SERGAI, tipikorinvestigasinews.id –Pekan Tanjung Beringin,Suasana sore hari di Lapangan Desa Pekan Tanjung Beringin kini tak lagi biasa. Setiap pukul 16.30 WIB hingga pukul 18.00, lapangan desa mendadak hidup. Riuh suara sorakan, tawa ceria, dan semangat dari para pemain kasti membuat suasana berubah menjadi ajang kebersamaan yang membanggakan.
Meski tidak lagi muda, semangat warga—khususnya para ibu-ibu dan remaja putri—tak pernah surut. Mereka dengan cekatan berlari, melempar, dan menangkap bola kasti seolah energi mereka tak pernah habis.
> “Semangatnya gak luntur walaupun usia mereka tak muda lagi. Jago lari, antusiasnya luar biasa!” ucap Nazwa, mahasiswa Universitas Negeri Medan (UNIMED) yang tengah melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa tersebut. Ia turut dilibatkan sebagai wasit resmi dalam rangkaian laga persahabatan yang berlangsung jelang HUT ke-80 Republik Indonesia.
Para pemain dari masing-masing dusun melakukan latihan terjadwal dengan skema sederhana namun efektif: latihan 20 menit, istirahat 5 menit. Latihan dilakukan dengan semangat, bukan hanya sebagai persiapan fisik, tetapi juga sebagai ajang mempererat kekompakan antarwarga.
Pertandingan persahabatan ini merupakan bagian dari uji coba jelang turnamen resmi kasti antar dusun yang akan digelar dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan. Setiap dusun mengirimkan kelompok terbaik mereka, yang terdiri dari para ibu rumah tangga hingga remaja, untuk menunjukkan kemampuan sekaligus membangun kebersamaan.
Namun semangat tak hanya datang dari para pemain. Penonton pun membludak. Masyarakat dari berbagai usia berkumpul setiap sore, duduk di pinggir lapangan, membawa semangat dukungan dan tawa. Anak-anak berlarian, bapak-bapak memberi semangat, dan para pedagang kecil memanfaatkan momen ini dengan membuka warung dadakan.
“Baru latihan aja udah ramai kayak gini, alhamdulillah dagangan kami laku. Gimana nanti pas hari pertandingan beneran?” ujar salah satu warga yang membuka lapak minuman dingin dan gorengan di sisi lapangan. Banyak pedagang lain turut merasakan berkah yang sama—dari penjual es, makanan ringan, hingga jajanan khas tradisional.
Kemeriahan ini menjadi contoh nyata bagaimana olahraga rakyat bukan hanya tentang fisik atau adu kecepatan, tetapi juga tentang membangkitkan kehidupan sosial dan ekonomi desa. Warga bukan sekadar berolahraga, tetapi menghidupkan semangat gotong royong dan kebersamaan yang menjadi identitas asli bangsa.
Bagi Nazwa dan rekan-rekan KKN lainnya, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga tentang kekuatan komunitas dan semangat masyarakat desa yang tak pernah padam, bahkan dalam kesederhanaan.
“Saya belajar banyak dari ibu-ibu di sini. Walau usia sudah dewasa, semangat mereka lebih tinggi dari kami mahasiswa,” tambah Nazwa dengan senyum kagum.
Kini, semua mata menanti hari pertandingan resmi antar dusun yang akan menjadi puncak dari rangkaian latihan dan laga persahabatan ini. Jika suasana latihan saja sudah seramai ini, bisa dibayangkan bagaimana meriahnya hari pertandingan nanti.
Desa Pekan Tanjung Beringin kembali membuktikan, bahwa kemerdekaan bukan hanya dirayakan di upacara atau panggung hiburan tapi juga lewat semangat berolahraga, kebersamaan, dan warung-warung kecil yang jadi tempat tawa dan harapan.
Liputan : Supriadi Azhar







____________________________________________