Padang, 22 Juni, http://tipikorinvestigasinews.id-Langit Kota Padang mulai teduh ketika ratusan perwakilan masyarakat tambang rakyat dari berbagai daerah di Sumatera Barat berdiri di depan Kantor Gubernur Sumatera Barat, Senin (22/6/2026).
Namun di balik keteduhan sore itu, tersimpan kegelisahan mendalam yang dirasakan ribuan keluarga yang menggantungkan hidup pada sektor tambang rakyat.
Mereka datang bukan untuk menantang negara, bukan pula untuk melawan aturan. Mereka hadir membawa harapan.
Harapan agar suara mereka didengar, kehidupan mereka dipertimbangkan, dan masa depan anak-anak mereka tidak terhenti oleh ketidakpastian.
Perwakilan masyarakat berasal dari Kabupaten Solok Selatan, Sijunjung, Dharmasraya, Pasaman Barat, serta sejumlah daerah lainnya yang selama ini dikenal sebagai wilayah aktivitas tambang rakyat.
Dengan membawa spanduk bertuliskan “Dukung Kami Demi Hidup”, mereka menyampaikan pesan sederhana namun sarat makna, di balik aktivitas tambang rakyat, terdapat ribuan keluarga yang bergantung pada penghasilan tersebut untuk bertahan hidup.
Bagi sebagian besar masyarakat yang hadir, tambang rakyat bukan sekadar pekerjaan. Tambang adalah sumber nafkah, biaya sekolah anak, kebutuhan dapur sehari-hari, hingga harapan untuk keluar dari jerat kemiskinan.
“Kami datang dengan niat baik. Kami tidak menolak aturan dan tidak menentang pemerintah. Kami hanya berharap ada solusi yang memberi ruang bagi kami untuk tetap bekerja dan menghidupi keluarga,” ujar salah seorang peserta aksi dengan mata berkaca-kaca.
Suara yang sama juga datang dari para ibu rumah tangga yang turut hadir dalam aksi tersebut. Mereka mengaku cemas menghadapi masa depan apabila aktivitas tambang rakyat tidak lagi dapat menjadi sumber penghasilan keluarga.
“Bagi kami ini bukan soal kaya atau miskin. Ini soal makan anak-anak kami, biaya sekolah mereka, dan bagaimana kami bisa bertahan hidup,” ungkap seorang ibu yang datang bersama rombongan masyarakat dari daerah penghasil tambang rakyat.
Di tengah derasnya tuntutan penegakan aturan pertambangan, masyarakat berharap pemerintah tidak hanya melihat persoalan dari sisi hukum semata, tetapi juga mempertimbangkan realitas sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat di lapangan.
Menanggapi aspirasi tersebut, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sumatera Barat, Helmi Heriyanto, S.T., M.Eng, menyampaikan bahwa seluruh aspirasi masyarakat telah diterima dan akan dibahas lebih lanjut bersama pihak-pihak terkait.
“Aspirasi masyarakat sudah kami terima. Seluruh masukan ini akan kami sampaikan dan bahas sesuai mekanisme yang berlaku untuk mencari solusi terbaik,” ujarnya di hadapan para peserta aksi.
Pernyataan tersebut menjadi secercah harapan bagi masyarakat yang hadir. Mereka berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang mampu menjembatani kepentingan penegakan aturan dengan kebutuhan hidup masyarakat kecil yang selama ini menggantungkan ekonomi keluarganya pada tambang rakyat.
Aksi berlangsung tertib, damai, dan mendapat pengawalan dari aparat kepolisian. Tidak ada kericuhan, tidak ada tindakan anarkis. Yang terdengar hanyalah suara harapan dari masyarakat yang ingin tetap bekerja secara layak demi masa depan keluarga mereka.
Kini, ribuan keluarga tambang rakyat di berbagai pelosok Sumatera Barat masih menunggu arah kebijakan yang akan diambil pemerintah. Mereka menanti sebuah keputusan yang tidak hanya berpihak pada regulasi, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan.
Sebab bagi mereka, harapan itu sesungguhnya sangat sederhana: tetap bisa bekerja dengan tenang, menghidupi keluarga dengan bermartabat, dan memastikan anak-anak mereka tetap dapat mengenyam pendidikan demi masa depan yang lebih baik.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini, suara yang menggema dari depan Kantor Gubernur Sumatera Barat bukanlah suara penolakan. Itu adalah suara harapan. Harapan agar negara hadir, mendengar, dan memberikan jalan keluar yang adil bagi seluruh rakyatnya.
Ade Putra







____________________________________________
