebagai pengampu dua mata kuliah penting Public Relations Writing dan Interview & Collection Data . Dalam setiap pertemuan, beliau tidak hanya mengandalkan kekuatan teori atau buku teks, melainkan menghadirkan pengalaman belajar yang hidup, membumi, dan sangat relevan dengan kebutuhan mahasiswa masa kini. Metode pengajarannya terasa berbeda. Ia tidak menggurui, melainkan membimbing menjadi fasilitator yang memberi ruang bagi mahasiswa untuk tumbuh melalui eksplorasi gagasan, dialog terbuka, dan keberanian untuk berpikir kritis.
Salah satu ciri khas beliau adalah kemampuannya untuk menciptakan suasana kelas yang egaliter dan membangun kepercayaan diri mahasiswa. Beliau sering kali mengingatkan, “Tidak perlu takut salah. Kalau salah, tidak akan dihukum. Kalimat ini, meski sederhana, mampu membuka pintu bagi kami untuk lebih berani dalam menyampaikan pendapat. Di tengah budaya akademik yang kadang terlalu menekankan pada kesempurnaan, beliau justru menanamkan pentingnya proses bahwa salah adalah bagian dari belajar, dan keberanian untuk mencoba jauh lebih berharga dari sekadar hasil akhir.
Dari berbagai penuturan mahasiswa, baik itu Grace, Nia, maupun Kamila, satu benang merah yang tampak jelas adalah konsistensi beliau dalam mengedepankan pembelajaran yang aktif, reflektif, dan humanis. Grace, misalnya, merasakan bagaimana dorongan Dr. Iswadi untuk menjadi mahasiswa yang aktif dan mengenal diri sendiri telah memberinya kekuatan untuk lebih percaya pada proses belajar. Ia bahkan merasa sangat termotivasi setelah mendengar kisah perjuangan beliau dalam menempuh pendidikan. Bagi Grace, hal itu bukan sekadar cerita, melainkan sumber inspirasi yang membuatnya menjalani pendidikan dengan lebih sungguh-sungguh.
Nia, di sisi lain, menyoroti keefektifan metode mengajar Dr. Iswadi. Penjelasan yang sistematis, contoh-contoh yang relevan, serta kedisiplinan dalam menjalankan perkuliahan menjadi kombinasi yang membuat suasana belajar terasa produktif dan profesional. Beliau selalu hadir tepat waktu, tidak pernah abai terhadap jadwal, dan memberikan tanggung jawab yang jelas dalam setiap tugas yang diberikan. Tetapi yang lebih penting, menurut Nia, adalah sikap beliau yang mendorong mahasiswa untuk berbicara tanpa rasa takut atau keterpaksaan. Suatu hal yang sangat penting dalam membentuk pribadi komunikator yang tangguh dan percaya diri.
Sementara itu, Kamila memberikan pandangan yang menyoroti sisi humanis dan interaktif dari Dr. Iswadi. Bagi Kamila, beliau adalah pribadi yang sabar, penuh perhatian, dan sangat menghargai setiap bentuk partisipasi mahasiswa. Responsivitas beliau terhadap pertanyaan bahkan di luar topik mata kuliah menunjukkan bahwa beliau bukan hanya seorang pengajar, tetapi juga pendengar yang baik. Beliau hadir sepenuhnya dalam proses belajar-mengajar, menjadikan setiap kelas sebagai ruang yang menyenangkan dan inklusif.
Keistimewaan lain dari Dr. Iswadi adalah kemampuannya untuk membawa ilmu komunikasi menjadi sesuatu yang tidak hanya teoritis, tetapi juga aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Setiap penjelasan beliau terasa kontekstual selalu terkait dengan realita sosial yang sedang terjadi. Ia tidak hanya berbicara tentang bagaimana menulis siaran pers atau melakukan wawancara, tetapi juga menyelipkan nilai-nilai etika, kepekaan sosial, serta tanggung jawab profesional dalam setiap materi. Itulah yang membuat banyak mahasiswa merasa bahwa mereka sedang belajar sesuatu yang nyata dan bermakna, bukan sekadar menghafal teori.
Yang paling mengesankan, Dr. Iswadi tidak pernah merasa dirinya lebih tinggi dari mahasiswanya. Ia hadir dengan kerendahan hati, menjadikan proses belajar sebagai kolaborasi, bukan dominasi. Hal ini membuat mahasiswa merasa dihargai, didengarkan, dan diberdayakan. Suasana kelas menjadi ruang yang penuh semangat, di mana kami merasa bebas untuk bertanya, berdiskusi, bahkan mengkritisi tanpa rasa takut. Semua itu dibangun atas dasar saling percaya dan saling menghormati.
Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, kami sangat menyadari bahwa kompetensi teknis tidak akan berarti tanpa dilandasi oleh karakter, etika, dan keberanian untuk berkomunikasi dengan jujur serta bijaksana. Dan di sinilah peran Dr. Iswadi sangat terasa. Beliau bukan hanya mengajarkan apa yang harus dikatakan, tetapi juga bagaimana cara menyampaikan pesan dengan tepat, santun, dan kontekstual baik dalam komunikasi akademik, profesional, maupun personal.
Kini, ketika perjalanan kami di bangku kuliah terus berjalan, kami membawa serta nilai-nilai yang telah beliau tanamkan: keberanian untuk berbicara, tanggung jawab dalam menyampaikan pesan, dan kesungguhan dalam menempuh pendidikan. Sosok beliau menjadi salah satu fondasi yang membentuk identitas kami sebagai calon sarjana komunikasi yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan etis.
Harapan kami, semoga Dr. Iswadi selalu diberikan kesehatan, semangat, dan kekuatan untuk terus mendampingi generasi mahasiswa yang akan datang. Warisan ilmu dan nilai yang beliau berikan akan terus hidup, tidak hanya dalam tulisan dan karya kami, tetapi juga dalam cara kami berkomunikasi dan memandang dunia.##







____________________________________________
