Aceh Singkil , tipikorinvestigasinews.id –Puluhan warga Desa Sukamakmur, Kecamatan Singkil, berbondong-bondong mendatangi Kantor Camat Singkil. Kedatangan mereka bukan tanpa alasan. Warga mempertanyakan kejelasan data penerima bantuan pascabanjir yang sudah lebih dulu beredar di tengah masyarakat, namun dinilai tidak mencakup seluruh warga terdampak., Senin {19/01/2026}
Di hadapan pihak kecamatan, warga meluapkan kekecewaan dan kegelisahan mereka. Banyak nama yang merasa berhak justru tidak tercantum dalam data tersebut. Pertanyaan keras pun muncul dari masyarakat: “Apakah kami ini bukan warga Sukamakmur? Kami juga terdampak banjir, kami juga butuh bantuan. Jangan-jangan ada yang sengaja disisihkan?”
Situasi ini memunculkan kecurigaan adanya ketidakberesan dalam pendataan. Warga menilai proses pendataan terkesan terburu-buru, tertutup, dan rawan tebang pilih. Padahal, dampak banjir dirasakan hampir merata, tanpa pandang bulu.

Menanggapi hal tersebut, pihak Camat Singkil akhirnya angkat bicara. Ia menjelaskan bahwa data yang beredar saat ini belum final dan belum disahkan. Menurutnya, data tersebut masih bersifat sementara dan bisa berubah.
“Data itu belum tentu pasti disahkan. Itu baru data awal. Kalau nanti sudah sah, maka akan kita upayakan susulan tahap kedua agar semuanya bisa masuk. Di sini tidak ada istilah warga yang tidak kena banjir,” ujar Camat Singkil di hadapan warga.
Namun penjelasan itu belum sepenuhnya meredakan kegelisahan masyarakat. Janji “susulan kedua” dinilai sebagai jawaban normatif yang sering kali tidak terbukti di lapangan. Warga meminta komitmen nyata, bukan sekadar ucapan penenang.
Camat juga menegaskan bahwa pihak kecamatan meminta masyarakat bersabar dan memastikan pemerintah kecamatan akan memperjuangkan seluruh data warga terdampak, khususnya di Kecamatan Singkil. Ia kembali menekankan bahwa data tersebut belum final dan masih bisa diperbaiki.
Meski demikian, warga Sukamakmur mendesak agar proses pendataan dilakukan secara transparan, terbuka, dan melibatkan masyarakat, bukan dikerjakan sepihak. Mereka menilai, jika pendataan sejak awal dilakukan dengan benar, polemik seperti ini tidak akan terjadi.
Kasus ini kembali membuka borok klasik dalam penyaluran bantuan bencana: data bermasalah, komunikasi buruk, dan masyarakat kecil yang selalu diminta bersabar. Jika pemerintah tidak segera membenahi pola kerja seperti ini, kepercayaan publik akan terus runtuh—dan yang jadi korban tetap rakyat.
Warga Sukamakmur menegaskan, mereka akan terus mengawal persoalan ini sampai ada kejelasan dan keadilan. Karena bagi mereka, bantuan bukan soal belas kasihan, tapi hak warga negara yang terdampak bencana.{syah}







____________________________________________
