Kamis-13-Maret 2025 Saat Warga Tepal Bergiliran Berbuka di Rumah Tetangga, Mengadakan Tradisi Kena Dila

Sumbawa | tipikorinvestigasinews.id –Satu jam menjelang berbuka puasa, perempuan di Desa Tepal, Kecamatan Batu Lanteh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) tampak sibuk menyiapkan perjamuan Senin (10/3/2025). Mereka mengatur dan memisahkan tempat makan antara laki-laki dan perempuan untuk mengikuti tradisi kena dila.

Kena dila adalah tradisi unik selama bulan Ramadhan di Desa Tepal yang terletak 847 meter di atas permukaan laut pegunungan Batu Lanteh.

Saat kena dila, setiap rumah warga yang mendapat giliran akan menyiapkan aneka menu masakan berbuka puasa, jajanan tarawih, jajanan tadarus, dan makanan sahur.

Saat bulan Ramadhan, tradisi bergotong royong dalam menyajikan aneka santapan dalam kena dila mulai dilakukan kaum perempuan sejak pukul 12.00 Wita. Berbagai menu masakan disajikan mulai dari hidangan pembuka, utama, dan penutup.

Termasuk aneka kue dan jajanan tradisional. Biasanya kita saling bantu gotong royong antar keluarga, kerabat dan tetangga, Satu hari sebelum kena dila, pemilik rumah akan mengundang dengan mengunjungi tetangga, kerabat dan keluarga perempuan. Tujuannya, membantu proses memasak.

Hidangan utama yang dimasak yaitu sayur gulai khas Desa Tepal dengan daging ayam, ada pula daging sapi yang tetap dicampur dengan sayuran seperti rebung, rotan muda (budak), nangka, dan blunak.

Kami masak goreng (gulai) daging ayam dengan sayur blunak. Kebetulan kali ini, saya datang membantu proses masak kena dila di rumah tetangga.

Blunak adalah tanaman yang tumbuh subur di daerah dingin dan lembap. Ada juga sayur budak, yaitu rotan muda yang rasanya mirip seperti rebung.

Para warga perempuan juga bergotong royong untuk membuat kue yang akan diantar ke masjid saat tarawih dan tadarus. Kami siapkan aneka jajanan untuk tarawih dan tadarus.

Kena dila biasanya digilir 5-7 rumah dalam satu RT, Kena dila dalam bahasa Sumbawa artinya mendapatkan giliran lampu yang menyala yaitu rumah warga yang mendapat giliran menyiapkan berbagai santapan berbuka, taraweh, tadarus hingga sahur.

Konon, zaman dahulu sebelum ada listrik di desa pedalaman ini, tradisi kena dila akan menggunakan lampu jojor. Kena dila diartikan juga nyala lampu jojor tersebut.

Saat kena dila, setiap rumah warga yang mendapat giliran akan menyiapkan menu berbuka puasa, jajanan tarawih, jajanan tadarus hingga sahur bersama. (Tim RED Tipikor Investigasi News.Id NTB)

TIPIKOR INVESTIGASI NEWS.ID
⚖️ Tegakkan Keadilan, Perjuangkan Kebenaran
PERINGATAN: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial dan dikomersilkan tanpa seizin redaksi.

Pos terkait

banner 468x60 ____________________________________________banner 728x250
T I P I K O R
INVESTIGASI NEWS.ID
BREAKING NEWS
BERITA TERUPDATE • INFORMASI LINTAS DAERAH • MEDIA. NASIONAL TIPIKOR INVESTIGASI NEWS.ID • Menyajikan BERITA TERKINI • UNGKAP FAKTA • SOROT • KASUS • Investigasi Tajam, Informasi Terpercaya • Tegas, Jujur, dan Berintegritas • Sorot Fakta Tanpa Kompromi • Mengungkap Fakta Demi Kebenaran • Fakta Bicara, Kami Menyuarakan • Suara Fakta untuk Keadilan
─────────────────────────────────────────

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *