PROF. DR. KH. SUTAN NASOMAL, SH., MH:
JIKA TAK BERSALAH, MENGAPA TAKUT DIBERITAKAN?
“Insan pers adalah cahaya yang menembus ruang-ruang gelap kebusukan sistem. Jangan pernah gentar menyuarakan kebenaran — sekalipun itu menyakitkan bagi mereka yang tak ingin dilihat.”
— Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH., MH
(Pakar Hukum Internasional & Pembina Insan Pers Nasional)
Kehadiran insan pers di Republik Indonesia seumpama matahari yang menyinari kegelapan. Dalam sejarah panjang bangsa ini, pers menjadi salah satu pilar penting yang ikut menjaga moralitas sosial, mengungkap praktik penyimpangan, dan menjadi pengawas kekuasaan.
Namun, tugas jurnalis kian berat. Tidak hanya menghadapi tantangan di lapangan, tetapi juga tekanan dari oknum-oknum yang merasa terusik saat tindakannya diungkap ke publik. Ada yang mencibir dengan menyebut “wartawan bodrek”, hanya karena tidak mampu menerima kenyataan bahwa ulah mereka menjadi sorotan.

Tantangan Terbesar Pers: Mengungkap Korupsi Terstruktur
Pers kerap menemukan kebocoran anggaran yang telah disusun pemerintah daerah namun dikorupsi oleh segelintir oknum yang mengatasnamakan negara. Mereka yang seharusnya menjaga amanah rakyat justru merusak kepercayaan dengan menyalahgunakan jabatan untuk memperkaya diri dan kelompoknya.
Tentu bukan hal mudah bagi wartawan menembus tembok birokrasi yang begitu rapat, apalagi jika praktik kolusi dan suap sudah menjadi budaya. Apakah kehadiran jurnalis masih dianggap musuh oleh mereka yang berkuasa?
Pers & Tantangan di Daerah: Dari Sekolah hingga Lembaga Tinggi
Dari desa hingga kota besar, insan pers berjibaku dengan banyak temuan. Mulai dari dugaan pungutan liar di sekolah, permainan proyek di desa, hingga indikasi praktik curang di lembaga legislatif. Pers hadir ketika hukum terasa tumpul ke atas namun tajam ke bawah.
Sayangnya, upaya pers tak selalu dihargai. Bahkan tak jarang jurnalis mendapatkan ancaman, kekerasan, hingga kehilangan nyawa. Kasus-kasus kekerasan terhadap wartawan kerap tak terungkap, karena minimnya perlindungan hukum yang nyata.
Narkoba & Kriminalitas: Bisnis yang Dilindungi?
Tak kalah mengkhawatirkan adalah penyebaran narkotika yang makin masif hingga ke pelosok. Pers telah banyak mengungkap bahwa jaringan narkoba bahkan dikendalikan dari dalam lembaga pemasyarakatan. Pertanyaannya: siapa yang memberi ruang bagi jaringan tersebut tetap hidup?
Jika ada pihak yang terganggu karena pemberitaan, maka mari jawab pertanyaan sederhana ini: “Jika Anda merasa tidak bersalah, mengapa takut diberitakan?”
Dewan Pers Harus Bersikap Terbuka dan Inklusif
Pertanyaan kritis juga patut dialamatkan kepada Dewan Pers. Banyak organisasi pers nasional yang merasa belum dilibatkan secara aktif dalam peningkatan kapasitas dan kesejahteraan wartawan di seluruh Indonesia. Apakah sertifikasi UKW menjamin kesejahteraan insan pers? Jika tidak, lantas apa langkah konkret ke depannya?
Transparansi pengelolaan anggaran, ruang dialog yang terbuka, dan sinergi antara lembaga negara dan organisasi pers nasional adalah kebutuhan mendesak. Jangan sampai Dewan Pers terkesan eksklusif atau tidak berpihak pada suara mayoritas pekerja pers di lapangan.
Penutup: Jangan Takut Terang, Jika Tidak Bersembunyi di Gelap
Pers tidak akan berhenti menjalankan tugas konstitusionalnya. Meski disebut sinis, difitnah, bahkan diserang, pers tetaplah elemen bangsa yang wajib dilindungi dan dihormati. Jangan padamkan cahaya kebenaran hanya karena silau oleh sorotannya.
Narasumber:
Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH., MH
Pakar Hukum Internasional dan Pembina Insan Pers Nasional
⚖️ Tegakkan Keadilan, Perjuangkan Kebenaran







____________________________________________