Polewali Mandar, Tipikorinvestigasinews.id Senin 13 Oktober 2025 – Sudah hampir tiga tahun lamanya warga Desa Kalumammang, Kabupaten Polewali Mandar, hidup dalam keterasingan akibat kerusakan total jembatan penghubung antara Dusun Bung dan Dusun Sumarang. Jembatan yang dulunya menjadi nadi penghubung aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pelayanan kesehatan itu roboh setelah diterjang arus sungai deras. Hingga saat ini, belum tampak upaya serius dari pihak pemerintah untuk memperbaikinya, sehingga warga dipaksa menempuh jalur ekstrem dan membahayakan keselamatan dengan menyeberangi aliran sungai secara langsung.
Tanpa adanya jembatan penghubung, satu-satunya akses yang tersedia adalah menyeberangi sungai yang arusnya sering kali deras, terlebih saat musim hujan atau banjir. Tak hanya orang dewasa, anak-anak sekolah, ibu rumah tangga, hingga lansia harus mempertaruhkan keselamatan mereka demi melanjutkan aktivitas sehari-hari. Ketika debit air sungai meningkat, banyak warga harus menunggu berjam-jam, bahkan membatalkan perjalanan karena terlalu berbahaya untuk diseberangi.

“Kalau musim hujan, kami tidak bisa menyeberang sama sekali. Anak-anak terpaksa tidak sekolah. Kadang kami harus berjalan jauh mencari titik dangkal sungai. Kami sudah lama menunggu perbaikan, tapi belum ada jawaban,” ujar salah satu warga setempat dengan nada cemas.
Kerusakan jembatan membawa dampak luas terhadap roda perekonomian desa. Para petani yang selama ini mengandalkan jembatan untuk membawa hasil panen seperti kakao, kopi, dan hasil kebun lainnya kini terhambat. Untuk menuju pasar, mereka harus memikul hasil panen menyusuri bantaran sungai, yang tidak hanya memakan waktu lebih lama, tetapi juga mengakibatkan kerugian akibat barang yang rusak atau jatuh ke sungai.
Begitu pula dengan pelajar. Banyak siswa SD hingga SMP dari Dusun Bung yang bersekolah di wilayah lainnya kini menghadapi risiko besar. Tidak jarang mereka melepas sepatu dan seragam agar tidak basah diterjang air sungai, atau memilih bolos sekolah saat air sungai terlalu tinggi. Dampak psikologis dan motivasi belajar anak-anak ikut terpengaruh
Dalam beberapa kejadian, warga sempat tergelincir dan hampir terseret arus. Kendati belum ada korban jiwa, situasi ini tak bisa terus dibiarkan. Arus sungai yang deras dan tidak menentu sangat berbahaya bagi perempuan, anak-anak, dan kaum lanjut usia. Pada musim penghujan, air mendadak meluap hingga menyulitkan warga mengetahui kedalaman sungai.
“Kami tidak minta jalan mulus seperti di kota, kami hanya minta jembatan kami diperbaiki. Jangan sampai ada korban dulu baru pemerintah bertindak,” tegas salah seorang tokoh masyarakat Desa Kalumammang.
Warga Desa Kalumammang telah berulang kali menyampaikan keluhan serta permohonan kepada pihak desa, kecamatan, hingga kabupaten. Namun hingga kini, belum ada kejelasan kapan jembatan tersebut akan dibangun kembali. Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat segera turun tangan melakukan survei lapangan, mengalokasikan anggaran, serta memprioritaskan pembangunan jembatan tersebut sebagai akses vital daerah.
“Sudah tiga tahun kami bersuara. Infrastruktur bukan soal kemewahan, ini soal hak hidup dan keselamatan,” tambah warga lainnya.
Kasus jembatan Kalumammang adalah cerminan nyata kesenjangan pembangunan. Di saat wilayah lain menikmati fasilitas jalan dan jembatan permanen, warga di pedalaman masih harus bersusah payah mempertahankan hidup melawan arus sungai. Aspirasi ini bukan sekadar keluhan, melainkan jeritan yang menuntut perhatian negara terhadap hak dasar masyarakat desa.
Pewarta media Tipikor kaperwil ansar







____________________________________________
