Padang, Sumbar-tipikorinvestigazinews.id-Kebebasan berpendapat adalah hak konstitusional, namun kebebasan tanpa adab adalah kemunduran peradaban. Sangat disayangkan ketika sebuah aspirasi yang seharusnya lahir dari kedalaman berpikir seorang mahasiswa, justru disampaikan dengan diksi yang kasar dan tidak beretika ulas Nurkhalis dt Bijo dirajo yg dihubungi via telepon. Selasa 7 April 2026
Menyebut pemimpin negara dengan istilah “pakak” bukanlah cerminan kritik yang konstruktif, melainkan sebuah bentuk degradasi moral yang jauh dari jati diri seorang intelektual Minang.
Sebagai mahasiswa yang menimba ilmu di Ranah Minang, sudah sepatutnya kita memegang teguh prinsip “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”. Kitabullah mengajarkan kita tentang kemuliaan akhlak dan bagaimana lisan seorang mukmin harus terjaga. Kata-kata yang merendahkan martabat orang lain—siapa pun itu—sangat bertentangan dengan nilai-nilai religiusitas dan kesantunan yang menjadi fondasi masyarakat Sumatera Barat.
Minangkabau memiliki kecerdasan emosional dan sosial yang luar biasa melalui filosofi Tau di Nan Ampek. Seorang intelektual Minang seharusnya paham:
Kato Mandaki: Bagaimana berbicara kepada yang lebih tua atau pemimpin.
Kato Mandata: Bagaimana berbicara dengan sesama.
Kato Malereng: Bagaimana berbicara dengan penuh kiasan dan rasa hormat.
Kato Manurun: Bagaimana berbicara kepada yang lebih muda.
Menggunakan bahasa “preman jalanan” di ruang publik membuktikan ketidakpahaman terhadap tata krama ini. Jika etika ini diabaikan, maka esensi keminangan dalam diri seseorang intelektual patut dipertanyakan.
Lebih lanjut Nurkhalis menyampaikan bahwa Universitas Andalas bukan sekadar kampus biasa. Ia adalah universitas tertua di luar Jawa yang diresmikan oleh Mohammad Hatta, sang Proklamator yang dikenal sebagai teladan kesantunan dan intelektualitas.
Bung Hatta adalah sosok yang meski keras dalam prinsip dan tajam dalam kritik, selalu menyampaikannya dengan bahasa yang terjaga dan penuh argumen ilmiah.
Perilaku buruk dan lisan yang tidak terkontrol ini seolah menodai cita-cita luhur para pendiri bangsa dan masyarakat Sumatera Barat yang ingin menjadikan putra-putrinya sebagai “Intelektual Bangsa”, bukan sekadar orator yang kehilangan etika.
Kritik adalah vitamin bagi demokrasi, namun makian adalah racun bagi budaya. Mahasiswa seharusnya menjadi “paga nagari” yang menjaga lisan dan perbuatan. Mari kita kembalikan marwah mahasiswa Unand sebagai kaum terpelajar yang berlandaskan budi pekerti.
Jangan sampai karena nila setitik, rusak susu sebelanga; jangan sampai karena ketidakmampuan mengontrol emosi, citra pendidikan dan orang tua yang telah bersusah payah mendidik ikut tercoreng.
Intelektualitas tanpa adab hanyalah kekosongan yang bersuara nyaring.
( Mahwel )
⚖️ Tegakkan Keadilan, Perjuangkan Kebenaran







____________________________________________