๐น ๐ฎ ๐ต ๐ฎ ๐ฐ ๐ด ๐ท Investigasi News.id,-Lombok Utara ,-Senin 24-Maret-2025-Di balik kisah tragis Rizkil Watoni, tersembunyi cerita tentang perjuangan, pengorbanan, dan tekad seorang anak desa yang terus mencari jalan keluar dari kesulitan hidupnya. Rizkil, pemuda asal Dusun Batu Jompang, Desa Sesait, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, kelahiran 1 Juli 1999 memiliki perjalanan hidup yang penuh liku-liku.
Memulai dari Nol
Lahir dari keluarga sederhana, Rizkil dikenal sebagai sosok pekerja keras. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Madrasah Aliyah (MA) pada tahun 2016, ia memutuskan untuk memulai usaha kecil-kecilan dengan menjual cilok.
Kendati demikian, Rizkil merasa bahwa hidupnya harus melangkah lebih jauh. Pada tahun 2017, ia memutuskan merantau ke Malaysia untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit. Rambut gondrongnya menjadi simbol perlawanan terhadap kelelahan dan kerasnya pekerjaan di negeri orang.
Namun, kehidupan mempertemukan Rizkil dengan bencana. Pada tahun 2018, gempa dahsyat mengguncang Lombok, memaksa Rizkil kembali ke kampung halamannya. Rumah yang dibangunnya dengan kerja keras selama di Malaysia hancur akibat gempa.
Hasil dari malaysia hancur semua,โ tulisnya dalam video kisah hidupnya yang dibagikan 15 Februari 2025.
Meski demikian, Rizkil tidak menyerah. Dengan sisa uang yang ia miliki, Rizkil memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Nahdlatul Ulama Mataram, mengambil jurusan Teknik Lingkungan.
Ketidakcocokan dengan jurusan membuatnya pindah ke IKIP Mataram (kini Undikma), sebelum akhirnya ia mendapatkan beasiswa di Universitas Islam Sultan Agung Semarang, jurusan Planologi (Perencanaan wilayah dan kota).
Tahun-Tahun Penuh Perjuangan
Perjuangan Rizkil adalah potret kegigihan yang luar biasa. Untuk bertahan hidup, ia menjalani berbagai pekerjaan, mulai dari beternak, menjadi tukang sapu, menjual tempe, hingga menjadi badut acara Lazis Sultan Agung. Tak hanya itu, Rizkil juga menjadi mentor anak-anak SMK, desainer grafis, bahkan terlibat magang di kementerian. Di sela-sela kesibukannya, Rizkil tetap menyempatkan diri aktif di organisasi dan terus meningkatkan kapasitas dirinya, termasuk melalui kegiatan belajar agama.
Setelah melewati banyak rintangan, Rizkil berhasil menyelesaikan pendidikannya pada tahun 2022. Setahun kemudian, ia diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) PPPK di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Lombok Utara. Cita-cita untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya mulai terlihat nyata. Dengan penghasilannya, pada 2024 Rizkil membeli tanah dan membangun warung sederhana yang menjadi tempat warga sekitar berkumpul dan menonton bersama.
Cobaan Berat dan Akhir Tragis
Namun, cobaan berat kembali datang. Pada Maret 2025, Rizkil menghadapi tuduhan pencurian handphone di sebuah gerai Alfamart di Kayangan. Meskipun ia berusaha mengembalikan ponsel tersebut dan menyelesaikan masalah dengan cara damai, tekanan dari oknum aparat membuat Rizkil merasa terpojok. Tuduhan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya itu menggerogoti mental dan batinnya.
Nasrudin, ayah Rizkil, menceritakan bagaimana anaknya ditangkap dan dimasukkan ke dalam sel meski telah mengembalikan ponsel yang dikira miliknya itu. Tuduhan itu tidak berhenti di sana. Rizkil diduga mendapatkan intimidasi dari seorang oknum polisi yang meminta uang agar kasusnya tidak dilanjutkan. Permintaan ini semakin membebani Rizkil yang merasa nama baiknya tercoreng. Apalagi setelah video tuduhan pencuriannya diviralkan oleh pegawai Alfamart.
Dalam salah satu momen terberatnya, Rizkil sempat mencurahkan isi hatinya melalui Meta AI, bertanya apakah bunuh diri bisa menjadi solusi atas tekanan yang ia alami. Jawaban yang ia terima adalah tegas: bunuh diri bukanlah solusi. Meta AI menekankan bahwa ada jalan keluar dari setiap masalah.
Namun, tekanan yang bertubi-tubi tampaknya terlalu berat untuk Rizkil tanggung. Hingga akhirnya, pada 17 Maret 2025, Rizkil memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Kepergiannya meninggalkan luka mendalam bagi keluarganya. Rizkil yang dikenal sebagai tulang punggung keluarga dan sosok pekerja keras kini tiada.
Kemarahan Masyarakat dan Harapan Keadilan
Tragedi ini memicu amarah warga Dusun Batu Jompang yang merasa Rizkil menjadi korban ketidakadilan. Ratusan warga menyerbu Polsek Kayangan, merusak fasilitas sebagai bentuk protes atas tekanan yang dialami Rizkil.
Kapolres Lombok Utara, Agus Purwanta, membenarkan adanya insiden tersebut dan menyebutkan bahwa situasi kini telah kondusif setelah dilakukan konsolidasi dengan tokoh masyarakat.
Menurut perwira melati dua di pundaknya ini tidak ada oknum polisi yang memintai korban menyerahkan uang.
Hal tersebut tidak ada. Namun tetap kita melakukan penyelidikan termasuk motif dari penyerangan. Bila ada perkembangan lain nanti kami sampaikan,โ ujarnya.
Rizkil Watoni adalah potret seorang pemuda yang gigih, berjuang melawan keterbatasan, dan memberikan inspirasi bagi banyak orang. Sayangnya, tekanan yang tak tertahankan telah merenggutnya terlalu cepat. Semoga kisah hidupnya menjadi pelajaran dan mengingatkan kita akan pentingnya keadilan dan empati dalam setiap langkah kehidupan. (RL).(ESIANI)






____________________________________________
