POLEWALI MANDAR Tipikorinvestigasinews.id Duka mendalam menyelimuti keluarga almarhum Jusri, warga Dusun Lakkese, Desa Lenggo, Kecamatan Bulo, Kabupaten Polewali Mandar. Namun kesedihan keluarga tidak hanya karena kehilangan orang tercinta, melainkan juga akibat sulitnya akses jalan yang memaksa warga menandu jenazah sejauh kurang lebih 8 kilometer melewati hutan dan sungai demi membawa pulang almarhum ke rumah duka.
Jusri meninggal dunia di Puskesmas Bulo, Desa Patambanua, pada Rabu, 29 April 2026, akibat penyakit maag akut yang dideritanya. Setelah dinyatakan meninggal dunia, keluarga bersama warga segera berupaya memulangkan jenazah ke Dusun Lakkese. Namun buruknya kondisi infrastruktur di wilayah tersebut membuat proses pemulangan berubah menjadi perjalanan panjang yang penuh perjuangan dan keprihatinan.
Akses jalan menuju dusun diketahui telah lama mengalami kerusakan parah. Jalan berlumpur, berbatu, dipenuhi tanjakan curam, serta licin akibat hujan membuat kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas. Dalam kondisi tersebut, warga tidak memiliki pilihan lain selain menandu jenazah secara bergantian menggunakan tandu sederhana.
Dengan penuh rasa duka, puluhan warga berjalan kaki melewati jalan setapak di tengah hutan, menuruni medan terjal, hingga menyeberangi sungai besar dengan arus cukup deras. Meski lelah dan penuh risiko, warga tetap bahu membahu memastikan jenazah Jusri dapat tiba di rumah duka dengan selamat.

Kepala Dusun Lakkese, Daeng Maloga, mengatakan kondisi seperti itu bukanlah kejadian pertama yang dialami masyarakat di wilayah pedalaman Kecamatan Bulo. Menurutnya, kerusakan jalan telah lama menjadi persoalan serius yang belum mendapat penanganan maksimal.
“Kalau ada warga sakit, ibu melahirkan, atau meninggal dunia, masyarakat terpaksa ditandu ramai-ramai karena kendaraan tidak bisa masuk. Kami sudah lama berharap ada perhatian serius dari pemerintah,” ujarnya.
Ia menambahkan, saat musim hujan tiba kondisi jalan semakin memburuk hingga nyaris lumpuh total. Aktivitas masyarakat terganggu, distribusi kebutuhan pokok terhambat, dan anak-anak sekolah harus berjibaku melewati lumpur demi bisa mengenyam pendidikan.
Peristiwa pemulangan jenazah Jusri ini pun memunculkan keprihatinan luas di tengah masyarakat. Banyak warga menilai kondisi tersebut menjadi bukti bahwa masih ada wilayah di Polewali Mandar yang belum merasakan pemerataan pembangunan infrastruktur.
Di saat sejumlah daerah telah menikmati akses jalan yang layak dan transportasi memadai, masyarakat di pelosok justru masih harus mempertaruhkan tenaga dan keselamatan demi membawa orang sakit maupun jenazah. Situasi ini dinilai sebagai ironi pembangunan yang seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi.
Warga menegaskan bahwa jalan bukan hanya sarana penunjang ekonomi, tetapi kebutuhan dasar yang berkaitan langsung dengan keselamatan, kesehatan, pendidikan, dan nilai kemanusiaan. Ketika akses jalan rusak dan tidak dapat dilalui kendaraan, masyarakat kecil menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
“Jangan tunggu ada korban lagi baru diperhatikan. Kami juga warga negara yang berhak mendapatkan akses jalan yang layak,” ungkap salah seorang warga dengan nada kecewa.
Perjalanan panjang menandu jenazah Jusri sejauh 8 kilometer melewati hutan dan sungai kini menjadi simbol penderitaan masyarakat pedalaman yang hidup dalam keterbatasan akses infrastruktur. Kejadian ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi pihak terkait agar tidak lagi menutup mata terhadap kondisi jalan di wilayah terpencil.
Masyarakat berharap pemerintah segera turun langsung melihat kondisi di lapangan dan mengambil langkah nyata untuk memperbaiki akses jalan menuju Dusun Lakkese serta wilayah pedalaman lainnya di Kecamatan Bulo. Sebab bagi warga, jalan yang layak bukan hanya soal pembangunan fisik, melainkan bentuk penghormatan terhadap hak hidup dan nilai kemanusiaan masyarakat di pelosok daerah.
Pewarta media Tipikor kaperwil sulbar Ansar.




____________________________________________