Mamasa Sulbar ,http://tipikorinvestigasinews.id – Sangat disayangkan mendengar kondisi tersebut. Kecamatan Balla di Kabupaten Mamasa sebenarnya memiliki potensi wisata yang luar biasa melalui tiga destinasi unggulan yang bahkan telah dikenal hingga tingkat internasional. Namun, kondisi fasilitas yang terbengkalai dan lemahnya pengelolaan menjadi tantangan yang menghambat perkembangan sektor pariwisata di daerah tersebut.
Tiga objek wisata yang dimaksud berada di lokasi berbeda, yakni:
– Objek Wisata Tedong-Tedong di Desa Balla Barat.
– Perkampungan Tradisional Balla Peu di Desa Balla Peu.
– Objek Wisata Buntu Mussa di Desa Pidara.
Mengapa Objek Wisata Ini Menjadi “Tinggal Nama”?
Terdapat sejumlah faktor yang kerap menyebabkan destinasi wisata potensial mengalami kemunduran, di antaranya:
1. Infrastruktur dan aksesibilitas. Kondisi jalan menuju lokasi yang kurang memadai serta minimnya sarana transportasi umum dapat mengurangi minat wisatawan untuk berkunjung kembali.
2. Kurangnya perawatan berkelanjutan. Tidak adanya pengelolaan yang konsisten, baik melalui alokasi anggaran maupun peran kelompok pengelola wisata, menyebabkan fasilitas yang telah dibangun tidak terawat dengan baik.
3. Promosi yang semakin berkurang. Ketidakmampuan beradaptasi dengan perkembangan digital, seperti pemanfaatan media sosial, Google Maps, maupun platform pemesanan daring, membuat destinasi wisata lokal semakin sulit dikenal oleh generasi baru wisatawan.
4. Permasalahan pengelolaan. Tumpang tindih kewenangan atau hak kelola antara pemerintah daerah, pemerintah desa, masyarakat adat, maupun pemilik lahan dapat menjadi kendala dalam pengembangan wisata.
Langkah yang Dapat Dilakukan untuk Menghidupkan Kembali Pariwisata
Upaya mengembalikan daya tarik wisata di Kecamatan Balla memerlukan sinergi berbagai pihak, antara lain:
– Optimalisasi Dana Desa. Pemerintah Desa Balla Barat, Pidara, dan Balla Peu dapat mengalokasikan sebagian dana desa untuk pembenahan fasilitas dasar seperti toilet, tempat sampah, akses jalan, serta sarana pendukung wisata lainnya.
– Pembentukan atau penguatan BUMDes dan Pokdarwis. Keterlibatan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam pengelolaan tiket, kebersihan, dan layanan pemandu wisata dapat mendorong perputaran ekonomi yang langsung dirasakan warga setempat.
– Digitalisasi dan penguatan narasi budaya. Sejarah dan keunikan masing-masing destinasi, seperti Perkampungan Tradisional Balla Peu maupun Buntu Mussa, dapat dipromosikan melalui konten digital dan media sosial untuk menarik minat wisatawan.
Pariwisata berbasis budaya dan alam (eco-tourism) seperti yang dimiliki Kabupaten Mamasa sejatinya memiliki daya tarik tinggi di kalangan wisatawan mancanegara. Potensi tersebut dapat berkembang optimal apabila keaslian budaya tetap terjaga dan didukung oleh fasilitas dasar yang memadai serta terawat.
Kontributor: Darman Ardi







____________________________________________
