Labuan Bajo,Tipikorinvestigasinews.id – Perayaan Hari Raya Pentakosta di Gereja Santo Yosep Pekerja Stasi Mberata berlangsung meriah dan penuh nuansa budaya lokal, Minggu (24/5/2026). Ibadah yang dipimpin RD. Ferdinandus Marianus Mayus itu dimeriahkan oleh pelayanan anak-anak SEKAMI (Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner) melalui paduan suara, tarian mazmur, serta tradisi Torok Tae atau doa adat khas Manggarai.
Keterlibatan anak-anak dalam liturgi menjadi perhatian umat karena menampilkan kekayaan inkulturasi budaya dalam Gereja Katolik, khususnya di wilayah Flores dan Nusa Tenggara Timur. Perpaduan antara unsur liturgi gereja dan budaya lokal menghadirkan suasana ibadah yang khusyuk sekaligus penuh sukacita.
Salah satu momen yang menarik perhatian umat ialah penampilan Torok Tae yang dibawakan oleh anak-anak SEKAMI. Tradisi doa lisan khas Manggarai yang biasanya disampaikan oleh tua adat atau tokoh masyarakat di depan altar itu kali ini dibawakan oleh Jo, anak berusia lima tahun dari Stasi Mberata.
Penampilan tersebut mendapat apresiasi dari umat karena menunjukkan bahwa generasi muda juga mampu melestarikan tradisi budaya dan nilai spiritual warisan leluhur. Dalam perayaan Pentakosta, Torok Tae disisipkan secara inkulturatif pada bagian doa umat.
Isi doa adat tersebut berupa ungkapan syukur atas turunnya Roh Kudus, permohonan berkat bagi umat, tanah dan hasil bumi, serta doa untuk kedamaian seluruh masyarakat.
Tidak hanya itu, tarian mazmur yang dibawakan anak-anak SEKAMI juga menambah semarak perayaan Ekaristi. Dengan mengenakan busana adat Manggarai dan seragam SEKAMI, para penari mengiringi bait-bait mazmur sehingga menciptakan suasana liturgi yang hidup dan penuh penghayatan.
Mazmur yang biasanya dibawakan oleh orang dewasa kali ini dipercayakan kepada anak-anak, termasuk penampilan Citra yang tampil percaya diri dan memukau umat. Kehadiran mereka dinilai menjadi tanda lahirnya generasi penerus pelayanan Gereja.
Anak-anak SEKAMI juga membawakan lagu-lagu pujian bertema Roh Kudus seperti “Datanglah Ya Roh Kudus” dengan nuansa budaya lokal yang riang dan penuh semangat.
Pada perarakan persembahan, anak-anak membawa hasil bumi serta simbol buah-buah Roh Kudus sebagai lambang rasa syukur dan persembahan umat kepada Tuhan.
Perayaan Ekaristi Minggu pukul 10.00 WITA itu berlangsung penuh sukacita. Keterlibatan aktif anak-anak dalam liturgi diharapkan mampu menumbuhkan iman, cinta kasih, dan semangat pelayanan sejak usia dini.
“Semoga melalui pelayanan ini, anak-anak semakin bertumbuh dalam iman, cinta kasih, dan semangat melayani Tuhan serta sesama,” ungkap salah satu pembina SEKAMI usai perayaan.
(Tim)







____________________________________________
