Aceh Tamiang –Tipikorinvestigasinews.id
Setelah bencana banjir bandang berlalu di Aceh Tamiang, tumbuh peminta minta/Pengemis dadakan bak jamur yang tumbuh sepanjang jalan Medan – Banda Aceh, khususnya wilayah Aceh Tamiang, peminta minta mulai ramai memenuhi pinggiran jalan, dengan modus meminta bantuan korban banjir hingga kebutuhan makan, kepada pengendara yang melintas,
Rabu ( 24/12/2025 )
Sungguh miris menyayat hati, para orang tua tidak lagi memikirkan keselamatan anak-anak nya, dari usia balita, sampai tua tergabung dalam meminta minta di pinggiran jalan, jalanan yang berdebu, kenderaan yang ramai lalu lalang tak lagi di takuti anak – anak, jika di biar kan bisa merusak mental anak-anak, juga bisa berakibat fatal, mulai penyakit yang menanti akibat menghirup debu, hingga kematian jika terjadi kecelakaan, di sebabkan, mereka tidak lagi menghiraukan keselamatan, khususnya anak-anak di bawah umur yang sengaja di biarkan orang tuanya meminta minta di pinggir jalan tanpa memakai masker,
Di sinyalir mereka tidak lagi meminta untuk kebutuhan hidup, pemerintah dan para relawan sudah mengirimkan logistik di seluruh pelosok desa dalam kabupaten Aceh Tamiang, tidak ada alasan jika untuk kebutuhan makan atau bertahan hidup, namun cenderung memperkaya diri, bak pepatah aji mumpung, selagi ada kesempatan,
Hal tersebut selain berbahaya bagi mereka dan pengguna jalan, hal ini cenderung mencoreng nama kabupaten Aceh Tamiang, yang tidak bisa di nafikan, mencoreng nama baik Bupati dan wakil Bupati, juga provinsi Aceh di mata publik,
Seakan-akan Aceh Tamiang tidak mencukupi pemberian bantuan, namun fakta nya, pemerintah, Relawan, organisasi dan bantuan dari daerah-daerah lain bahkan dari negara asing juga sudah masuk memberikan bantuan pada masyarakat Aceh Tamiang, sudah sangat banyak yang masuk ke Aceh Tamiang, bahkan lebih dari kata cukup jika untuk kebutuhan makan dan bertahan hidup,
Salah satu warga peminta minta di jalan, Abdurrahman ( 55 ) nama samaran, yang tidak ingin di sebutkan namanya, menuturkan pada awak media
“Lumayan dapat nya bang, kami sekeluarga ada 6 orang, semua saya ajak, dalam satu minggu saja, itu rumah kami hampir tidak muat dengan banyaknya sembako dari hasil kami meminta di jalan, bahan yang tidak tahan lama, seperti roti basah, nasi,telur rebus, itu kami bagi lagi, sayang kalau basi, kalau sembako mulai dari beras, mie instan, telur, roti, pakaian, peralatan untuk anak bayi, semuanya lengkap bang, dari ruangan kamar, hingga ruang tamu, semua sudah penuh, dan bukan cuma sembako saja, kami dapat uang tunai juga, kadang sehari dapatnya 200 ribu, kadang 400 ribu dalam satu orang,”ujarnya.
Pemerintah harus segera ambil langkah tegas, jangan karena segelintir oknum peminta minta, nama Aceh Tamiang menjadi negatif di mata masyarakat luar, dan merusak mental anak-anak Aceh Tamiang.
( muttaqin)







____________________________________________
