Dr. Iswadi, M.Pd: Mendidik dengan Hati, Menyentuh Lewat Keteladanan

Penulis: Roro Bagus Ayunda Mar’assifa Mahasiswa Universitas Esa Unggul Bekasi

Opini : Di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan tinggi yang sering kali menekankan capaian akademik dan angka-angka, hadir sosok pendidik yang mengembalikan esensi sejati dari belajar Dr. Iswadi, M.Pd. Bagi banyak mahasiswa, beliau bukan sekadar dosen, tetapi juga mentor, sahabat, dan figur teladan yang mengajarkan bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya urusan kepala, tetapi juga urusan hati.

Lahir di Desa Mesjid Laweung, Pidie, Aceh pada 1 November 1979, Dr. Iswadi tumbuh dalam lingkungan sederhana yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, kerja keras, dan kepedulian sosial. Sejak muda, ia memegang teguh prinsip bahwa kesungguhan dan niat tulus dalam menuntut ilmu adalah kunci menuju masa depan yang lebih baik. Prinsip itu pula yang membawanya menempuh pendidikan tinggi dari jenjang sarjana di Universitas Serambi Mekkah (2005), melanjutkan ke Magister Administrasi Pendidikan di Universitas Syiah Kuala (2009), hingga meraih gelar Doktor Manajemen Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta pada tahun 2020.

Namun, yang menjadikan Dr. Iswadi istimewa bukan hanya capaian akademiknya. Di ruang kelas, beliau menciptakan suasana belajar yang penuh semangat dan kehangatan. Setiap pertemuan dimulai dengan sapaan tulus, “Selamat pagi, bagaimana kabarnya hari ini?” Kalimat sederhana ini menciptakan iklim belajar yang humanis di mana mahasiswa merasa dihargai sebagai individu, bukan sekadar peserta kuliah.

Mengajar mata kuliah seperti Public Relations Writing dan Interview and Collection Data, Dr. Iswadi mendorong mahasiswa untuk aktif berpikir, berani berbicara, dan tidak takut salah. Ia percaya bahwa kesalahan adalah bagian penting dari proses belajar. “Kalau salah ya nggak apa-apa, tidak akan dihukum,” ucapnya dengan senyum tulus yang menenangkan. Pendekatan ini tak hanya membuat mahasiswa merasa aman, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri yang kuat.

Dedikasi beliau tak berhenti di dalam kelas. Sebagai mantan Pembantu Dekan III FKIP Universitas Serambi Mekkah dan Ketua Umum Solidaritas Pemersatu Bangsa Indonesia (SPBI), Dr. Iswadi aktif terlibat dalam seminar, pelatihan, hingga kegiatan sosial di daerah-daerah terpencil. Ia yakin bahwa pendidikan sejati adalah yang bisa menyentuh masyarakat, memperbaiki kehidupan, dan menumbuhkan karakter.

Bagi kami, para mahasiswa, Dr. Iswadi adalah sosok yang tidak hanya mengajar, tetapi juga mendengarkan. Beliau hadir bukan untuk menghakimi, tapi membimbing. Bukan hanya menginginkan nilai tinggi, tetapi pertumbuhan pribadi yang utuh. “Pendidikan tanpa karakter hanyalah ilmu kosong,” ucapnya. “Tugas kalian bukan hanya menjadi pintar, tapi juga menjadi manusia yang punya integritas dan kepedulian.”

Warisan terbesar yang ditinggalkan Dr. Iswadi bukanlah gelar, jabatan, atau angka nilai melainkan semangat belajar yang tulus, rasa hormat terhadap sesama, dan keyakinan bahwa setiap orang punya potensi untuk tumbuh. Dalam sosoknya, kami menemukan inspirasi bahwa mendidik adalah tentang keikhlasan. Dan bahwa masa depan bangsa dimulai dari hati yang tulus ingin membimbing. ##

(Ads)

PERINGATAN: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial dan dikomersilkan tanpa seizin redaksi.

Pos terkait

banner 468x60 ____________________________________________banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *