Lansia Boyolali Jadi Motor Kampung Proklim

Boyolali-Jawa Tengah
tipikorinvestigasinews.id –Tangan renta Siti Rahayu, penggerak Program Kampung Iklim (Proklim) kategori utama di Surodadi RW 9, Kelurahan Siswodipuran, Boyolali, tampak menyemprotkan cairan ecoenzim ke deretan tanaman buah dalam pot galon bekas di halaman rumahnya, selasa 16/12/2025

Ia juga menyirami tanaman yang ditanam di ban bekas berisi tanah yang ditata rapi di pekarangan rumahnya

perempuan berusia 71 tahun itu memamerkan ecoenzim hasil fermentasi limbah kulit buah yang dimanfaatkan untuk menyuburkan dan menghijaukan tanaman. Kegiatan tersebut, menurutnya, telah dilakukan jauh sebelum kampungnya ditetapkan sebagai Kampung Proklim pada 2018

Yayuk, sapaan akrabnya, menuturkan upaya menjaga lingkungan itu bermula dari pendirian bank sampah sekitar 2011. Saat itu, sebelum pensiun pada 2010, lingkungan tempat tinggalnya masih gersang dan selokan dipenuhi rumput liar yang tak terawat. Ia pun membayangkan masa pensiun di lingkungan yang hijau, asri, bersih, dan nyaman, terlebih mayoritas warganya merupakan pensiunan.

“Setelah suami saya meninggal pada 2011, saya kan bingung mau aktivitas apa. Saat itu ada kelompok dasawisma, terus saya mikir ayo kita mulai menabung sampah dan mengelola lingkungan. Nanti hasilnya dimasukkan ke kas sosial, uangnya bisa digunakan untuk menjenguk orang sakit. Awalnya dari situ,” kata dia.

Upaya tersebut kemudian mendapat dukungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Boyolali. Pada akhir 2012, Yayuk bersama warga diajak studi banding ke Yogyakarta untuk mempelajari pengelolaan bank sampah. Dari sana, ia memahami bahwa sampah tidak hanya dikumpulkan untuk dijual, tetapi juga bisa diolah agar mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA).

Sepulang dari studi banding, pengetahuan itu disampaikan dalam pertemuan PKK. Warga diajak memilah dan mengolah sampah, mulai dari daun, kulit buah, kertas, hingga plastik, menjadi kompos, ecoenzim, ecobrick, dan produk lainnya. Bahkan, kini tersedia wadah khusus untuk limbah elektronik, baterai bekas, serta kemasan bekas tinggi yang secara berkala diambil DLH Boyolali untuk dimusnahkan.

Pengelolaan sampah kemudian dilembagakan melalui pembentukan Bank Sampah Lestari. Kepengurusan disusun lengkap, mulai dari komisaris, direktur, sekretaris, bendahara, hingga divisi-divisi lain. Kantor bank sampah berdiri di atas tanah milik Yayuk. Pembukuan dilakukan secara rapi, mencatat volume sampah yang disetorkan warga beserta nilai iuran masing-masing.

Yayuk menyebut sekitar 60% sampah yang disetorkan merupakan sampah organik. Karena itu, pelatihan pengolahan sampah menjadi kebutuhan penting bagi warga. Pelatihan pembuatan ecoenzim, ecobrick, hingga kompos pun digelar secara bertahap.

Penyadaran Masyarakat
Edukasi pengelolaan sampah dilakukan beriringan dengan penerapan prinsip reduce, reuse, dan recycle. Warga dibiasakan menjamu tamu menggunakan gelas kaca, mengganti tisu dengan kain lap, memanfaatkan kain perca menjadi taplak meja, hingga menyulap galon bekas menjadi pot tanaman.

“Jadi memang dengan bank sampah itu ada program pelatihan ke masyarakat bagaimana mengolah sampah, bagaimana hasil dari sampah untuk menanam, dan lain-lain. Sampahnya kan dari kita ya harus diselesaikan oleh kita. Jadi, kalau di sini memang proklim di sini berkaitan dengan program PKK. Ada adaptasi dan mitigasi,” kata dia.

Program adaptasi Proklim dijalankan bersama Pokja 4 PKK yang fokus pada kesehatan keluarga dan lingkungan. Kegiatannya antara lain pembuatan sumur resapan, biopori, serta penerapan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Sementara program mitigasi selaras dengan Pokja 3 PKK yang membidangi pangan, sandang, dan perumahan.

Selain itu, setiap rumah memiliki juru pemantau jentik (jumantik) sebagai bagian dari gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Setiap pekan, warga melaporkan ada atau tidaknya jentik di tempat penampungan air masing-masing.

Menurut Yayuk, gerakan tersebut mendapat sambutan positif dari warga yang mayoritas lansia. Sejak awal, ia tidak menjanjikan keuntungan materi, melainkan mengajak warga memahami manfaat lingkungan yang terawat bagi kehidupan.

 

“Jadi menabungnya kami para warga yang mayoritas lansia ini bukan rupiah, tapi menabungnya di lingkungan untuk generasi masa depan. Misal pun ada uangnya di bank sampah, itu untuk masyarakat kami. Sempat uang bank sampah itu digunakan untuk membiayai BPJS kelas III warga kami yang membutuhkan. Kurang lebih setahun itu untuk berobat,” kata dia.

Sri Rahayu, warga setempat berusia 72 tahun, mengaku senang terlibat dalam kegiatan Proklim. Meski bukan pensiunan pegawai, ia ingin tetap aktif di masa senja. Dengan penglihatan yang mulai kabur, ia masih tekun menjahit limbah plastik menjadi tas dan tikar.

Ia mengaku baru mengenal pengolahan sampah plastik setelah berdirinya bank sampah dan Proklim di lingkungannya. Keterampilan tersebut dipelajarinya melalui pelatihan yang difasilitasi instansi terkait dan dikembangkan secara mandiri.

“Memang dengan memelihara lingkungan, tempat tinggal kami jadi teduh dan bersih. Walau kota pun bukan yang panas. Tempat kami, minimal di rumah ya, tetap asri dan dingin tanpa AC,” kata dia.

 

Kepala DLH Boyolali, Suraji, menjelaskan terdapat empat kategori Kampung Proklim, yakni pratama, madya, utama, dan lestari. Kategori lestari merupakan penghargaan tertinggi bagi komunitas yang konsisten melakukan inovasi lingkungan dan dapat direplikasi.

 

Espos IndonesiaLangganan
BISNIS EKONOMI SOLOPOS DATA NEWS REGIONAL ECO DUNIA SPORT UKSW UT SURAKARTA LIFESTYLE TEKNO HITS OTOMOTIF KOLOM RADIO FOTO VIDEO SEKOLAH INDEX
Menabung Lingkungan di Usia Senja, Lansia Boyolali Jadi Motor Kampung Proklim
by Nimatul Faizah – Espos.id
SOLOPOS – Minggu, 14 Desember 2025 – 07:01 WIB

Menabung Lingkungan di Usia Senja, Lansia Boyolali Jadi Motor Kampung Proklim
ESPOS.ID – Foto Penggerak Proklim RW 9 Siswodipuran, Boyolali, Siti Rahayu, 71, saat menyiram ecoenzim ke tanaman di halaman rumahnya, Jumat (12/12/2025). (Solopos/Ni’matul Faizah)

Esposin, BOYOLALI — Tangan renta Siti Rahayu, penggerak Program Kampung Iklim (Proklim) kategori utama di Surodadi RW 9, Kelurahan Siswodipuran, Boyolali, tampak menyemprotkan cairan ecoenzim ke deretan tanaman buah dalam pot galon bekas di halaman rumahnya, Jumat (12/12/2025). Ia juga menyirami tanaman yang ditanam di ban bekas berisi tanah yang ditata rapi di pekarangan rumahnya.

Kepada Espos, perempuan berusia 71 tahun itu memamerkan ecoenzim hasil fermentasi limbah kulit buah yang dimanfaatkan untuk menyuburkan dan menghijaukan tanaman. Kegiatan tersebut, menurutnya, telah dilakukan jauh sebelum kampungnya ditetapkan sebagai Kampung Proklim pada 2018.

Yayuk, sapaan akrabnya, menuturkan upaya menjaga lingkungan itu bermula dari pendirian bank sampah sekitar 2011. Saat itu, sebelum pensiun pada 2010, lingkungan tempat tinggalnya masih gersang dan selokan dipenuhi rumput liar yang tak terawat. Ia pun membayangkan masa pensiun di lingkungan yang hijau, asri, bersih, dan nyaman, terlebih mayoritas warganya merupakan pensiunan.

“Setelah suami saya meninggal pada 2011, saya kan bingung mau aktivitas apa. Saat itu ada kelompok dasawisma, terus saya mikir ayo kita mulai menabung sampah dan mengelola lingkungan. Nanti hasilnya dimasukkan ke kas sosial, uangnya bisa digunakan untuk menjenguk orang sakit. Awalnya dari situ,” kata dia.

Upaya tersebut kemudian mendapat dukungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Boyolali. Pada akhir 2012, Yayuk bersama warga diajak studi banding ke Yogyakarta untuk mempelajari pengelolaan bank sampah. Dari sana, ia memahami bahwa sampah tidak hanya dikumpulkan untuk dijual, tetapi juga bisa diolah agar mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA).

Sepulang dari studi banding, pengetahuan itu disampaikan dalam pertemuan PKK. Warga diajak memilah dan mengolah sampah, mulai dari daun, kulit buah, kertas, hingga plastik, menjadi kompos, ecoenzim, ecobrick, dan produk lainnya. Bahkan, kini tersedia wadah khusus untuk limbah elektronik, baterai bekas, serta kemasan bekas tinggi yang secara berkala diambil DLH Boyolali untuk dimusnahkan.

Pengelolaan sampah kemudian dilembagakan melalui pembentukan Bank Sampah Lestari. Kepengurusan disusun lengkap, mulai dari komisaris, direktur, sekretaris, bendahara, hingga divisi-divisi lain. Kantor bank sampah berdiri di atas tanah milik Yayuk. Pembukuan dilakukan secara rapi, mencatat volume sampah yang disetorkan warga beserta nilai iuran masing-masing.

Yayuk menyebut sekitar 60% sampah yang disetorkan merupakan sampah organik. Karena itu, pelatihan pengolahan sampah menjadi kebutuhan penting bagi warga. Pelatihan pembuatan ecoenzim, ecobrick, hingga kompos pun digelar secara bertahap.

Penyadaran Masyarakat
Edukasi pengelolaan sampah dilakukan beriringan dengan penerapan prinsip reduce, reuse, dan recycle. Warga dibiasakan menjamu tamu menggunakan gelas kaca, mengganti tisu dengan kain lap, memanfaatkan kain perca menjadi taplak meja, hingga menyulap galon bekas menjadi pot tanaman.

“Jadi memang dengan bank sampah itu ada program pelatihan ke masyarakat bagaimana mengolah sampah, bagaimana hasil dari sampah untuk menanam, dan lain-lain. Sampahnya kan dari kita ya harus diselesaikan oleh kita. Jadi, kalau di sini memang proklim di sini berkaitan dengan program PKK. Ada adaptasi dan mitigasi,” kata dia.

Program adaptasi Proklim dijalankan bersama Pokja 4 PKK yang fokus pada kesehatan keluarga dan lingkungan. Kegiatannya antara lain pembuatan sumur resapan, biopori, serta penerapan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Sementara program mitigasi selaras dengan Pokja 3 PKK yang membidangi pangan, sandang, dan perumahan.

“Kami saat ini ada gerakan per rumah menanam pohon buah-buahan, jadi untuk peneduh sekaligus untuk gizi. Per rumah, kami juga menanam tanaman seperti cabai, tomat, terong, dan sebagainya. Lalu ada toga atau tanaman obat keluarga, sehingga ketika dibutuhkan langsung ambil,” kata dia.

Selain itu, setiap rumah memiliki juru pemantau jentik (jumantik) sebagai bagian dari gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Setiap pekan, warga melaporkan ada atau tidaknya jentik di tempat penampungan air masing-masing.

Menurut Yayuk, gerakan tersebut mendapat sambutan positif dari warga yang mayoritas lansia. Sejak awal, ia tidak menjanjikan keuntungan materi, melainkan mengajak warga memahami manfaat lingkungan yang terawat bagi kehidupan.

“Jadi menabungnya kami para warga yang mayoritas lansia ini bukan rupiah, tapi menabungnya di lingkungan untuk generasi masa depan. Misal pun ada uangnya di bank sampah, itu untuk masyarakat kami. Sempat uang bank sampah itu digunakan untuk membiayai BPJS kelas III warga kami yang membutuhkan. Kurang lebih setahun itu untuk berobat,” kata dia.

Sri Rahayu, warga setempat berusia 72 tahun, mengaku senang terlibat dalam kegiatan Proklim. Meski bukan pensiunan pegawai, ia ingin tetap aktif di masa senja. Dengan penglihatan yang mulai kabur, ia masih tekun menjahit limbah plastik menjadi tas dan tikar.

Ia mengaku baru mengenal pengolahan sampah plastik setelah berdirinya bank sampah dan Proklim di lingkungannya. Keterampilan tersebut dipelajarinya melalui pelatihan yang difasilitasi instansi terkait dan dikembangkan secara mandiri.

“Memang dengan memelihara lingkungan, tempat tinggal kami jadi teduh dan bersih. Walau kota pun bukan yang panas. Tempat kami, minimal di rumah ya, tetap asri dan dingin tanpa AC,” kata dia.

Kepala DLH Boyolali, Suraji, menjelaskan terdapat empat kategori Kampung Proklim, yakni pratama, madya, utama, dan lestari. Kategori lestari merupakan penghargaan tertinggi bagi komunitas yang konsisten melakukan inovasi lingkungan dan dapat direplikasi.

Sebanyak 77 Kampung Proklim tercatat di Boyolali, terdiri atas lima kategori pratama, 50 madya, 21 utama, dan satu kategori lestari.

“Kami berusaha melembagakan beberapa tempat yang berpotensi menjadi kampung proklim atau kampung yang melaksanakan upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Jadi potensinya baik kelompok tani atau lembaga terkait LH seperti bank sampah. Itu kami bina menjadi proklim,” kata dia.

Penulis: Agus Chaerudin

TIPIKOR INVESTIGASI NEWS.ID
⚖️ Tegakkan Keadilan, Perjuangkan Kebenaran
PERINGATAN: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial dan dikomersilkan tanpa seizin redaksi.

Pos terkait

banner 468x60 ____________________________________________banner 728x250
T I P I K O R
INVESTIGASI NEWS.ID
BREAKING NEWS
BERITA TERUPDATE • INFORMASI LINTAS DAERAH • MEDIA. NASIONAL TIPIKOR INVESTIGASI NEWS.ID • Menyajikan BERITA TERKINI • UNGKAP FAKTA • SOROT • KASUS • Investigasi Tajam, Informasi Terpercaya • Tegas, Jujur, dan Berintegritas • Sorot Fakta Tanpa Kompromi • Mengungkap Fakta Demi Kebenaran • Fakta Bicara, Kami Menyuarakan • Suara Fakta untuk Keadilan
─────────────────────────────────────────

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *