Rp1 Triliun untuk Hutan Kalbar, Masyarakat Adat Hanya Kebagian Rp26 Ribu?

Kapuas Hulu, .tipikorinvestigasinews.id– 24 Sep 2025-Provinsi Kalimantan Barat,Setiap pagi, Pak Acan (52) melangkah ke kebun karet peninggalan orang tuanya. Dulu, kawasan itu rimbun dengan pepohonan, menjadi sumber pangan, obat, dan air bagi keluarganya. Kini, yang tersisa hanyalah deretan parit kering setelah izin perkebunan sawit masuk.

“Hutan kami hilang, janji ganti rugi tak pernah jelas. Kalau ada dana Rp1 triliun, kami tak tahu ke mana arahnya. Bagi kami, hutan bukan angka, tapi hidup,” ujarnya lirih.

Kisah Pak Acan bukan satu-satunya. Ratusan bahkan ribuan keluarga adat di Kalimantan Barat mengalami nasib serupa. Data resmi menunjukkan sejak 1990, luas hutan Kalbar menyusut 27 persen—dari 7,5 juta hektare menjadi 5,4 juta hektare pada 2020. Artinya, rata-rata 200 hektare hutan hilang setiap hari, setara 300 lapangan bola.

Di tengah krisis ini, publik disuguhi kabar “besar”: Kalbar mendapat hibah internasional Rp1 triliun dari Green Climate Fund (GCF) untuk periode 2025–2032. Jumlah itu tampak fantastis di atas kertas. Namun, hitungan ekonomi karbon justru menunjukkan betapa kecilnya nilai tersebut.

Target Kalbar adalah pencegahan emisi 14 juta ton CO₂eq. Jika harga karbon internasional berkisar USD 5–10 per ton, nilainya mencapai Rp7,3–14,7 triliun. Artinya, hibah Rp1 triliun hanya menutup 7–14 persen dari kebutuhan riil.

Lebih ironis lagi, jika dibagi untuk lima juta penerima manfaat, jumlahnya hanya Rp26 ribu per orang per tahun. Nominal ini bahkan tidak cukup membeli dua liter bensin atau sekilo daging ayam. Pertanyaannya: benarkah ini solusi untuk hutan Kalbar?

Proyek GCF juga memunculkan pertanyaan soal transparansi. Istilah emissions avoided kerap digunakan, tetapi data rinci perhitungannya jarang dipublikasikan. Sementara itu, deforestasi berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan program restorasi yang baru efektif dimulai 2025.

“Hibah Rp1 triliun memang terdengar besar, tapi dibandingkan kerusakan yang terjadi, jumlah itu tak ada apa-apanya,” tegas Johandi, Ketua Jurnalis Media Indonesia (JMI) DPD Kalbar yang juga masyarakat pribumi. “Dana ini jangan hanya berhenti di laporan proyek. Harus ada pengawasan transparan dan dana langsung menguatkan masyarakat adat.”

Johandi menambahkan, masyarakat adat seharusnya diposisikan sebagai garda terdepan dalam pengelolaan hutan. “Kalau hutan rusak, yang pertama merasakan dampaknya adalah masyarakat adat. Karena itu, dana hibah harus menyentuh mereka langsung, bukan sekadar lewat birokrasi panjang. Hutan Kalbar adalah warisan dunia, tapi tanggung jawab utama menjaga tetap ada di pundak rakyatnya,”Tutup.tim red.(JMI)

Hingga berita ini diturunkan,mitra media akan mersama toko adat dan masyarakat Kalimantan Barat,

Redaksi tetap memberikan ruang hak jawab, hak koreksi dan hak klarifikasi sesuai Pasal 5 dan 6 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Tipikor Investigasi News berkomitmen menyampaikan informasi yang faktual, berimbang dan relevan untuk kepentingan publik. Informasi lanjutan akan dimuat pada edisi berikutnya setelah hasil penelusuran investigasi tambahan diperoleh.

Reporter:Rabudin muhammad
Sumber:(Johandi, Jurnalis Media Indonesia)

TIPIKOR INVESTIGASI NEWS.ID
⚖️ Tegakkan Keadilan, Perjuangkan Kebenaran
PERINGATAN: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial dan dikomersilkan tanpa seizin redaksi.

Pos terkait

banner 468x60 ____________________________________________banner 728x250
T I P I K O R
INVESTIGASI NEWS.ID
BREAKING NEWS
BERITA TERUPDATE • INFORMASI LINTAS DAERAH • MEDIA. NASIONAL TIPIKOR INVESTIGASI NEWS.ID • Menyajikan BERITA TERKINI • UNGKAP FAKTA • SOROT • KASUS • Investigasi Tajam, Informasi Terpercaya • Tegas, Jujur, dan Berintegritas • Sorot Fakta Tanpa Kompromi • Mengungkap Fakta Demi Kebenaran • Fakta Bicara, Kami Menyuarakan • Suara Fakta untuk Keadilan
─────────────────────────────────────────

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *